Cinta Seorang Pengganti

Cinta Seorang Pengganti
Bagaimana jika aku yang membukanya?


__ADS_3

"Kau tidak ingin ku bantu?" tawar lelaki tampan ini.


"Mau, tentu saja mau," jawabku cepat, secepat kilat secepat hatiku yang mulai jatuh, jatuh pada suami yang hatinya masih milik sahabatku Nikayla.


Apa aku salah dalam hal ini? Aku rasa tidak, yang salah itu Nika yang telah memberi ruang untuk perempuan lain menikmati pemandangan manis dari kekasih hatinya ini.


Setelah kejadian di ruang laundry, aku dan Bang Dev semakin akrab, aku merasa dia telah kembali pada sikapnya yang dulu, hangat pada siapapun.


Kami cukup beradaptasi sekarang, tinggal satu rumah dan bertemu setiap hari meski Bang Dev masih sering keluar malam dan pulang sudah larut, aku merasa tidak berhak tahu urusannya meski aku sangat penasaran apa yang ia lakukan hingga larut.


Aku beruntung sekali bisa menikah dengan pria yang berprofesi sebagai dosen, apartemen ini memiliki satu ruangan kecil yang ku sebut sebagai perpustakaan mini, semua buku yang ku butuhkan untuk mengerjakan tugas ada di sini, jika dulu aku harus bolak balik ke perpustakaan umum untuk sebuah buku yang ku perlukan.


Aku berusaha mengambil satu buku yang letaknya lumayan tinggi, aku tidak bisa menggapainya, aku butuh untuk ku bawa ke kampus hari ini.


"Apa kau butuh bantuan?"


"Oh, Bang Dev...."


Aku menoleh pada pria yang mendekati itu, lagi-lagi jantungku berdebar kencang seperti orang habis lari maraton. Oh Tuhan, aku tidak kuat lagi menahan gejolak rasa ini.


Nika, kau dimana?


Lelaki itu menggapai buku yang ku maksud hanya dengan satu tangannya.


"Terimakasih, aku akan membawanya ke kampus apa boleh?"


Aku menggigit bibir bawahku takut akan jawabannya jika saja Bang Dev tidak memperbolehkan aku meminjam buku itu keluar.


"Kau boleh meminjam semua buku di sini, boleh juga untuk kau pinjam ke kampus, temanmu juga boleh kemari," jawab Bang Dev tersenyum.


"Benarkah, terimakasih Bang Dev kau baik padaku."


Tentu saja aku heboh oleh jawaban tak terduga dari Bang Dev, tanpa sadar aku memeluknya dengan gemas, aku sungguh senang sebab mendapatkan buku untuk tugas kuliah itu cukup mengeluarkan modal, sedang ini semuanya lengkap bahkan lelaki ini boleh Susan dan Rania juga kemari.


Aku segera melepas pelukan ketika pikiranku tersadar apa yang baru saja aku lakukan ini tidaklah sopan, main peluk saja. Oh aku malu sekali rasanya.


Bang Dev menatapku penuh arti hingga tanganku belum benar-benar melepaskannya, kami cukup lama saling melempar tatapan dalam jarak yang sangat dekat, benar saja detak jantungku kembali tidak normal.

__ADS_1


Aku salah tingkah, ingin segera menjauh namun diluar dugaan antingku tersangkut sweater yang dipakai Bang Dev saat ini.


"Aaah.... Antingku," aku merasa kesakitan.


"Bagaimana ini?" tanya Bang Dev bingung.


"Aku tidak bisa melepasnya Bang Dev, aku tidak bisa lihat."


"Oke baiklah, kau tenang dulu.... Diam dan biarkan aku yang melepaskannya." Aku mengangguk saja, daun telinga ku sudah mulai sakit karena terus tertarik ke arah sweater. Bang Dev mencoba melepasnya dengan perlahan, dan itu berhasil. Aku lega sekali.


"Terimakasih, maafkan sikapku yang kurang sopan," kata ku tidak enak hati telah lancang memeluknya sepagi ini. Lelaki itu menjawab dengan senyuman, dimana bibirnya yang sedang mengembangkan senyum itu kembali membuat darahku berdesir.


"Oh, maafkan aku menyita waktu mu Bang Dev, aku akan berangkat sekarang takut bisnya kelewatan," pamitku agar segera pergi dari sana karena aku butuh ruang luas untuk bernapas.


"Pergi bersama?"


"Apa?"


"Kita bisa pergi bersama, kau akan ku turunkan tidak jauh dari kampus," jawabnya lagi.


Aku mengangguk cepat, siapa yang akan menolak kesempatan ini bukan, aku bahagia dalam hati.


Bang Dev mengemudi fokus ke depan, sedang aku fokus memperhatikan wajahnya dari samping.


"Kenapa kau sejak tadi hanya menatapku saja?" Suara Bang Dev memecah keheningan, kata-katanya mempu membuat wajahku merah karena malu sudah ketahuan curi-curi pandang.


"Memangnya tidak boleh?"


"Nanti kau bisa jatuh cinta padaku," jawabnya terkekeh seraya melirik ku sekilas.


"Jika iya bagaimana?" Pria itu menoleh lagi, kali ini wajahnya tampak murung.


"Kau akan kecewa nantinya."


"Bukankah dalam setiap percintaan, kecewa itu adalah hal yang biasa?" Aku mulai bicara serius, ku tatap pria itu dengan lama.


"Jika bisa janganlah jatuh cinta padaku."

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Apa karena kau masih mengharapkan Nika kembali?" Bang Dev memelankan laju mobilnya.


"Entahlah, jika tidak pun yang pasti aku cukup hancur sekarang, tidak mudah membuka hati kembali."


"Bagaimana jika aku membukanya?" Aku benar-benar nekad membicarakan ini tanpa rasa malu.


Hening, Bang Dev diam saja, tidak ada jawaban pasti dari bibirnya. Itu cukup membuatku berbesar hati mana tahu pria ini boleh aku melakukannya.


Namun pikiranku terbantahkan saat ia bilang, "Sebaiknya tidak, kau gadis yang baik Kayla, kita akan terbebas dari pernikahan ini tidak akan lama lagi." Bang Dev berkata seraya menatapku serius, sekarang giliran aku yang terdiam.


"Aku jatuh cinta padamu Bang Dev." Entah dirasuki oleh apa, sungguh berani aku mengatakan soal cinta sepagi ini. Benar saja Bang Dev menghentikan mobilnya, membuatku heran.


"Kenapa berhenti?"


"Karena kita sudah sampai," jawab bang Dev singkat.


Aku melihat sekeliling, benar kami telah sampai seberang jalan tidak jauh dari kampus, aku tahu aku harus turun sekarang agar tidak ada yang melihat.


Aku menghela napas kecewa, baru saja menyatakan cinta belum juga mendapat tanggapan tapi kami harus berpisah sekarang, entah kapan aku bisa punya kesempatan bicara banyak lagi seperti ini.


Aku bersiap untuk turun, namun saat membuka sabuk pengaman entah kenapa itu tidak bekerja. Aku kepayahan membukanya.


"Apa kau grogi? Tekan ini dulu!" Kata-kata Bang Dev membuat ku malu, pria itu berhasil membuka sabuk pengaman ku tanpa kendala. Aku menatap wajahnya dari dekat, aku yakin ini adalah perasaan cinta.


"Aku tidak sedang grogi, tapi jatuh cinta jadi sedikit lupa akan banyak hal termasuk membuka sabuk pengaman," jawabku menangkap tangan Bang Dev lalu mengecup bibirnya dengan berani.


"Aku akan turun, terimakasih sudah memberiku tumpangan suamiku." Aku berkata begitu entengnya hingga lelaki itu yang tampak salah tingkah sekarang, dia sangat menggemaskan tidak heran aku bisa jatuh cinta secepat ini.


Tidak ada jawaban darinya, aku merapikan tasku lalu ku buka pintu mobil, aku keluar seraya melambai tangan pada Bang Dev.


Aku berjalan kaki menyeberang ke arah kampusku berada, tidak sengaja ku lihat kak Zian menghampiri ku.


"Kak Zian?"


"Hei Kayla, kau datang sepagi ini?" Aku mengangguk, "Iya, kami ada kelas pagi. Kau dari mana?"


"Aku begadang semalam, aku butuh kopi kau mau? Ini belum ku minum, jika mau aku bisa membelinya lagi," jawab Kak Zian menyodorkan aku satu gelas kopi yang ku yakini baru ia beli di mini market tidak jauh dari sini.

__ADS_1


"Tidak, terimakasih aku tidak ngopi Kak Zian" Kami bicara dan berjalan bersama menyeberangi jalan dengan tujuan yang sama, namun baru ku sadari mobil Bang Dev bahkan tidak bergerak dari tempat beliau menurunkan ku tadi, aku menoleh ke arah itu sekilas, lalu ku lanjutkan niat melangkah bersamaan dengan Kak Zian sang idola.


__ADS_2