Cinta Seorang Pengganti

Cinta Seorang Pengganti
Tidur bersama lagi


__ADS_3

"Apa kau sering direndahkan oleh teman di kampus?" tanya Dev saat mereka menikmati angin malam sambil berjalan menyusuri sebuah festival jajanan di salah satu taman tidak jauh dari hotel Golden Luxury. Kayla baru saja menceritakan kejadian yang ia alami beberapa saat lalu ketika di hotel.


Gadis itu menggeleng sambil terus menyeruput es boba yang baru saja mendinginkan tenggorokan serta hatinya.


"Tidak juga, aku kuliah untuk mencari ilmu bukan untuk mencari masalah. Hanya saja Kak Weni memang seperti itu adanya, dia bisa cemburu pada siapa saja yang didekati oleh Kak Zian."


"Zian ketua BEM kampus kita maksudmu?"


"Iya, mereka teman dekat sudah lama," jawab Kayla lagi.


Dev menatap Kayla tidak suka.


"Kenapa melihatku seperti itu?"


Dev hanya diam. "Apa kau cemburu aku dekat dengan Kak Zian?" goda Kayla membalas tatapan pria itu dengan senyum menggoda.


"Tidak, kenapa harus cemburu? Jangan mengada-ada," bantah Dev kesal.


"Gengsi," sahut Kayla terkekeh.


Dev melirik istrinya yang kembali pada mood awalnya, sibuk menghabiskan es boba, lama Dev memandangi wajah gadis itu yang tertiup angin hingga helai rambut beberapa menutupi wajahnya.


Dev tergerak menyingkirkan rambut-rambut yang mengganggu dari wajah Kayla ke belakang telinga gadis itu. Sontak membuat Kayla menatap Dev karena perlakuan manis itu hingga mereka terlibat saling tatap cukup lama.


"Ingin makan dulu atau?" cetus Dev membuyarkan aksi tatap menatap diantara mereka.


"Ah, aku sudah kenyang dengan boba ini," jawab Kayla memperlihatkan gelas bobanya yang telah kosong.


"Pulang?"


Kayla mengangguk, Dev langsung meraih tangan gadis itu lagi tanpa berkata lebih dan menariknya pelan berjalan menuju mobil mereka berada.


Kayla tersenyum, dadanya semakin berbunga oleh sikap suami kontraknya itu. Andai Nika bisa ia gantikan di hati Dev, mungkin ini adalah suami dan pernikahan impian baginya.


Betapa tidak, Dev memanglah sosok lelaki baik dan bertanggung jawab, tidak ada cela sedikitpun, tampan dan gagah, kaya dan punya pekerjaan yang baik, terlebih Kayla sudah mengenal baik Dev sejak dulu dan sekarang mereka tinggal satu atap dalam pernikahan sah meski hanya sebuah kesepakatan saja.


Namun satu hal, nama Nikayla seolah membuat Kayla semakin sulit mendapatkan hati suaminya itu.


Mereka kembali hening ketika dalam mobil larut dalam pikiran masing-masing, perjalanan terasa singkat menuju apartemen.


"Kita sudah sampai."


Diam, Dev yang hendak membuka sabuk pengamannya tertunda saat melirik Kayla tidak bergerak di sampingnya.


"Kayla! Apa kau tidur?"


Kayla yang semula menghadap jendela mobil perlahan bergerak sambil menatap Dev dengan gelengan kepala, rupanya gadis itu larut dalam termenung.


"Aku rasa kau mengantuk," cetus Dev yang sudah membuka pintu mobil untuk istrinya.


Kayla tersenyum tipis sambil menurunkan kaki dari sana, wajahnya tampak murung.


"Kau kenapa?"


"Aku hanya bingung, sikapmu sungguh manis dan baik padaku malam ini Bang Dev. Bodohnya aku masih sangat berharap sikapmu ini suatu bentuk rasa padaku."


Dev terkekeh, "Kenapa lagi kau ini, aku rasa kau sudah setengah tidur. Ayo!" Dev meraih tangan gadis itu setelah memastikan mobilnya terkunci dan aman.


Mereka berjalan masuk gedung apartemen menuju unit yang mereka tinggali saat ini.

__ADS_1


Saat ingin berganti pakaian, terdengar Kayla berteriak memanggil suaminya.


"Bang Dev!"


"Hei ada apa teriak-teriak? Aku mendengarmu Kayla." Dev datang ke kamar mandi.


"Tolong bantu buka resleting gaunku, tangan mungil ini tidak sampai," perintah Kayla sambil memberikan punggungnya pada sang suami.


Deg. Dev mendadak kaku di tempat.


Punggung yang sudah separuh terbuka terlihat begitu indah dan menggoda imannya saat ini.


"Bang Dev?" tegur Kayla yang sudah menunggu.


"Iya." Jawab Dev gugup sendiri, ia segera membantu Kayla.


Darahnya berdesir, napasnya seolah tertahan saat jarinya menurunkan resleting gaun yang kian menampilkan punggung putih dan mulus milik istrinya itu.


Kian ke bawah, hingga sampai pinggang. Dev merasa tersiksa oleh pemandangan indah, belum lagi matanya mengarah pada leher mulus nan kian memberi kesan wangi saat Kayla membawa rambutnya ke depan.


Pantulan wajah Kayla di cermin yang sedang menghadap ke bawah membuat Dev memejamkan matanya sejenak menahan hasrat yang tiba-tiba muncul.


Ingin rasanya bibirnya berlabuh menyusuri leher hingga punggung indah itu sampai bawah, ini baru punggung Kayla saja yang terekspos sudah membuat ia menegang lalu bagaimana ia bisa menahan gejolak kejantanannya jika Kayla menampilkan hal yang lebih dari ini pikir Dev.


Ah, otaknya mendadak buntu.


"Bang Dev!"


"Ah maaf, sudah selesai. Aku akan keluar!" Dev langsung berlalu dari sana tanpa menunggu tanggapan Kayla.


"Kenapa dia? Apa dia tergoda dengan punggungku?" gumam Kayla sambil membuka gaun keseluruhan.


"Aku sudah cantik dan menarik namun belum terlalu seksi saja, tunggu saja Bang Dev, kau akan jadi milikku sebentar lagi."


Kayla tersenyum puas sambil meliuk seksi di depan cermin kamar mandi, ia mengingat Dev tidak suka ia pakai pakaian terbuka jika di tempat umum, itu artinya boleh terbuka di depannya saja begitu pikir Kayla.


"Berusaha itu harus maksimal, Bang Dev tidak boleh dimiliki wanita lain. Aku istrinya, sah tidak ada istilah kontrak dalam pernikahan Bang Dev. Kita punya kewajiban untuk menyatu di atas ranjang."


Mendengar kata ranjang dari mulutnya sendiri membuat pipi Kayla memerah malu sendiri.


"Ranjang? Oh God..... Ini memalukan, tapi harus ku lakukan, jerat dia dalam cinta dan keseksian di atas ranjang."


Kayla terkikik geli sendiri oleh pikiran nakalnya.


"Bang Dev," panggil Kayla saat mendekati Dev di atas sofa.


"Hmmm, kenapa?" tanya Dev pada istrinya yang telah memakai piyama tidur.


"Bisakah kita tidur seperti semalam?"


Dev terdiam dengan pertanyaan itu.


"Apa kau tidak takut padaku?"


"Kenapa harus takut? Kau suamiku!" tegas Kayla.


"Bagaimana jika aku tidak bisa menahannya, jangan lupa aku lelaki normal Kayla."


"Dengan senang hati aku akan melayani suamiku tercinta ini," sahut Kayla tanpa malu, ia maju langsung memeluk Dev tanpa basa basi.

__ADS_1


Membuat pria itu menarik napas dalam, bagaimana ia bisa menolak sekarang. Jika boleh jujur dalam hati Dev sungguh ingin menjamah tubuh istri yang sudah sah menjadi miliknya itu.


Namun satu hal, perasaannya pada Nikayla membuatnya enggan menyakiti gadis sebaik Kayla. Bagaimana jika perasaannya saat ini hanya sesaat saja, bukankah akan merusak dan menyakiti masa depan gadis itu nantinya pikir Dev.


Namun pelukan hangat dari seorang istri yang belum ia sentuh itu tidak mampu ia tolak saat ini.


"Baiklah, ayo tidur sekarang."


Dev mengajak Kayla berbaring, namun dicegah gadis itu.


"Kenapa tidak di ranjang saja?"


Dev terdiam lagi.


"Jangan di ranjang itu berbahaya," canda pria itu.


"Huh, apanya yang berbahaya. Disini sempit."


"Bukankah kau suka sempit dan mengambil kesempatan?"


"Benar juga, disini juga oke. Bisa pelukan hingga pagi," jawab Kayla enteng sambil merebahkan badan memeluk Dev dengan erat.


Ia tertawa dalam hati, untuk kedua kalinya Dev tidak menghindar lagi untuk tidur bersama, bukankah ini perkembangan yang pesat pikir Kayla.


"Bagaimana jadinya jika aku memakai pakaian tidur berwarna biru muda nan seksi sambil berpelukan seperti ini, aku yakin Bang Dev akan panas seketika," gumam Kayla dalam hati sambil berhayal yang mesum.


Ia membenamkan wajahnya di dada Dev karena menyembunyikan senyum malu dan wajah merahnya saat ini.


Dev terdengar menarik napas dalam, ia pun membalas dengan pelukan tak kalah erat, seperti semalam, tidak ia pungkiri bahwa tubuh mungil Kayla membuatnya ketagihan untuk saling berpelukan sebelum tidur.


"Bang Dev."


"Apa lagi Kayla?"


Kayla mendongak, memajukan bibirnya.


"Beri aku ciuman sebelum tidur," rengek gadis itu.


Dev berdecak, sikap seperti inilah bagaimana ia mampu menolak Kayla dalam waktu lama jika setiap hari gadis itu selalu menjerat hatinya yang kian dilema.


Cup. Dev menuruti kemauan Kayla tanpa membantah. Sebuah kecupan mendarat sempurna, lembut dan cukup lama.


Kali ini Dev merasakan hal paling lain dalam hatinya, getar itu memang ada. Perasaan cinta yang masih seolah semu oleh sebuah kenyataan dan obsesinya yang masih ingin mencari tahu keberadaan Nikayla agar menjelaskan semuanya.


Perasaan yang coba ia elakkan beberapa hari ini. Ia tidak ingin menyakiti Kayla, itu saja.


"Bang Dev."


Dev menatap mata indah nan hitam milik Kayla tanpa berkedip.


"Aku mencintaimu."


"Aku mendengarnya," sahut Dev sambil membawa Kayla dalam pelukannya lagi.


Kayla bungkam, ia tahu Nikayla masih jauh lebih menang darinya, Dev mencintai dan menginginkan Nikayla dan bukan dirinya.


Kayla mendongak lagi, kali ini ia raih dan kecup bibir Dev bahkan lebih lama dari tadi.


"Selamat tidur Bang Dev."

__ADS_1


__ADS_2