Cinta Seorang Pengganti

Cinta Seorang Pengganti
Hasrat


__ADS_3

Kayla bangun, sambil menguap ia melihat suaminya telah meninggalkannya di sofa sendirian.


Sudah dua kali Kayla bangun kesiangan sejak tidur terlalu lelap dalam dekapan Dev. Ia tersenyum senang, Dev mulai terbuka padanya.


Baru ingin bangun dari sana, ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Matanya berbinar saat melihat siapa pemanggil tersebut.


"Mama," seru Kayla hampir berteriak, ia menerima telepon dari sang Mama dengan perasaan rindu yang membuncah.


Namun setelah beberapa saat mereka mengobrol, air muka Kayla langsung berubah sedih. Tanpa menunggu lama ia segera ke kamar mandi setelah mengakhiri percakapan dengan sang ibunda.


Setelah mandi ia berpakaian lengkap, dan segera keluar kamar berniat mencari keberadaan Dev.


"Bang Dev!" panggil Kayla pada suami yang sedang sibuk di meja kerjanya di ruang perpustakaan.


"Kau sudah bangun?" sahut Dev tanpa menoleh, ia terlalu fokus pada layar ponsel sambil membalas sebuah pesan.


Kayla mendekat, "Iya, Bang Dev aku minta izin keluar hari ini. Ibuku sakit, aku ingin pulang menjenguknya, apa boleh?" ucap Kayla pelan, hatinya gusar saat mendapat kabar bahwa Mamanya tengah sakit seorang diri.


Dev mengangguk tanpa menoleh lagi, entah kenapa ia seolah disihir oleh layar ponsel agar tidak berpaling ke lain arah, padahal istrinya sedang bicara.


Melihat sikap tidak acuh Dev saat ini, membuat Kayla berkecil hati. Ia izin dengan sopan, bicara dengan sopan pula kenapa pria itu tidak peduli bahkan enggan menatapnya.


"Bang Dev," tegur Kayla sekali lagi.


Barulah Dev menatap gadis itu dengan raut bingung.


"Iya Kayla, ada apa? Maaf aku sedang tidak fokus, kau ingin keluar silahkan, tidak perlu meminta izinku," ujarnya pada Kayla yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Bukan hal penting Bang Dev, maaf mengganggu kesibukanmu. Aku mungkin akan menginap di rumah Ibuku sampai beliau membaik."


Kayla pergi setelah mengatakannya, ia kecewa atas sikap Dev pagi ini, pria itu belum juga punya simpati padanya, bahkan terkesan tidak peduli atas apa yang ia katakan tadi. Entah dimana fokus Dev pagi-pagi seperti ini hingga ia bicara sampai tidak mendengar.


Kayla pulang ke rumah Ibunya menggunakan bis umum.


"Mama," panggil Kayla pada Ibunya yang sedang duduk di kursi teras rumahnya.


Wajah wanita belum paruh baya itu cukup pucat, menggambarkan bahwa kondisinya sedang tidak sehat.


Kayla memeluk Ibunya sambil menangis, rindu bercampur cemas menjadi satu.


"Hei tenanglah, Mama hanya demam biasa Kayla. Kau berlebihan, ayo sudah jangan menangis," kekeh perempuan yang masih cantik dan awet muda itu gemas saat mendapati putrinya menangis seperti anak kecil.


"Mama membuatku cemas," rengek gadis semata wayang itu sambil mengelap airmatanya.


Mereka saling melepas rindu setelah satu minggu tidak bertemu, Kayla yang sudah pandai memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah sejak remaja itu begitu telaten merawat dan memanjakan Ibunya.


Hingga Ibu Kayla bisa beristirahat penuh saat kondisi badannya belum sehat. Kayla mengusap lembut tangan ibunya yang telah terlelap.


Ia teringat suaminya, seakan lupa akan rasa kecewa tadi pagi, gadis itu memutuskan untuk memberi pesan pada Dev sekedar memberi kabar.


Namun baru juga memegang ponsel, lebih dulu pintu rumahnya diketuk oleh seseorang yang datang.


Kayla keluar kamar, membuka pintu.


"Hai."


Kayla terkejut bukan main, baru saja ia ingin memberi kabar pada suaminya, ternyata pria itu berdiri nyata di hadapannya saat ini.


"Bang Dev?"


"Kenapa terkejut? Tidak baik membiarkan tamu di ambang pintu."


"Ah, maaf ayo silahkan masuk!" Ajak Kayla yang masih tidak percaya.

__ADS_1


Dev ikut masuk sambil memendarkan pandangan ke segala arah.


"Bang Dev kenapa bisa kesini?"


"Aku kebetulan lewat, jadi aku mampir bawa ini," jawab Dev sambil memberikan sebuah kantong makanan pada istrinya yang hanya memakai kaos kebesaran dan hot pant saja.


Kayla menerimanya, "Terimakasih Bang Dev, ayo duduklah, maaf rumahku tidak besar."


"Kau ini bicara apa, mana Ibumu?"


"Mama sudah tidur, dia demam. Maaf aku akan menginap disini sampai Mama membaik," jawab Kayla murung.


"Aku mengerti. Ayo kita makan, aku lapar."


"Apa?"


"Kau tidak ingin memberi suamimu makan?"


Kayla bingung sendiri, membuat Dev merasa gemas. Ia mengusap kepala Kayla menyadarkan gadis itu.


"Bang Dev serius ingin makan disini?"


"Kenapa tidak? Ayo aku lapar!"


"Huh sulit dipercaya," gumam Kayla mendahului Dev menuju dapur.


Pria itu terkekeh, ia mengikuti langkah Kayla dari belakang.


Dev menatap istrinya tanpa berkedip saat Kayla melayaninya di meja makan, dapur sederhana namun dihiasi wajah cantik dari seorang perempuan polos yang kini menjadi istri kontraknya.


Dev makan masakan Kayla dengan lahap, jika di apartemen ia sering makan diluar dan sering mengabaikan apa yang Kayla lakukan di dapur, namun malam ini benar-benar berbeda. Dev tidak tahu kenapa ia bersikap seperti ini.


Mendengar Kayla akan menginap di rumah Ibunya saja membuat pria ini pusing, ia tidak mau tidur seorang diri malam ini, entah karena ia sudah terbiasa tidur ditemani gadis itu atau tidak hanya Dev yang bisa merasakan perasaannya.


Entah kenapa Dev menatap Kayla begitu berbeda malam ini, ia menyembunyikan kekaguman pada gadis pantang menyerah itu. Hidup Kayla tidak mudah, berbanding terbalik dengan kehidupannya yang serba ada bahkan mewah.


"Bang Dev, ini sudah jam sepuluh. Kau belum mau pulang? Aku sudah mengantuk."


"Aku tidak bilang akan pulang, aku juga akan menginap disini."


"Apa?"


"Kenapa tidak boleh?"


"Bukan seperti itu, tapi kau mau tidur dimana? Kamarku kecil, kasurnya juga ukuran single. Sempit dan tidak nyaman untukmu," tandas Kayla lagi.


Bukannya menanggapi malah Dev berjalan begitu saja melewati istrinya menuju sebuah kamar. Kayla tergagap, ia segera menyusul.


"Ini kamarmu?"


Kayla mengangguk polos, Dev tersenyum lalu melirik istrinya itu sekilas setelah matanya mengedar ke seluruh sudut kamar. Kamar yang hanya berukuran kecil itu hanya memuat ranjang berukuran single, terdapat lemari pakaian dua pintu dan sebuah meja belajar.


Benar-benar sederhana namun rapi dan wangi. Dev tidak berhenti tersenyum melihat semua sudut kamar, suasana tenang dan nyaman.


Pria itu naik ke ranjang lalu berbaring tanpa basa basi, membuat Kayla heran.


"Kasurnya kecil, mungkin tidak nyaman untukmu," ucap Kayla merasa malu.


"Aku rasa tidak buruk juga," sahut Dev menahan senyum menatap Kayla yang malu-malu.


"Baiklah, terserah kau saja."


Kayla ingin beranjak namun Dev menariknya hingga duduk di tepi ranjang. "Bang Dev!" kesal Kayla yang hampir terjatuh.

__ADS_1


"Kau mau kemana?"


"Aku akan tidur di kamar Mama saja, Bang Dev bisa beristirahat sekarang."


"Tidak, ranjang ini masih muat. Bukankah kau suka mengambil kesempatan untuk tidur sempit-sempitan denganku?" cegah Dev saat Kayla ingin berdiri.


Kayla melirik suaminya antara kesal dan girang bahwa lelaki itu memberi akses tidur bersama lagi malam ini.


"Benarkah?" tanya Kayla seolah tidak percaya.


Dev meraih tubuh mungil itu hingga berbaring di sampingnya, mendekap erat Kayla hingga hilang dalam kungkungan lengan besar pria itu. Mendapat perlakuan yang manis, Kayla tidak bisa menyembunyikan raut bahagia dan wajah merahnya dalam dekapan sang suami.


"Mari kita tidur," ucap Dev setelah mengecup puncak kepala sang istri.


Gadis itu mendongak, menatap Dev sambil berpikir dan menebak bahwa suaminya perlahan jatuh juga padanya, jika tidak ada rasa tidak mungkin Dev akan memeluknya erat seperti sekarang.


"Bang Dev."


"Hmmm."


"Kau selalu membuatku salah paham."


"Salah paham apa?" sahut Dev membalas tatapan mata indah istri kontraknya itu.


"Sikapmu, mengaku saja jika kau juga jatuh cinta padaku!"


Dev terdiam.


"Tidak bisa menjawab, apa kau ragu? Kita ini suami istri Bang Dev, dalam pernikahan itu wajar jika saling jatuh cinta meski kita orang asing sebelumnya."


"Entahlah," jawab Dev ambigu.


Kayla mengerucutkan bibirnya ke depan, selang beberapa detik kecupan bibir pun melayang dari sang suami.


"Dasar gengsi, mengaku cinta saja susah sekali," rutuk Kayla sambil membalas kecupan Dev secara bertubi-tubi.


Pria itu tersenyum, entah apa yang ada dalam pikirannya, tangannya tergerak membelai garis wajah Kayla, menyibak anak rambut yang menutupi kening istrinya dengan perlahan. Sorot matanya menyiratkan makna bahwa ia menginginkan gadis itu seperti Kayla menginginkannya.


Namun seolah terhalang oleh hatinya yang masih mengganjal tentang cintanya pada Nikayla yang sampai saat ini ia tunggu kabar keberadaannya.


"Aku mencintaimu Bang Dev, andai pelukan kita ini nyata, nyata dalam hubungan yang sebenarnya bukan perjanjian kontrak semata."


Kayla menyembunyikan matanya yang ingin basah seraya membenamkan wajahnya di dada sang suami. Ia tahu cinta Dev pada sahabatnya begitu dalam hingga membentengi perasaan pria itu hingga ia sulit mencapainya padahal mereka sudah berdekatan seperti sekarang.


Dev hanya diam, ia mengeratkan pelukan lalu mengucapkan selamat tidur pada Kayla yang semakin hilang dalam dekapannya.


Kemudian hening dalam lelap mereka, hingga dini hari menjelang Dev tiba-tiba terbangun, senyumnya terkembang menatap wajah polos Kayla yang terlelap.


Matanya mengarah pada kaos gadis itu yang terbuka bagian perut, pemandangan yang mampu membangkitkan gairah kelelakian Dev saat ini.


Perut rata dan mulus, lalu matanya tertuju pada paha dan kaki nan jenjang yang ditampilkan oleh istrinya yang memang hanya memakai boxer saja. Dev tampak menelan ludah, ia perlahan melepaskan Kayla agar ia bisa bernapas dengan baik.


"Ya Tuhan," gumam Dev menggelengkan kepalanya.


Hasratnya tiba-tiba bangkit, matanya kembali mengarah pada dada yang tertutup kaos meski kebesaran namun tetap saja lekuk buah dada istrinya terlihat sempurna.


Tangannya tergerak meraba perut gadis itu, entah kenapa otaknya memberi perintah mesum agar tangan itu naik ke atas dada, belum juga mencapai dada namun efeknya sungguh membuat Dev merinding atas bawah.


Napasnya terasa memburu, ia benar-benar ingin menjamah tubuh sempurna Kayla namun alangkah kesal dirinya saat hatinya berkata lain.


"Ah sial, aku benar-benar tidak tahan Kayla. Tapi aku tidak bisa."


Umpat pria itu sambil berdiri menjauh. Lama ia menoleh Kayla yang tergolek seorang diri meringkuk mulai kedinginan. Dev kembali ke ranjang, ia dekap lagi gadis itu dalam kehangatan, ia kecup bibir Kayla pelan dan lembut, hatinya bergetar seolah rasa itu memanglah ada bukan hanya nafsu belaka.

__ADS_1


__ADS_2