
"Hamil dengan pria lain itu cukup memalukan, padahal telah bertunangan dan akan menikah. Aku cukup kecewa pada Nika, Rania benar kau istri Bang Dev sekarang, ayo ambil hatinya lupakan Nika dan bisa saja pernikahan kalian menjadi pernikahan yang sesungguhnya," sambung Susan manggut-manggut.
"Ha ha ha, itu tidak mungkin aku dibayar dalam hal ini jadi jangan pikir yang macam-macam. Ayo masuk," ajakku seraya mendorong tubuh Susan masuk ke kelas.
Kami duduk di kursi yang biasa kami tempati, ku lirik sebuah kursi yang mana biasanya diisi oleh Nikayla sahabat kami tercinta.
Ada perasaan aneh di hatiku, lain sekali rasanya. Ingin ku tahu dimana keberadaan Nika saat ini, kenapa dia menghilang begitu saja? Benarkah dia hamil? Entah kenapa aku tidak percaya gosip itu hingga sekarang, sebab bersahabat selama kurang lebih dua tahun cukup membuat kami tahu satu sama lain.
Ingin bertanya pada keluarganya tapi tidak punya keberanian untuk itu. Aku, Rania dan Susan saling menoleh satu sama lain. Aku tahu kami merasa kehilangan satu dari empat sekawan yang pertemanan itu dimulai bahkan saat OSPEK dulu.
"Apa kalian tahu tentang kabar terbaru Nika sekarang?"
"Tidak," jawab mereka berbarengan sambil geleng kepala lesu.
Aku sibuk membuka buku, tidak sadar jika dosen sudah masuk. Kami baru menginjak dua minggu memasuki semester empat ada banyak pelajaran baru yang masuk dalam daftar mata kuliah semester ini.
Aku mengangkat wajah menatap ke depan saat Rania mencolek lenganku, pemandangan di depan cukup membuatku terkejut bahwa dosen yang masuk saat ini adalah suamiku.
"Bang Dev tidak bilang jika dia mengajar di kelas ku juga," aku membatin saat menatap pria yang mulai memperkenalkan diri itu. Lelaki yang telah resmi menjadi suamiku itu tampak cuek, Bang Dev benar-benar profesional dia bahkan tidak melirik ke arahku sekali pun.
Hari-hari berikutnya.
Kami masih tetap sama, hidup seolah berjalan masing-masing, aku tidak mengganggu kegiatan maupun urusan Bang Dev.
Pria itu juga sering pulang malam, entah ia kemana aku tidak berhak untuk tahu. Di sini seperti rencana aku menjalani hari-hari seorang istri bayaran saja.
Aku merasa beruntung punya Mama yang mendidikku sedemikian rupa, hingga jika hidup terpisah seperti ini aku mampu mandiri.
Aku cukup pandai memasak, aku anak tunggal jika Mama pergi bekerja akulah yang mengambil alih pekerjaan rumah agar Mama tidak terlalu berat pekerjaannya. Seperti halnya sekarang, aku tinggal bersama Bang Dev hingga akulah yang mengurus apartemen ini sejak Bang Dev lebih sering keluar.
Aku tengah memasak saat ini, berdiam diri itu membuatku lapar dan lapar saja. Meski aku sering masak, namun Bang Dev jarang ingin makan masakanku mungkin karena dia tidak menyukainya atau pun tidak terbiasa makan dari masakan sederhana, aku tidak peduli hal itu.
Aku mendengar suara langkah kaki mendekat, ku balik badan ternyata Bang Dev telah berada di hadapanku saat ini.
Pria itu menatapku cukup lama sebelum melangkah mendekat, aku gugup luar biasa. Ya Tuhan, suamiku tampan dan dingin membuatku kehilangan akal sekarang, terus penasaran atas sikapnya yang cuek padaku.
Aku meremas kuat tanganku yang berkeringat dingin saat pria itu semakin mendekat ke arahku, mata kami tidak terputus saling memandang dalam sorot mata penuh arti.
__ADS_1
"Bang Dev?"
"Bang Dev? Kau sudah pulang?"
"Iya," jawabnya singkat melewatiku lalu ia membuka kulkas meraih minuman dingin di sana, aku menelan ludah kasar saat menatap betapa menggodanya pria itu saat minum seperti kehausan, menggemaskan.
"Sudah makan?"
Aku mencoba berbasa basi untuk menghilangkan kegugupanku, entah kenapa aku selalu gugup jika berdekatan dengan Bang Dev sekarang.
Lelaki itu mengangguk saja tanpa menjawab, namun dia duduk di meja makan menatapku lama.
"Ya Tuhan.... Kenapa jadi tremor seperti ini," aku bergumam kecil saat melihat tanganku gemetar ketika mematikan kompor.
"Ada yang bisa ku bantu?" tanya ku lagi.
"Apa yang kau lakukan andai kau berada di posisiku?"
Tiba-tiba pertanyaan itu muncul dari bibir seksi Bang Dev.
"Apa?"
"Kalian bersahabat cukup lama, apa yang tidak ku ketahui dari Nikayla?"
Aku merasa sesak saat mendengar nama itu.
"Aku rasa Bang Dev punya jawabannya, kau tahu Nika lebih dari siapapun."
"Tapi dia tega melakukan ini padaku."
"Terkadang yang terjadi belum tentu hal yang sebenarnya, kalian hanya perlu bertemu dan bicara," jawabku pelan.
Bang Dev meraih tanganku yang sedingin es ini, aku malu sekarang. Ketahuan sekali jika aku gugup.
"Kau gadis yang baik Kayla, maaf kau harus melewati ini, aku harap segera bertemu dengan Nikayla agar tidak ada tanda tanya lagi diantara kita semua." Aku mengangguk saja, segera ku tarik lagi tanganku yang telah kaku di genggamannya.
"Maaf, apa kau gugup? Kenapa tanganmu jadi sedingin ini?"
__ADS_1
Blush, pipiku benar-benar merah karena malu.
"Bang Dev aku melupakan sesuatu," kataku cepat, segera ku berlari ke arah belakang tempat khusus mencuci pakaian ketika aku mencium bau wangi yang berasal dari sana.
Benar saja, busa melimpah dari arah mesin cuci.
Aku menepuk kening baru teringat bahwa botol deterjen cair yang ku taruh di atas mesin cuci tadi tanpa penutup. Aku yakin botol itu tumpah dan jatuh ikut tergiling dengan pakaian hingga menghasilkan busa yang melimpah bahkan hampir kaluar dari area laundry.
Aku bergerak cepat untuk mematikan mesin cuci, namun diluar dugaan lantai cukup licin oleh busa sabun yang telah memenuhi ruang loundry dan aku terpleset.
"Ahhhhhh."
Aku merasa tubuhku melayang, namun tidak terhempas ke lantai melainkan tubuh Bang Dev yang menahanku hingga kami sama-sama jatuh karena lantai benar-benar licin.
Kami saling menoleh, tawa kami pecah seketika.
Bang Dev membantuku berdiri, tanpa sengaja aku sedikit terhuyung ke arahnya hingga tubuh kami cukup dekat, tidak tidak maksudku sangat dekat.
Wajahnya tampan, bibirnya seksi terlebih jambang tipis milik pria itu cukup membuatku lemah iman saat ini. Dadaku mendadak kurang oksigen, terasa berat saat mengambil napas.
"Kau tidak apa-apa?"
"Tidak, aku rasa aku tidak baik-baik saja setelah ini," jawabku ambigu, entahlah aku menjawabnya asal saja dengan mataku tidak beralih dari wajah tampan suamiku ini.
Aku merasakan sentuhan tangannya menuntunku berdiri tegak, aku merasakan jatuh ke pelukannya beberapa saat lalu.
"Ini gila," gumam ku pelan.
"Apa?"
Bang Dev mengernyitkan dahi ketika mendengar ucapanku.
"Berdosakah jika jatuh cinta pada pria yang hatinya milik perempuan lain?"
"Hei bangun Kayla, kau ini bicara apa? Aku rasa kepalamu tidak terbentur lantai tadi, kenapa bicaramu mendadak seperti ini?" Bang Dev terkekeh seraya mengusap kepalaku.
Aku menghela napas dalam, aku tersenyum menatapnya penuh arti, aku merasa hatiku tidak baik-baik saja saat bersama pria ini, terpikir olehku akan niat jahat untuk menikung sahabatku sendiri. Benar kata Rania dan Susan, ternyata akulah yang lemah iman dalam hal ini.
__ADS_1
"Ayo kita bersihkan," ajak Bang Dev menyudahi lamunan panjangku.
"Kita?"