
Di kampus.
Dev menurunkan Kayla dari mobilnya, bukan di tempat biasa melainkan tepat di parkiran mobil kampus yang mana bisa disaksikan oleh semua mahasiswa bahwa Kayla sedang turun dari mobil dosen tampan yang mereka tahu suami orang lain.
"Bang Dev, apa tidak menjadi suatu hal jika aku turun di sini?" Tanya Kayla saat menyadari mobil yang membawanya sudah berada di parkiran kampus.
Suasana sedang ramai, jam para mahasiswa dan dosen datang untuk kuliah dan mengajar.
"Aku sudah tidak peduli, ayo turun!" Ajak Dev sambil membuka sabuk pengaman istrinya.
"Bukankah kau sendiri yang minta dirahasiakan tentang kita?" goda Kayla.
Dev tersenyum, ia mengecup bibir istrinya dengan lembut.
"Sudah tidak lagi, ayo aku harus bertemu mahasiswa bimbingan ku, pagi ini sudah buat janji."
Dev berkata santai sambil turun dari mobil, disusul oleh Kayla yang melihat sekeliling takut ia diperhatikan karena turun dari mobil Dev.
"Huh untung pada sibuk, jika tidak aku akan jadi pusat perhatian karena turun dari mobil ini," gumam Kayla setelah menyuruh Dev pergi lebih dulu darinya.
Kayla heran saat suaminya kembali ke belakang.
"Apa ada yang tertinggal?" Tanya Kayla heran.
Dev terkekeh, "Iya, hatiku!" Jawab Dev enteng sambil membuka lagi pintu mobilnya mengambil sesuatu dari dari sana.
Kayla melihat Dev menghampirinya lagi, "Apa?"
"Ponselku tertinggal," jawab Dev tersenyum sambil menunjukkan ponselnya
"Kau terlalu buru-buru," sela Kayla geleng kepala.
"Ayo jalan bersama."
"Tidak, kau pergi saja lebih dulu nanti banyak yang lihat," ucap Kayla kembali melihat sekeliling.
"Baiklah, aku mencintaimu sayang. Belajar yang baik, jangan macam-macam!" Seru Dev sambil meraih dan mengecup punggung tangan Kayla sebelum ia berlalu dari sana.
Kayla tersenyum, ia menjadi geli sendiri saat Dev mengatakan hal yang membuatnya bahagia pagi ini.
__ADS_1
Kayla menarik napas dalam saat hendak melangkah meninggalkan parkiran. Ia membiarkan Dev menghilang lebih dulu.
Namun saat Kayla hendak ke kelas ia dihadang oleh seorang mahasiswa lain yang menatapnya sinis.
"Huh tampaknya pelakor sudah mulai go publik," sindir Weni yang menatap Kayla sambil menyilangkan tangannya di dada.
Kayla berhenti, ia membalas tatapan Weni tanpa takut.
"Itu bukan urusanmu!" Jawab Kayla kesal.
"Sudah ku duga, ku menusuk temanmu dari belakang, aku heran dosen sekelas Pak Dev tertarik ingin berselingkuh dengan mahasiswa rendahan seperti mu sedang istrinya lebih cantik dan kaya, sungguh pria yang tidak bersyukur," ucap Weni lagi.
"Apa kau sudah selesai bicara? Minggirlah, aku mau lewat!"
Kayla mencoba meredam amarahnya dengan tetap berusaha untuk tenang dan tidak terpancing emosi meladeni Weni yang memang tidak menyukainya sejak dulu.
"Kau berani padaku? Apa kau tidak takut aku menyiarkan apa yang ku lihat pagi ini? Aku merekamnya Kayla sayang, Pak Dev mencium tanganmu dengan tidak tahu malu."
Weni memperlihatkan rekaman video di ponselnya, Kayla terkejut aksi Dev mencium tangannya dengan mesra pagi ini disaksikan oleh Weni.
"Jangan terkejut sayang, inilah resiko ketahuan jadi pelakor, makanya jangan berani go publik di kampus, buat malu sesama mahasiswa saja! Menjijikkan!"
"Cukup!" Bentak Kayla.
"Apa yang terjadi antara aku dan Pak Dev, bukan menjadi urusanmu. Asal kau tahu Kak Weni, aku sama sekali tidak takut padamu! Kau pikir rekaman itu bisa menjatuhkan Pak Dev? Sungguh sayang kau tidak tahu apa-apa tentang kami."
"Jika kau tidak ingin malu sendiri nanti, sebaiknya jangan ikut campur urusanku dan Pak Dev, kau bukan siapa-siapa yang harus ku beritahu semua tentang yang terjadi antara aku, Nika dan Pak Dev selama ini."
Kayla bicara dengan nada tinggi, ia menepis tangan Weni hingga ponsel itu terjatuh, lalu ia mencengkram kerah kemeja Weni dengan geram.
"Kau boleh jadi kakak tingkat, tapi bukan berarti kau bisa menindasku seperti ini, jika dendam kau boleh menemui ku di luar kampus! Aku tidak takut padamu."
Kayla melepaskan Weni setelah menyadari ada beberapa mahasiswa yang sedang memperhatikan mereka dengan keheranan.
Ia menghembuskan napas kasar sebelum meninggalkan Weni yang masih terdiam, tidak menyangka akan mendapat perlawanan seperti itu dari adik tingkatnya.
Selesai kelas, Kayla sedang ditenangkan oleh dua sahabatnya Susan dan Rania.
"Kayla, kau itu adalah mahasiswa yang paling imut, lucu dan ceroboh di kelas kita. Semua tahu itu, tapi kenapa berubah jadi monster seperti ini? Jadi tukang marah-marah, semua orang kau marahi. Ada apa?" Tanya Rania mengacak-acak rambut Kayla dengan gemas.
__ADS_1
"Entahlah!" Jawab Kayla memajukan bibirnya ke depan.
"Apa kau sedang bertengkar dengan Bang Dev?" Tanya Susan.
"Huh, entahlah aku malas membahasnya. Aku butuh piknik, aaaaaahh," teriak Kayla sambil menjatuhkan kepalanya di lengan Rania.
"Hei, bukankah kau mengatakan kau belum mens bulan ini? Jangan-jangan kau hamil!" Kata Rania menutup mulutnya sendiri.
"Itu yang sedang ku pikirkan, aku belum memeriksanya. Aku takut!" Jawab Kayla lesu.
"Kenapa takut, justru bagus jika kau hamil mertua mu pasti luluh," sanggah Susan.
"Entahlah, justru aku pikir jika benar hamil bukankah tidak tepat saat hubungan ku dan Bang Dev sedang bermasalah seperti ini!"
"Oh sayang, kenapa kau jadi pesimis begini? Ini bukan Kayla yang biasanya, jangan lemah Kayla. Jika kau mau aku dan Rania bisa membantu meyakinkan Nika soal hubungan kalian!"
"Jangan, aku tidak mau menyakiti Nika. Dia sakit, kasihan dia, aku yang seharusnya sadar diri. Oh Tuhan, bagaimana jika aku benar hamil, aku akan berpisah dengan suamiku! Setidaknya itu yang direncanakan mertua galak itu!" Ucap Kayla kesal sambil membayangkan wajah ibu mertuanya.
Kayla menceritakan semua keluh kesah masalah yang dihadapinya saat ini pada dua gadis yang selalu ada untuknya.
"Aku tidak percaya, Weni sialan itu berhasil keok kau buat pagi tadi, ha ha ha," cetus Rania tertawa geli.
"Salah sendiri, mengira istri sah jadi pelakor. Dia benar-benar membuatku kesal, untung tidak ku benam wajahnya di tembok kampus, aku membencinya, aku benci kata-kata jahatnya!!!" Teriak Kayla lagi saat mengingat wajah Weni.
Entah kenapa moodnya naik turun akhir-akhir ini, belum lagi ia kesal pada wajahnya sendiri yang mulai ditumbuhi jerawat yang menjengkelkan.
"Aku rasa kau benar-benar hamil, kata orang-orang wanita hamil bisa berubah jadi menakutkan, seperti mu. Kau jadi jelek dengan jerawat itu, belum lagi marah-marah pada semua orang, menyebalkan!" Cetus Susan mencubit pipi Kayla dengan geram.
"Aku sudah telat satu Minggu, aku takut jika benar hamil. Aaaaaa, aku tidak mau hamil tanpa suami," jerit Kayla tiba-tiba menangis.
"Bang Dev harus tahu, dia pasti tidak akan menuruti Ibunya yang sok berkuasa itu!"
Rania mengangguk akan saran dari Susan.
"Aku bingung, aku takut Bang Dev tidak suka aku hamil, dia belum pernah mengatakan ingin anak dariku, dia tidak menyinggung soal anak sedikit pun, bagaimana jika dia tidak mau?"
"Jangan berpikir negatif dulu, kau belum tahu jika belum memberitahu nya. Aku kira mertua mu akan mengerti jika tahu kau hamil, cucu pertama siapa yang akan menolaknya," sanggah Rania.
"Entahlah, aku takut."
__ADS_1
Kayla menatap jauh dengan pikiran yang menerawang akan nasib pernikahannya.