
Saat ini Nathan dan juga Elle sudah berada di negaranya. Keduanya sedang berada di dalam mobil yang di kemudikan oleh David, asisten sekaligus sahabat Nathan. Sepanjang perjalanan, Elle hanya terdiam sembari menatap jalanan ibu kota yang terlihat sangat padat itu, sementara itu pikirannya selalu tertuju pada Rendra yang kini masih terbaring di rumah sakit.
Nathan sesekali melirik Elle yang duduk di kursi belakang, raut wajah Elle yang terlihat sendu, membuat hati Nathan sedikit sakit. Nathan sangat yakin jika gadis itu saat ini sedang memikirkan kondisi adik kembarnya. Namun, mengapa Nathan merasa sakit di hatinya? Benarkah ia sudah jatuh cinta kepada kekasih adik kembarnya sendiri? Ntahlah, hanya Tuhan dan Nathan lah yang tahu.
"Sialan! Aku tidak boleh jatuh cinta pada gadis itu. Ya, tidak boleh!" Batin Nathan seraya mengusap wajahnya kasar. Kemudian ia pun kembali melirik Elle yang saat ini masih menampilkan wajahnya yang sendu. "Kenapa hatiku terasa sakit begini? Seolah-olah aku tidak rela melihat dia bersedih karena orang lain. Sadarlah, Nathan. Ingat! Lo melakukan semua ini demi Rendra, jangan sampai lo terjebak dengan permainan lo sendiri." Nathan terus menyadarkan dirinya sendiri agar dirinya tidak terjatuh dalam permainan yang ia mainkan sendiri. Karena bagaimanapun juga, menjadi pengganti adalah pilihannya, dan semua itu ia lakukan demi Rendra.
"Anda tidak apa-apa, bos?" Tanya David sembari melirik Nathan sekilas.
"Memangnya ada apa denganku?" Nathan berbalik nanya dengan kesal.
"Tidak tahu, bos. Makannya saya bertanya, apakah anda tidak apa-apa." Ucap David sedikit kesal mendapat pertanyaan itu dari bos sekaligus sahabatnya itu.
"Apakah kau tidak melihat, jika aku baik-baik saja" Tanya Nathan menambah rasa kesal dalam diri David, namun ia masih tetap bersikap seperti biasanya.
__ADS_1
"Saya melihatnya, bos." Sahut David dengan nada suaranya yang tidak berubah.
"Lalu, kenapa kau masih saja bertanya. Menyebalkan." Ucap Nathan seraya memalingkan wajahnya ke jalanan yang ada di depannya.
"Saya hanya ingin memastikan saja, bos. Apakah anda baik-baik saja atau tidak. Memangnya salah." Sahut David sembari fokus dengan setir kemudinya.
"Fokus saja dengan setir kemudimu, jangan banyak bicara." Ucap Nathan seraya memejamkan kedua bola matanya.
"Kau bilang apa barusan? Apakah kau sudah bosan jadi asistenku? Kau.... " Ucapan Nathan tercekat di tenggorokan ketika ia mendengar suara Elle dari belakang.
"BISAKAH KALIAN BERDUA DIAM! Atau, jika kalian ingin beradu mulut, kalian bisa keluar dari mobil ini." Seru Elle yang merasa terganggu dengan perdebatan Nathan dan juga David. Seketika David langsung membungkam mulutnya rapat-rapat, ia tidak menyangka jika Elle bisa begitu menyeramkan, jika sudah merasa terganggu. Sementara itu, Nathan langsung menoleh ke belakang, ia menatap Elle yang saat ini terlihat kesal.
"Jangan marah-marah nanti cepet tua." Ucap Nathan membuat Elle bertambah kesal.
__ADS_1
"Kamu yang tua!" Seru Elle seraya menatap Nathan dengan tajam.
"Ckkk... Jika aku sudah tua, tidak mungkin banyak perempuan yang tergoda dengan ketampananku." Sahut Nathan dengan penuh rasa percaya diri.
Elle mendengus, ia tidak lagi membuka mulutnya dan memilih untuk memalingkan wajahnya ke arah jendela. Sementara David, ia terlihat tertawa membuat Nathan langsung menatapnya dengan tajam.
"Apa yang kau tertawakan, David! Apa kau sedang menertawakan ku?" Tanya Nathan terdengar dingin di telinga David.
"Tidak, bos. Anda salah lihat, saya sama sekali tidak tertawa." Sahut David kembali ke ekpresi semula.
"Kau pikir aku buta hah! Dasar jomblo." Ucap Nathan seketika membuat David langsung membulatkan kedua bola matanya sempurna.
Bersambung.
__ADS_1