
"Kue dari mana ini, Dastan?" tanya Nasya, di sore hari yang menampilkan indahnya langit senja berwarna jingga.
Tentu tepat saat Dastan di dorong Zivan memasuki halaman.
"Beli, Mom!" jawab Zivan, ketus.
Putra kedua yang di adopsi Nasya atas permintaan Arka itu selalu ketus ketika menjawab pertanyaan. Namun rasa sayang pada Nasya, Arka, dan Dastan dalam dirinya sangat besar. Athaya Zivan Ekasatria, bayi merah yang di adopsi Nasya dan Arka, karena Nasya tidak bisa memberikan anak lagi untuk Arka ketika rahimnya di nyatakan bermasalah dan harus di operasi untuk pengangkatan rahim.
Awalnya Nasya sangat sedih, namun tidak lagi ketika Arka membawa dua orang anak. Satunya Dastan, lalu Zivan.
Dastan dan Zivan besar penuh cinta dan kasih sayang, meski asal usul Zivan berbeda, Nasya dan Arka tidak membeda-bedakan keduanya. Bahkan berusaha menutupi asal mula Zivan.
"Beli dari mana kuenya? Memang Zivan punya uang?" tanya Arka, sambil mengeluarkan kue yang di beli anaknya itu ke atas piring.
"Bukan aku, Pa. Kakak Dastan yang beli." menunjuk Dastan yang tampak menikmati kue berwarna hijau.
"Aku beli dari temanku, Pa. Jangan marah ya? Kasihan dia, belum makan. Jadi bekal yang di kasih Mommy aku tukar dengan kuenya."
Nasya dan Arka saling melirik, bangga, itulah yang menjadi kesan pertama di hati mereka. Putranya meski tumbuh kekurangan, namun tidak mematahkan niat baik dalam hatinya.
"Ya sudah, sekarang kita maka kuenya bersama-sama!" ucap Nasya, sambil mengambil alih Dastan dari Zivan. Mendorongnya ke samping sofa yang di duduki Arka.
"Mom, nanti sore kita ke taman!" ajak Dastan, ia terlihat sangat menikmati kuenya dan sangat ingin membelinya kembali saat melihat habis tak tersisa.
"Oke!" seru Nasya, sambil membentuk huruf 'O' dengan jarinya.
...****************...
Sore hari, Dastan, Zivan, Nasya, beserta Arka benar-benar menimati suasana taman yang ramai dan indah.
__ADS_1
Beberapa orang melirik dengan tatapan sinis, melihat Arka mendorong Dastan di kursi roda. Bahkan ada yang berbisik-bisik namun masih bisa di dengar oleh Nasya.
Ketika hendak membalas, Arka segera memegang tangan Nasya, menggelengkan kepalanya pelan. "Membalas itu akan lebih menyakiti hati Dastan, biarkan saja! Terima kata-kata mereka. Jangan merusak suasana hati Dastan yang sangat bahagia!" bisik Arka, sambil menunjuk putra pertamanya yang sudah di dorong Zivan.
Entah kemana tujuannya, akan tetapi ia berhenti tepat ketika melihat seorang anak gadis duduk melamun di kursi berwarna putih.
Arka dan Nasya melangkah, menuju ke tempat kedua putranya berada.
Tersentak, ketika melihat seorang anak gadis penjual kue dengan pakaian lusuh dan wajah yang sendu.
"Jadi, kamu penjual kue itu?" tanya Arka, membuat ketiga anak kecil itu serempak melirik ke arahnya.
"Siapa namamu, Nak?" tanya Nasya sambil duduk di sebelahnya dan mengelus kepalanya.
Anak itu hanya diam saja, memandangi wajah Arka dan Nasya kebingungan.
"Helena," ucapnya di iringi senyum samar.
"Kalau Om mau, aku tidak ingin menjualnya, tukar saja dengan beras dan obat. Ibuku di rumah sedang sakit dan belum makan!" jawab Helena, dengan wajah sendu.
Arka dan Nasya tentu saja terkejut, kemudian langsung mengelus kepala anak itu.
"Dimana ibunya? Boleh kami lihat?"
Anak itu mengangguk, kemudian berdiri dan segera melangkah. Arka dan Nasya mengikuti dari belakang sambil mendorong Dastan.
Hingga keduanya kembali di buat shock dengan pemandangan tempat tinggal Helena yang sangat membuat Arka tertegun.
"Lena, kamu sudah pu—"
__ADS_1
Kalimat seorang wanita dengan wajah pucat dan pakaian compang-camping yang baru saja keluar dari rumah yang hampir roboh itu terhenti ketika melihat Arka dan Nasya.
"Lena, siapa mereka?"
"Ibunya Helena?" tanya Nasya, sambil menghampiri wanita berwajah pucat itu.
"Iya, Nyonya dan Tuan siapa? Apa Lena membuat masalah dengan kalian? Maaf, dia terkadang memang begitu!" ucap ibunya Helena, sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Tidak, dia sama sekali tidak melakukan apapun." Nasya menegaskan.
"Ibu sakit apa?" tanya Nasya.
Sedang ketiga anak-anak itu sudah bersama Arka, duduk di atas lantai yang masih terbuat dari semen tanpa alas apapun. Mereka tampak melihat-lihat kue yang berada di keranjang Helena.
"Nyonya, masuk saja ke dalam. Kita bicara di sana!" ajak ibu dari dua orang anak itu, ketika Nasya masuk, ia melihat seorang gadis lagi yang seumuran Dastan, sedang Helena seumuran Zivan.
"Maaf, Nyonya, rumah kami seperti ini."
"Tidak apa-apa, jadi Helena anak ibu? Kue-kue yang di jualnya juga buatan ibu?"
"Iya, sebenarnya saya tida menyuruh Lena menjualnya, tapi dia sendiri yang ingin berjualan." ibunya Helena menjelaskan. Sementara kakak dari Helena, ia justru menghampiri Nasya dan menatap dingin.
"Bu, minta uang, aku ingin bermain dengan teman-teman!"
......................
Semoga malam bisa update lagi, ngebut buat aku tamatkan. 😁 Setelah itu lanjut kisah Dastan.
Mampir di Novel teman aku ya !!!
__ADS_1