
Baru saja menginjakan kaki di lantai ruangannya, dunia Arka seakan berhenti, membuat lututnya lemas dan bergetar, hingga tak mampu menopang beban tubuhnya sampai dirinya terduduk.
"Pak, Anda kenapa?" sang Asisten yang baru saja membuka pintu langsung memburu Arka, membantunya duduk di sofa, mengambilkan segelas air putih dan menyuruh Arka meminumnya.
Arka tidak menerima gelas itu, lebih memilih melangkahka kaki dengan cepat menuju parkiran kantor.
"Pak Arka, anda ada rapat denganโ"
"Itu tidak penting! Aku harus ke rumah sakit!" bentak Arka, sambil terus berjalan. "Kau saja yang tangani perusahaan!" perintahnya dengan suara lantang.
Mengerti dengan perintah Arka, ia menelepon seseorang sambil terus mengikuti langkah atasannya itu.
Ketika Arka baru membuka pintu, hendak masuk ke dalam mobil, pria itu menghentikannya.
"Bapak duduk di belakang saja, saya yang menyetir!" ucapnya pengertian.
Perjalanan terasa begitu lambat, sejak tadi Arka gelisah dan terus mengeluarkan air mata. Rangga, sang asisten diam-diam memperhatikan, tidak pernah sekalipun atasannya tersebut menangis, ini kali pertama baginya.
"Bapak baik-baik saja?" tanya Rangga, memberanikan diri.
"Bagaimana bisa, aku baik-baik saja? Saat kedua wanitaku sekarat!"
Masih terngiang-ngiang, ucapan si pengancam di telepon, masih terngiang-ngiang juga, saat baru saja Arka masuk ke ruangannya lalu menerima telepon dari seorang wanita menggunakan ponsel Nasya, mengabarkan kecelakaan sebuah taxi yang di tumpangi Nasya.
Arka terus menerus berdoa, selama beberapa detik setelah sang penelepon mengatakan itu, berharap hanya mimpi. Namun Tuhan memberikannya rasa sakit saat lututnya membentur lantai, yang membuktikan bahwa ia tidak sedang tidur dan bermimpi.
"Percepat!" teriak Arka, pada Rangga.
Rangga yang melihat jalanan cukup padat hanya mampu pasrah.
Hingga dalam waktu 15 menit, barulah mobil mereka terparkir di parkiran rumah sakit besar di ibu kota Indonesia tersebut.
Dengan sekuat tenaga dan secepat mungkin Arka berlari, menyusuri lorong dan koridor rumah sakit.
"Pasien kecelakaan taxi 1 jam lalu, yang bernama Nasya dan Nindi, dimana mereka? Bagaimana keadaannya?" tanpa berbasa-basi, Arka langsung bertanya pada suster yang bertugas menjadi resepsionis.
Setelah mendapat petunjuk, ia segera berlari menuju ruangan dengan lampu menyala di atas dua pintu, menandakan sedang di lakukan tindakan bedah di dalamnya.
Brak
__ADS_1
Arka membuka paksa pintu ruangan operasi.
"Pak!" Rangga mengikuti, mencoba menahan agar Arka tidak masuk lebih dalam lagi.
"Pak, mohon tunggu di luar! Kami sedang melakukan operasi!" salah seorang suster memperingatkan sambil mendorong Arka keluar.
Namun Arka tidak bergeming, ia melirik ke arah pasien yang sedang di beri tindakan, itu adalah wanita yang sedang mengandung buah cinta mereka, kini ia terbaring dengan mata terpejam.
"Nasya!"
"Pak, tolong keluar!" perintah suster lagi.
Rangga yang berusaha menahan akhirnya melepaskan Arka, memberikan kode pada suster.
"Sus, sebentar saja! Dia suaminya!"
Suster mengangguk pelan, membiarkan Arka beberapa saat.
"Nasya, bangun! Demi apapun kau harus bangun!" Arka mengguncang tubuh Nasya, namun tubuh itu hanya diam tak merespon.
Ia menangis histeris, mengecup kening Nasya.
"Suster, tolong keluarkan dia! Kalau tidak mau, panggil security!"
"Tidak perlu!" ucap Rangga. "Pak, ayo keluar! Biarkan mereka melakukan tugasnya!"
Tanpa di duga, Arka terus berteriak, mengamuk dan mengguncang tubuh Nasya. Terjadi keributan yang tak di kehendaki, membuat Rangga kewalahan. Meski sudah memanggil security, Arka tetap tak mau keluar.
Sehingga dokter yang menangani Nasya terpaksa mengambil sebuah suntikan, menyuntikannya pada Arka sampai dalam beberapa saat, Arka tak sadarkan diri.
Flashback
"Ma, sepertinya ada yang mengikuti kita!" ucap Nasya, saat melirik ke belakang di dalam taxi yang di naikinya.
Hatinya merasakan takut, saat sejak tadi sebuah mobil sedan berwarna hitam terus mengikuti.
Nindi melirik ke belakang, benar saja, mobil itu terus mengikuti.
"Pak, percepat sedikit!" perintah Nindi pada supir taxi.
__ADS_1
Mobil melaju cepat, namun sedan berwarna hitam itu mengikuti, hingga kini mereka dalam posisi sejajar.
Dalam suatu kesempatan, mobil itu berhasil menyalip, membuat taxi tak terkendali dan oleng.
Nasya dan Nindi berteriak sekeras mungkin, meminta tolong.
Taxi semakin tak terkendali. Supir yang berusia sekitar 38 tahun itu mulai panik, tak mampu berbuat apa-apa.
"Aaaaaaaa........"
Brakโ
Flashback off
...****************...
Arka mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan, hampir 6 jam ia tak sadarkan diri dalam pengaruh bius yang di berikan dokter.
Suara Rangga yang memanggil-manggilnya mulai terdengar.
Begitu sepenuhnya sadar, Arka langsung melompat dan hendak keluar.
"Pak, anda mau kemana?!"
"Istri dan Ibuku, kau pikir apa?!"
"Nyonya Nindi sudah ... Meninggal dunia di tempat kejadian kecelakaan."
Bagai petir yang menyambar di atas kepalanya, Arka sangat shock. Namun tak lama, ia teringat terakhir kali melihat Nasya terbaring di ruangan operasi.
"Nasya!"
"Istri anda ... Dia ..."
......................
**Dia kenapa? Jawab Rangga!
Sampai ketemu besok!!! ๐๐๐**
__ADS_1