Cinta Suami Pengganti

Cinta Suami Pengganti
Mungkin saja


__ADS_3

David yang mendengar ucapan Nathan pun terlihat sangat terkejut. Pasalnya, nama Vanessa sudah lama tidak di sebutkan oleh Nathan, bahkan jika dirinya menyebut nama Vanessa di hadapan Nathan, maka Nathan akan memberinya tatapan mematikan. Namun, saat ini justru Nathan sendiri yang menyebut nama keramat itu.


"Lo serius, Nat? Lo bertemu dengan Vanessa?" David bertanya sembari tetap fokus dengan setir kemudinya. Ia juga sesekali melirik ke arah Nathan, ingin memastikan jika pendengarannya tadi tidak salah.


Nathan terlihat menghembuskan nafasnya, ia terus menatap lurus jalanan yang ada di depannya. "Ya, gue serius," ucapnya pelan, namun masih dapat di dengar oleh David. "Gue gak sengaja bertemu dia di rumah sakit, tempat Rendra di rawat." Sambungnya lagi di iringi dengan helaan nafasnya.


"Rumah sakit? Untuk apa dia datang ke rumah sakit? Apakah dia sedang sakit?" Tanya David mulai penasaran, mengapa Vanessa bisa berada di rumah sakit.


"Ntahlah, gue tidak menanyakannya. Lagian itu bukan urusan gue sekarang." Ucap Nathan sembari merogoh ponsel dari dalam saku celananya.


"Emm bagaimana kalau sebenarnya dia memang sedang sakit?" Tanya David membuat Nathan seketika menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Meskipun dia sakit, itu bukan urusan gue. Sekarang, dia bukan siapa-siapa lagi bagi gue, dan semenjak dia mengkhianati gue, gue udah anggap dia orang asing, mengerti." Ucap Nathan dengan tegas. Namun, percayalah, dalam hati Nathan, ia berharap Vanessa baik-baik saja. Ya, meskipun gadis itu sudah mengkhianati dirinya, namun ia tetap tidak ingin melihat gadis itu sakit. Bagaimana pun juga, gadis itu dulu pernah mengisi hatinya yang kosong.


"Nat! Apa lo yakin jika Vanessa mengkhianati lo dulu? Maksud gue, siapa tahu lo salah paham kan sama dia? Ya, mungkin saja laki-laki yang lo lihat itu bukan selingkuhan Vanessa.... "


"Sudahlah, untuk apa membahas masalalu gue dengan Vanessa? Bukankah itu semuanya sudah berakhir? Lagian gue sangat yakin bahwa Vanessa sudah mengkhianati gue dulu, gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, dia berpelukan dengan laki-laki lain. Bahkan laki-laki sialan itu memberinya bunga.... " Nathan mulai mengepalkan satu tangannya ketika ia mengingat pengkhianatan yang di lakukan oleh Vanessa dulu. "Sudahlah, jangan membahas ini lagi. Lebih baik, lo fokus sama setir kemudi lo, jangan bertanya apa pun lagi." Sambungnya lagi membuat David harus menghela nafasnya dengan kasar.


"Baiklah, gue tidak akan membahas masalah ini lagi," ucap David sekilas melirik Nathan. "Lagian, yang mulai kan lo, bukan gue." Gumamnya, namun masih dapat di dengar oleh Nathan.


"Astaga... Lo ngajak ribut? Ayo gue ladenin, mau di mana? Di lapangan? Di kuburan? Atau di atas ring? Enteng bener kalau ngomong." Ucap David dengan kesal.


"Oh gaji lo mau gue potong? Berapa persen? Sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, lima puluh atau seratus persen sekalian?" Nathan tersenyum menyebalkan ke arah David, jika Nathan bukan bosnya, sudah pasti David akan melempar Nathan keluar saat ini juga. Namun sayangnya, Nathan itu bosnya, dan David masih membutuhkan uang dari bosnya tersebut.

__ADS_1


"Gue cuma becanda, Nat. Jangan di ambil hati." Ucap David sambil memperlihatkan tampangnya yang bodoh itu.


Nathan tidak menggubrisnya, ia lebih memilih untuk mengecek ponselnya berharap ada pesan masuk dari Elle.


"Gadis ini, kenapa tidak memberiku pesan? Benar-benar menyebalkan." Gumamnya pelan, namun masih dapat di dengar oleh David si pemilik telinga tajam itu.


"Gadis siapa yang lo maksud?" tanya David penasaran.


"Dasar kepo!" seru Nathan tanpa mau menjawab pertanyaan David tadi. David mendengus, ia pun memilih untuk diam dan kembali fokus dengan setir kemudinya. Sementara, Nathan. Ia terlihat sedang menulis sebuah pesan dan mengirimkannya kepada seseorang.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2