Cinta Suami Pengganti

Cinta Suami Pengganti
Bab 52


__ADS_3

"Kita sewa baby sitter saja, Sya!" seru Arka, setelah berpakaian lengkap dan menyusul Nasya ke kamar yang di pakai Dastan tidur.


Nasya langsung melirikkan matanya nyalang pada Arka.


"Tidak! Apalagi kalau harus pengasuhnya yang masih muda! Bisa-bisa dia mengasuhmu bukan Dastan!" ucap Nasya, sudah naik pitam saja seakan-akan ingin menghab*si Arka detik itu juga.


Arka langsung merinding, memegangi tengkuk belakang lehernya.


"Santai! Aku akan cari pengasuh yang sudah sekarat saja!" ucap Arka lagi, berusaha mencairkan suasana.


"Pergi sana!" usir Nasya, ketus.


"Iya, aku mau ke kamar mandi, rasanya sudah di ujung."


Bruk


Sebuah bantal melayang dan mendarat tepat menghantam wajah Arka.


"Dasar pria berkadar mes*m tinggi!"


Arka hanya menyengir kuda, kemudian memasuki kamar mandi dengan berbagai gerutuan yang terdengar samar-samar.


"Tahu seperti ini, aku tidak perlu memakai pakaian lagi!"


"Aku dengar, Ka!" teriak Nasya dari luar kamar mandi.


Arka segera menghidupkan shower, membasahi diri dengan air dingin, ingin meredam panas yang menjalar di seluruh saluran peredaran darahnya.


"Semoga saja nanti dia bisa di ajak kompromi! Ayolah, Dastan! Izinkan Papamu ini memberikan teman untukmu!" gumam Arka, mengoceh, seperti orang yang mengalami gangguan jiwa.


...****************...


Tengah malam, alunan suara musik anak-anak penghantar tidur untuk Dastan yang bersumber dari sebuah alat elektronik yang semakin canggih. Sesekali suara itu saling bersahutan dengan suara merdu Arka dan Nasya yang sedang bertempur dengan peluh yang membuat tubuh lengket.


Setelah puas dan mencapai kenikmatan yang di tuju, Nasya ambruk di atas Arka. Pria yang menyatakan ingin memberi Dastan teman itu membalikkan posisi.


"Aku lelah!" Nasya melambaikan tangan, mengeluh.


"Biar aku yang bekerja, kau cukup menikmati saja."


Pasrah, membiarkan pria itu bekerja di atasnya. Setelah beberapa saat, terasa hangat bersamaan dengan ambruknya tubuh pria gagah tersebut.


2 bulan tak terasa bagi Nasya yang terus memantau tumbuh kembang Dastan. Ia mengalami kesedihan, di saat anak-anak seumuran bayinya itu sudah mengalami pertumbuhan dan perkembangan, akan tetapi Dastan berbeda.


Bayi laki-laki itu hanya mampu menggerak-gerakkan tangannya, tidak dengan kakinya yang sejak lahir tak bergerak.


Cemas, itu sudah pasti. Akan tetapi ia terus mengingatkan diri pada takdir kelahiran yang menyatakan bahwa Dastan terlahir cacat.

__ADS_1


Nasya memandangi bayi yang berbaring di atas ranjang, menatapnya sendu.


"Kamu bukan cacat, tapi kamu istimewa. Mama janji, tidak akan membiarkan siapapun melihat kekuranganmu!"


Sepanjang 2 bulan itu juga, Nasya merasakan hal-hal janggal lainnya. Yakni, saat ia tidak menunda kehamilan, akan tetapi Tuhan belum memberi dirinya kepercayaan kembali.


"Apa ada yang salah denganku? Kenapa sampai saat ini belum hamil lagi?" pertanyaan sama, ketika ia mendapat datang bulan.


"Kita periksa ke dokter saja, mungkin saja sudah hamil, tapi tidak kamu rasakan!"


Arka selalu berusaha memberi masukan positif pada istrinya saat mengeluhkan ketidakhadiran lagi biji kecambah di rahimnya itu.


Ia bahkan memberi masukan benih dengan rajin, tak terlewat setiap malamnya. Apalagi jika Nasya sedang berada dalam masa hitungan subur.


Tepat hari ini, jadwal terapi untuk Dastan. Bersamaan dengan itu, Arka dan Nasya berencana memeriksa kesehatan alat vit*l mereka.


Pagi-pagi keduanya sudah berangkat ke rumah sakit, sesuai janji yang telah di buat dengan dokter spesialis terapi Dastan.


Saat Dastan sedang menjalankan terapi, Nasya dan Arka menggunakan kesempatan itu untuk memeriksa diri mereka sendiri.


Pemeriksaan selesai, tepat bersamaan dengan selesainya terapi anak mereka. Kini sepasang suami istri tersebut sedang menanti penjelasan dokter.


"Hasilnya bisa di lihat 2 minggu lagi, selama itu coba ikut panduan edukasi berhubungan **** yang sehat, ini bukunya." Dokter memberikan sebuah buku panduan.


Setelah urusan rumah sakit selesai, mereka tidak langsung pulang, melainkan mengunjungi taman wisata anak-anak.


...****************...


Arka meletakkan sendok kembali di atas piring, kemudian menghela napas panjang dan menghembuskannya kasar.


"Berapa kali aku bilang? Kita tidak boleh memaksakan takdir, jika sudah di haruskan hanya memiliki Dastan, aku tidak masalah." Arka menegaskan.


Raut wajahnya jelas menyiratkan ketidak sukaan dengan pertanyaan Nasya.


"Kau sepertinya sangat ingin memiliki anak lain, kenapa?"


"Bu—"


"Aku sudah memikirkannya, aku paham, setiap orang tua ingin anaknya sempurna dan sehat. Begitu, kan? Sudahlah, kita sepertinya tidak perlu memiliki anak lagi! Aku pikir kembali, itu hanya akan menghancurkan hati Dastan nanti, jika mereka sudah besar. Dia akan merasa iri pada saudaranya yang normal!"


Arka kehilangan selera makannya, ia segera mengambil Dastan yang berada di kereta dorong bayi dan membawanya masuk ke kamar.


Air mata menitik dari pelupuk mata Nasya.


"Ka!" Nasya meletakkan sendok, berlari menyusul Arka.


Saat tangannya memutar kenop pintu, Nasya shock, Arka menguncinya dari dalam. Terdengar suara tangis Dastan yang melengking, membuatnya merasa bersalah.

__ADS_1


"Ka, buka pintunya!" Nasya berteriak, menggedor-gedor pintu.


Klek...


Ia bernapas lega, Arka mau membukakan pintu.


Dengan segera mengambil Dastan yang matanya berkaca-kaca, kemudian segera memberinya air susu.


Nasya berjanji pada hatinya sendiri, untuk tidak mengulangi kata-kata yang memancing amarah Arka seperti tadi.


"Kita tidak usah ambil hasil pemeriksaan, biarkan saja! Kau benar, jika Dastan punya saudara yang normal, itu hanya akan menyakitinya!"


Arka merangkul Nasya. Memberinya satu kecupan di kening dan bergantian mengecup Dastan.


"Maaf, aku terlalu kasar ya?"


Nasya menggeleng. "Tidak, tapi kata-katamu sangat benar!"


"Apapun yang terjadi, terima saja! Ambil hasilnya, agar kita tahu apa yang menjadi masalah saat ini! Bila suatu saat Dastan tidak bisa punya adik, kita tahu alasannya dan tidak akan menyalahkan dia sebagai penyebab kau tidak bisa mengandung kembali!"


...****************...


7 tahun kemudian...


"Kak, tangkap bolanya!"


Siang itu cuaca cerah, anak-anak meramaikan halaman rumah besar yang sudah berdiri sejak 5 tahun yang lalu saat sepasang suami istri pindah ke kota Banjarmasin.


"Iya, kenapa kau duduk terus!" protes salah seorang anak pada anak lainnya, yang sejak datang duduk di atas kursi roda.


"Teman-teman, maaf, aku lebih baik pulang saja!" anak di kursi roda memutar kursinya, hendak pulang. Namun salah seorang anak yang memanggilnya kakak segera berlari menghalangi.


"Kakak, jangan tinggalkan aku! Temani aku main!"


Wajah yang sama membuat keduanya hampir sangat sulit di bedakan, jika saja salah satunya tidak duduk di kursi roda.


"Baik, Ziv. Kakak melihat dari sana!" anak di kursi roda itu menunjuk pohon rindang yang membuat teduh.


"Kak Dastan!" seru anak itu, memanggil lagi kakaknya yang sudah memutar kursi roda sendiri.


"Ya?"


"Aku sayang Kakak!"


Dastan melajukan kursi roda menuju bawah pohon itu, beberapa saat ia diam di sana. Sampai ada seorang anak gadis yang mendekati.


"Kak, tolong beli kuenya, aku berikan bonusnya!"

__ADS_1


......................


Ada yang sama gak? Setelah melahirkan anak pertama, terus susah untuk punya anak lagi?


__ADS_2