Cinta Suami Pengganti

Cinta Suami Pengganti
Bab 51


__ADS_3

Beberapa Episode terakhir, author izin undur diri, mau fokus kesembuhan diri dulu pasca positif virus itu.


Sambil menunggu karya terbaru, bisa mampir di lapak sebelah, sama-sama gratis, di rumah hitam yang gratis juga. Baca dan tambahkan karya teman saya ke rak buku kalian, judulnya Rahim Kontrak.


...****************...


"Terima kasih," suara dingin bersamaan dengan ekspresi datar dalam keheningan itu menggema.


Dua orang pria saling berhadapan, sesekali mata mereka saling melirik tajam.


"Anakmu baik-baik saja, bukan?"


"Ck, tidak ada yang baik-baik saja dengan kecelakaan sebesar itu. Karena wanitamu itu, dia harus mendapatkan hukuman atas perbuatan yang tidak pernah di perbuatnya!"


"Baik, baik! Dia sudah di tangan yang tepat! Membosankan bersamanya, dia sangat tidak becus melayani apapun!" Arash mencebik, memperlihatkan wajah kesalnya.


Arka terkekeh, kemudian bergegas pergi.


"Mana bayaran untukku?!" seru Arash.


Arka membalikkan tubuhnya, dalam beberapa saat sudah duduk berhadapan kembali dengan Arash.


"Sudah aku siapkan, di hotel XX malam ini. Fantasimu akan terpenuhi pasti!" ucap Arka, setengah berbisik kemudian meninggalkan Arash pergi.


...****************...


Semua masalah telah terselesaikan oleh Arka, kini waktunya kembali menuju Jakarta. Ia berencana akan membawa kembali Nasya ke Bandung untuk tinggal di sana.


Dalam beberapa hari, Arka akan mempersiapkan kepindahan mereka secara permanen.


Adrian dan Mira bahkan sudah memutuskan untuk sepenuhnya memberikan tanggung jawab perusahaan mereka di Indonesia pada Arka, sedang sepasang suami istri yang tak lagi muda itu memutuskan tinggal di Kopenhagen, Denmark.


Satu minggu telah berlalu, Arka, Nasya, dan Dastan sudah dalam perjalanan menuju kota Bandung.


Sepanjang perjalanan mereka tidak diam, saling menyanyi, menghibur diri. Canda dan tawa juga turut menghiasi suasana perjalanan panjang.


Sampai akhirnya ketika mereka tiba di kota yang terkenal dengan makanan khas dari singkong yang di permentasi tersebut, Dastan sudah terlelap di gendongan Nasya.


Nasya langsung menidurkan Dastan di atas ranjang mereka, karena ia dan Arka belum mempersiapkan perlengkapan bayi di rumah villa tersebut.


"Besok kita beli box bayi!" usul Arka.

__ADS_1


Nasya menjawab dengan gelengan.


"Sepertinya tidak perlu, dia bisa tidur bersama kita." Nasya menjawab enteng, tanpa merasa bersalah sedikitpun atas perkataannya.


Ketika ia sudah meletakkan Dastan di ranjang, Nasya mendongakan wajah, terkejut melihat ekspresi masam Arka.


"Kenapa?"


"Serius?"


"Tentu, memangnya kenapa?" Nasya bertanya-tanya, tak mengerti. "Ada yang salah, ya?"


"Jika kita ingin ... " Arka membuat tanda kutip dengan kedua jarinya, mengisyaratkan sesuatu. "Bagaimana?"


Entah Nasya polos, atau bodoh, ia terlihat cuek dengan isyarat tersebut.


"Nasy—"


Nasya membelalak, kemudian membungkam mulut Arka dengan tangannya ketika Arka akan mengeluarkan suara yang menggelegar.


"Kau ini kenapa?!" ketus Nasya kesal.


Tanpa di duga, Arka membawa Nasya ke kamar tamu. Duduk di ujung ranjang, kemudian mendudukan Nasya di atas pangkuannya.


"Arka!" protes Nasya.


"Hampir dua bulan! Jangan siksa aku!" ucap Arka dengan nada memelas.


Arka menggeserkan tubuh Nasya, hingga bagian tubuh bawah yang kenyal itu bersentuhan dengan sesuatu yang mengeras.


"Apa maksudmu?!"


"Rasakan! Ada yang tegak, tapi bukan keadilan!" ucap Arka, menggesek-gesekkan bagian bawah Nasya dengan benda pusaka penghasil benih yang akan menjadi saudara-saudaranya Dastan.


"Ooo ..." Nasya membulatkan bibirnya.


Ia paham, sudah mengerti isyarat Arka. Bahkan dirinya tidak ingin menampik, bahwa ia juga menginginkannya.


"Maka dari itu, aku akan membeli box bayi!" ucap Arka, serak. Ia menempelkan wajahnya di leher Nasya.


"Tidak perlu!" tolak Nasya, membuat Arka frustasi. "Di sini ada 3 kamar, kita bisa menggunakannya!"

__ADS_1


"Astagaaaa...!!!" Arka menjerit, mengacak rambutnya kesal. "Please, Nasya! Jika dia terbangun saat kita ... " kembali mengisyaratkan tanda kutip, Arka kemudian meneruskan kalimatnya. "Bagaimana? Tidak mungkin menyudahi, lalu kau mengurusnya!" protes Arka.


"Itu deritamu! Dasar pria mes*m! Kau sudah punya anak, jangan hanya memikirkan dirimu!" umpat Nasya.


"Huh!" dengus Arka, sebal.


Posisi mereka tetap sama, hingga memunculkan ide licik lainnya dalam pikiran Arka.


"Dastan sedang tidur, ini sudah malam juga." kata Arka, penuh makna.


"Aku lelah, jangan memaksa!"


"Justru karena kita lelah, kita sekalikan saja lelahnya!" Arka terus membujuk Nasya.


"Ka, please! Kalau Dastan tiba-tiba bangun, kau juga yang akan tersiksa, bukan aku!"


Nasya akan segera pergi, kalau tangan itu tidak semakin melingkar erat di perutnya dan tonjolan yang di dudukinya tidak semakin mengeras, hingga gesekkan itu membangkitkan naluri ingin Nasya.


"Satu kali saja!" pinta Arka, memelas.


Arka tidak sadar, umpannya sudah memancing Nasya.


Ia tidak dapat jawaban dengan kata-kata, melainkan mendapat jawaban kontan dalam tindakan.


Nasya menyerang Arka dengan segala kelihaian yang ia pelajari selama menikah dengan Arka. Bahkan, kini ia sendiri yang memancing Arka dengan membuka kancing kemeja Arka, serta menurunkan resleting dress yang berada di bagian depan.


Dalam beberapa menit, keduanya sudah saling menikmati, kini waktunya memulai permainan inti.


Arka sudah bersiap dan memasang kuda-kuda untuk memasukkan pusakanya. Ia mendorong dirinya, menikmati setiap gesekan demi gesekan saat pusakanya akan di telan goa surga dunianya.


Namun, tepat saat setengah pusakanya baru saja masuk, harus di paksa keluar lagi.


"Apa aku bilang!"


"Sial!"


"Minggir!"


"Aku belum selesai!"


......................

__ADS_1


__ADS_2