Cinta Suami Pengganti

Cinta Suami Pengganti
Bab 54


__ADS_3

"Ibu tidak punya uang," wanita dengan pakaian lusuh itu menunduk.


"Terserah!" ketus anak gadis seumur Dastan itu, sambil berlalu pergi, tanpa memperdulikan kehadiran Nasya di sana.


"Maaf, Nyonya!"


"Ayahnya Helena kemana? Mengapa Ibu dan Helena yang harus bekerja? Siapa nama Ibu?"


Deg—


Wanita itu menunduk, ada tatapan kecewa dalam sorot matanya.


"Saya Inara. Ayahnya Helena ... "


Hening, Inara tidak meneruskan kalimatnya. Ia semakin tertunduk hingga tiba-tiba terdengar isakan.


Nasya mengusap-usap punggung Inara, hingga isakannya memelan.


"Aku dulu istri kedua dari seorang pengusaha kaya, tapi saat istri pertamanya mengetahui ini, dia mengusirku dan juga anak-anak dari rumahnya, sampai seperti ini."


Deg—


Nasya tidak menyangka nasib keluarga Helena setragis ini.


Dalam hati ia memikirkan sebuah rencana untuk hidup Helena dan keluarganya.


"Bu, bagaimana kalau Ibu bekerja dengan saya, di rumah saya? Saat ini kami sedang butuh asisten rumah tangga untuk membantu membersihkan rumah!" tawar Nasya, sambil tersenyum ramah.


"Maksud Nyonya?"


...****************...


Tepat di malam hari, setelah semua penjelasan Inara beserta kedua putrinya kini sudah berada di tempat bernaung yang sangat nyaman. Yakni, itu adalah rumah Nasya.


Ia kini resmi bekerja di rumah Nasya. Setelah sakitnya sembuh, ia akan langsung mengerjakan pekerjaan yang di tugaskan untuknya.


Ketika ia mengetahui keadaan Dastan, Inara sangat sedih, namun ia berusaha menghibur suasana, membuat kesedihan itu berganti dengan kehangatan.


Pagi hari telah tiba, ke empat anak kini akan sekolah bersama di sekolah yang sama, tentu saja biaya sekolah kedua anak perempuan Inara di biayai oleh Arka dan Nasya.


Pulang sekolah, Dastan, Zivan, dan Helena tidak langsung pulang ke rumah. Mereka berkunjung ke taman untuk mengerjakan tugas bersama. Kakak dari Helena yang memang memiliki sikap berbeda tidak ikut, ia langsung pulang sendiri berjalan kaki.


Siang itu suasana ramai, Helena yang baru beberapa hari mengenal taman itu duduk di bangku panjang berwarna putih yang menghadap ke danau.


Ia begitu terpesona dengan keindahan danau. Hingga, kakinya kini berada tepat di sisi.


Dastan dari kejauhan mengawasi, ia adalah anak yang selalu mengawasi teman-temannya.


"Hati-hati!" ucap Dastan, berteriak memperingatkan Helena.


Helena tidak menghiraukannya, tangannya sudah terulur untuk menyentuh air danau.

__ADS_1


Clik—


Sebuah cincin di jari tangan Helena lepas begitu saja dan masuk ke dalam air.


"Tidak!"


Helena seketika melompat, membuat Dastan di kursi roda ikut panik dan refleks berdiri.


"Lena!" teriak Dastan.


"Tolong!"


Semua yang berada di taman melirik ke arah Dastan, kemudian beralih ke arah Helena dengan salah satunya langsung berlari dan melompat ke danau, menyelamatkan Helena yang sudah akan tenggelam.


Dastan terdiam sendiri, di sisi lain terkejut dan panik Helena masuk ke danau, di tambah lagi dengan kakinya.


Ya, ia terus menunduk, memperhatikan kakinya yang sejak kecil tidak berfungsi, akan tetapi hari ini untuk pertama kalinya berpijak di tanah.


Dastan menggerak-gerakkan jari kakinya, kemudian mencoba mengangkat kakinya dan melangkah. Satu langkah, ia berhasil.


Dasta melihat beberapa orang memperhatikannya dengan wajah bingung.


Helena telah berhasil di selamatkan, Dastan kembali duduk di kursi roda, ia masih belum bisa senang, takut bahwa apa yang baru saja terjadi hanya sementara.


...****************...


"Helena, apa yang terjadi? Kenapa bajumu basah begini?" tanya Nasya, dengan panik, kemudian celingukan melihat keluar. "Di luar kan tidak hujan!" sambungnya dengan kebingungan.


Bruk—


"Bu Inara!" seru Nasya, sambil berlari dan segera mengangkat tubuh wanita yang tergeletak pingsan itu.


Arka yang baru saja pulang dari kantor tanpa basa basi langsung membantu Nasya mengangkatnya dan membawanya ke kamar.


"Ka, panggil dokter!" perintah Nasya.


Arka mengangguk, kemudian segera menelepon dokter.


"Anak-anak, ikut Papa!" Arka membawa ketiga anak itu menuju ruang yang di buat khusus untuk anak-anak. "Helena, ganti baju dulu, nanti bergabung di sini!"


Tanpa di duga, Helena menangis sesenggukan.


"Pak, Ibu kenapa?" lirih Helena, bertanya dengan suara parau.


"Ibumu akan baik-baik saja, mungkin cuma lelah. Sudah ya? Sekarang ganti baju, nanti kamu masuk angin!" perintah Arka, sambil mengusap rambut hitam pekat Helena.


Sementara di ruang bawah, Inara sedang di periksa dokter.


Setelah selesai, Nasya segera menanyakan keadaan Inara yang tampak pucat dan lemah.


"Dok, Ibu Inara ini sebenarnya sakit apa?"

__ADS_1


Dokter terlihat menghela napas dalam, matanya memicing tajam.


"Sakitnya belum pasti, tapi dari tanda-tandanya ... " ia menghentikan kalimatnya, tidak tega mengatakan apa yang saat ini ia duga pada pasiennya. "Sepertinya kanker rahim stadium awal," ucapnya, seperti petir yang menyambar di atas kepala Nasya.


"Apa?!" teriak Nasya.


Arka yang berdiri di ambang pintu dengan posisi menyandar langsung berdiri tegap.


"Itu baru diagnosis, untuk lebih jelasnya, Bu Nasya bisa memeriksakan Bu Inara ke rumah sakit yang fasilitasnya lengkap."


Setelah selesai menjelaskan dan memberi resep obat sementara, dokter di antar Arka untuk pulang.


Nasya masih tetap di sana, menunggu Inara dan menjaganya.


Nasibnya malang sekali, sudah jadi istri yang di campakkan, sekarang harus sakit keras. batin Nasya.


Bu Inara yang baru sadar langsung menatap Nasya dengan mata berkaca-kaca.


"Bu, kalau umur saya tidak panjang, saya titip anak-anak saya!" ucapnya lemah.


"Bu Inara jangan bicara seperti itu! Tenang saja, kami akan membantu ibu berobat sampai sembuh! Saya yakin, ibu pasti sembuh!" ucap Nasya, dengan penuh keyakinan. Membuat Inara tersenyum. Ia menangis haru, di saat keadaannya tak memungkinkan mengurus kedua putrinya, Tuhan mendatangkan Nasya dan Arka yang bersedia membantunya.


"Saya berhutang banyak pada anda," lirih Inara dengan suara lemah.


"Besok kita ke rumah sakit, mungkin saja diagnosa dokter salah!" ucap Nasya, percaya diri.


"Helena, tadi dia ... "


"Dia baik-baik saja, saya akan mengurusnya. Bu Inara tenang saja, jangan banyak pikiran! Sekarang ibu istirahat saja, fokus pada kesembuhan!" ucap Nasya, sambil menggenggam erat tangan Inara dan menyemangatinya.


Arka di lantai atas kini fokus pada anak-anaknya, hanya satu yang tidak hadir di ruang yang khusus ia pakai untuk bermain dan belajar anak-anaknya itu, yaitu Dastan.


Ia sedari tadi merasa aneh, karena Dastan selalu ikut berkumpul, tidak dengan kali ini yang lebih betah sendiri di kamar.


Di ruang kamarnya, Dastan menurunkan sebelah kakinya dari pijakan kursi roda. Peluh membasahi dan menetes di dahinya. Tangannya gemetar.


Kemudian menurunkan lagi kakinya yang lain dan berpegangan pada kursi roda.


Berdiri, ia sangat bahagia. Kakinya benar-benar berdiri dan berpijak di atas lantai. Dastan melepaskan pegangannya, berjalan pelan.


Satu langkah,


Dua langkah,


Hingga beberapa langkah, ia berhasil berjalan meski masih agak sempoyongan.


Klek—


"Das—"


"Mom!"

__ADS_1


__ADS_2