Cinta Suami Pengganti

Cinta Suami Pengganti
Bab 43


__ADS_3

Ngetik, jari gemetaran, mata dah lengket kayak di kasih lem. Entah kenapa belakangan ini sering banget ngantuk di siang hari padahal gak begadang... 😴😴😴


"Bandung," gumam Arka memperhatikan setiap kata nama kota di tabel keberangkatan kereta yang akan membawanya pergi.


Saat berhasil menemukan nama kota yang terkenal dengan sebutan kota kembang dan kota Parahyangan tersebut, Arka tersenyum penuh kebahagiaan.


Ini pertama kali baginya mengunjungi kota yang di kenal dengan cuaca sejuk tersebut.


Setelah menyelesaikan masalah surat perpisahan, hari ini di pagi buta Arka bertolak menuju Bandung demi Nasya dan calon bayinya, setelah dengan memelas meminta alamat tempat tinggalnya pada kedua mertuanya.


Kesabaran dan juga usaha akan selalu berbuah manis, itu yang Arka percaya.


Berjam-jam perjalanan terasa berminggu-minggu bagi Arka. Akhirnya ia akan bertemu juga dengan sosok wanita yang sangat ia rindukan.


Sore hari, pemuda yang selalu berpakaian formal di luar itu akhirnya sampai di alamat yang di tujunya, melihat seorang wanita tengah duduk di rumput hijau halaman, melangkah pelan kemudian duduk di sampingnya.


"Apa kabar?" tanya Arka dengan isakan penuh rasa haru.


Wanita itu tersentak, merasa suara di sampingnya mungkin saja hanya salah dengar. Mana mungkin Arka ada di sini, pikirnya sambil terkekeh geli.


"Apa kau tidak rindu berebut ranjang denganku?"


Degβ€”


Nasya terdiam, kemudian terkekeh lagi tanpa melirik ke belakang ataupun ke samping. Masih percaya bahwa itu hanya sekedar halusinasinya saja.


Degβ€”

__ADS_1


Ketika tangan kekar itu melingkar di perutnya, baru Nasya melirik ke belakang. Ia tidak sedang bermimpi, dalam satu sentakan ia sudah melepaskan pelukan Arka.


"Kapan kau ke sini? Bagaimana bisβ€”"


Arka membungkam Nasya dengan sebuah kecupan hangat yang cukup lama.


"Masuk, yuk? Di sini sangat dingin!" ajak Arka, ia benar-benar merasa kedinginan. Bukan berpura-pura.


Menarik tangan Nasya masuk, Arka membawanya duduk di sofa. Menggesek-gesekkan kedua telapak tangan, Arka berusaha menghangatkan dirinya.


"Ka, bagaimana bisa kau ke sini? Untuk apa? Bukankah kita sudah berpisah? Kemarin Mama mengantarkan surat bukti perpisahan kita pada Mommy dan Daddy, tapi sekarang kau ada di sini? Jangan mempermainkan aku, Ka!" ucap Nasya dengam suara bergetar, bisa Arka pastikan bahwa wanita yang entah kapan memotong rambutnya menjadi sepanjang sikut tangannya itu akan menangis.


"Ka!" benar saja, detik berikutnya Nasya sudah terisak.


"Tidak ada kata berpisah dalam kamusku, meskipun kita menikah secara terpaksa! Cinta bisa datang karena terbiasa, kini aku mencintaimu!"


Arka menarik tangan Nasya, memeluknya erat.


Isakan Nasya semakin terdengar jelas, Arka mengecupi kening Nasya.


"Lalu surat itu?" Nasya melepaskan dirinya dari pelukan Arka, mulai mempertanyakan apa yang ingin di tanyakannya.


"Mama yang membuatnya, itu palsu. Aku tidak tanda tangan surat apapun! Bahkan merobeknya di depan Mama." jelas Arka, tentu saja membuat alis Nasya mengkerut, heran.


"Kenapa ada ibu yang seperti itu?"


"Dia bukan ibu kandungku, dia hanya membesarkan aku, bukan melahirkanku."

__ADS_1


Nasya tidak bertanya lebih lanjut lagi, ia memilih membawa Arka duduk. Melihat Arka gemetar kedinginan, Nasya segera mengambil selimut. Memberikannya pada Arka, kemudian bergegas ke dapur dan tak lama kembali dengan membawakan secangkir cokelat hangat.


"Aku tidak butuh ini sepertinya untuk kembali hangat," ucap Arka dengan suara yang sudah mulai berbeda.


"Apa yang kau butuhkan? Mungkin aku bisa buatkan, atau ambilkan!"


Arka tersenyum penuh kelicikan, ia menggenggam tangan Nasya, menggosoknya lalu mengecupnya. Meraih tengkuk leher belakang Nasya dan menariknya hingga wajah mereka saling berdekatan.


"Arka!" tegur Nasya, berusaha melarikan diri, namun di cekal Arka hingga tubuhnya jatuh menimpa Arka.


"Aku sedang mengandung anakmu!" protes Nasya, sambil memegangi perutnya, seakan khawatir terjadi sesuatu pada bayinya.


"Aku ingin menengok anakku di dalam sana! Hanya cara itu yang bisa menghangatkanku!" ucap Arka, memelas.


Menengol, tentu saja dalam artian lain.


"Tidak!"


"Ya, sekarang, di sini!" Arka menunjuk sofa beludru berwarna coklat tersebut.


"Kau sudah tidak warassss... Akhβ€”!"


......................


Arka nyusulin jadi cuma buat Nana Nina ya 😏😏😏


Lanjut besok siang ya!!!

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya, boleh berupa bunga, author gak ada yang kasih bunga pas hari valentine tempo hari 😏😏😏


Kalian jangan lupa Nana Nina ya, buat yang punya suami!!! Yang gak punya pakai timun atau terong sajaahh πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2