
"Mom, aku ingin pindah ke Bandung saja."
Nasya berbicara di tengah-tengah acara makan malam bersama ayah dan ibunya.
Tentu saja permintaan itu mengejutkan, hingga membuat Adrian tersedak makanan yang baru saja di kunyahnya. Mira segera memberikan segelas air minum.
"Kita sudah membahasnya tadi kemarin, bukan? Daddy akan menampung anakmu di dalam kartu keluarga Daddy dan Mommy! Jangan khawatir mereka menganggap anakmu hasil perbuatan tidak benar!" ucap Adrian, tak lepas dengan mencoba menenangkan putrinya.
"Bukan soal itu, Dad! Anak ini bukan hasil perbuatan di luar pernikahan. Jelas ini anaknya Arka, hanya saja...—"
"Apa?"
"Aku ingin Arka tidak tahu bahwa ini anaknya, dia hanya akan jadi anakku." Nasya menegaskan.
Adrian menghela napas panjang, kemudian menghembuskannya kasar.
"Kita tidak boleh seperti itu, jika anak laki-laki tidak apa-apa. Lalu bagaimana jika anak itu perempuan? Kita jelas memerlukan ayah kandungnya untuk menikahkannya suatu saat nanti!" tegas Adrian.
Hening, kemudian terdengar suara denting sendok beradu dengan piring satu kali. Adrian yang menjadi sumber suara itu.
"Tapi, kalau kamu belum siap, boleh mempersiapkan diri untuk mengatakannya pada Arka."
Angin segar seakan berhembus di dalam tubuh Nasya, akhirnya ia memiliki kesempatan untuk memulai hidup baru. Rencana yang telah di susun sendiri akan berjalan seperti harapannya.
"Thank's, Dad!"
Menyudahi acara makan malam, mereka bergegas masuk ke kamar masing-masing. Nasya dengan antusias menyiapkan koper dan memasukkan sebagian besar pakaian-pakaiannya ke dalam. Mengambil uang tunai yang selama ini di simpan di dalam tempat penyimpanannya.
"Semoga ini cukup," gumam Nasya sambil memasukan sejumlah uang itu ke dalam tas jinjing kecil.
Malam seperti begitu cepat berlalu, hingga matahari sudah bersinar kembali saat seorang gadis tengah memasukan koper yang ia siapkan tadi malam ke dalam bagasi mobil.
"Berapa lama akan pergi?" tanya Mira, heran, melihat koper besar yang di bawa putrinya.
"Mungkin agak lama, Mom, tapi jangan khawatir! Aku akan baik-baik saja dan bisa menjaga diri sendiri!"
"Jangan lupa cek kandungan jika lebih dari 1 bulan!" pesan Mira, yang langsung di angguki Nasya.
Mereka melepas putri mereka ke tempat yang sangat jauh, namun tak begitu khawatir karena Adrian sang kepala rumah telah mengirim seseorang yang di sangat di percaya secara diam-diam untuk mengawasi setiap harinya Nasya.
Berbekal villa kecil milik Adrian di bandung, tentu saja Nasya tak akan kebingungan mencari tempat tinggal.
Baru saja hendak masuk kembali ke dalam rumah, deru mesin mobil yang berbeda dan asing terdengar oleh telinga pasangan yang tak lagi muda tersebut.
"Kalian jangan masuk dulu! Karena aku ingin berikan sesuatu yang sangat penting!"
Suara itu sudah familiar, setelah dalam 1 bulan sang pemilik suara sering berkunjung tanpa di undang.
"Nyonya Ekasatria, ada keperluan apalagi anda kemari? Belum cukup menghancurkan rumah tangga anakmu sendiri?" Mira merespon dengan sinis.
__ADS_1
Aisha turun dari mobilnya lalu melangkah dengan gaya bak seorang ratu yang baru saja memenangkan sayembara.
"Tenang saja, setelah ini anda tidak akan mendapati saya berkunjung lagi tanpa di undang. Terimalah, semua sudah selesai!" menyerahkan amplop berwarna coklat, dengan bangga tanpa berkata apapun lagi Aisha segera kembali memasuki kendaraan beroda empat yang biasa di pakai Arka.
Mira dan Adrian saling melirik, merebut amplop itu dari tangan Mira, pria berusia sekitar di atas 50 tahun itu segera membukanya.
Ia memegangi dada, sedikit shock dengan tulisan suratnya.
"Arka dan Nasya resmi berpisah?" ucap Adrian, hampir setengah berbisik, tak percaya.
Merebut surat itu, Mira sama shocknya dengan Adrian. Baru saja berencana akan membenahi hubungan mereka, namun rencana itu harus kandas sebelum waktunya.
"Aku tidak percaya ini!" seru Mira dengan nada suara sendu.
"Kenyataan sudah di depan mata, bahkan tepat di dalam genggamanku."
Merangkul istrinya, Adrian memasukannya ke dalam dekapan saat isakan lirih mulai terdengar.
"Aku pikir Arka benar-benar ingin bertahan setelah dia semalaman duduk di depan gerbang rumah kita!"
...****************...
"Nasya Widiatama yang kau ingin tahu datanya itu, Ka?"
Arka menganggukkan kepalanya antusias, sementara wanita berjas putih yang mengabdi untuk mengobati orang-orang yang sakit itu mengulurkan tangannya, memberikan sebuah amplop panjang berwarna putih.
Arka dengan tangan gemetar dan rasa penasaran yang tinggi menerimanya.
Deg—
Perlahan Arka membukanya, tangannya gemetar lagi bahkan perasaannya sudah tak karuan.
Pelan, hingga isi amplop itu kini sudah keluar.
Arka membuka lipatan demi lipatan kertas itu, sungguh baginya itu sangat mendebarkan. Berharap apa yang ia harapkan di nyatakan tertulis.
Matanya menelusuri setiap kata-kata yang tertulis dengan tinta hitam, hingga di ujung, ia segera merem*s kertas itu. Air mata lolos membasahi pelupuk matanya.
Mengusap air mata dengan jempol, Arka segera pergi dari ruangan itu membawa kertas yang masih tergenggam di tangannya.
"Aku akan menjemputmu!" ucapnya tegas, dengan langkah cepat. Memasuki mobil berwarna putih dan melajukannya cepat.
Ia kini sudah berada di halaman luas milik rumah keluarga Widiatama, memencet bel berkali-kali hingga sang penghuni rumah menunjukkan wajahnya.
"Arka?"
"Mana istri dan anakku, Dad?"
Tercengang, Adrian tidak mengerti pria yang sudah berstatus mantan menantunya itu mengetahui darimana tentang kehamilan Nasya.
__ADS_1
"Kau salah, dia sudah mantan istrimu!" Adrian terkekeh, sinis.
"Dad, jawab, dimana Nasya dan calon anak kami?"
"Kau sudah berpisah dengannya, tidak usah mencarinya lagi! Dia sudah bahagia dengan hidup barunya!" Adrian menegaskan. Dari belakang, tampak sang nyonya rumah datang.
"Memang sejak kapan kami berpisah?"
Mira yang belum membuka suara masuk kembali ke dalam, tak lama sudah berada di luar dengan selembar kertas di tangannya.
"Ibumu, dia yang memberikan ini tadi pagi pada kami! Apa kau ingin mengelak lagi? Jelas, surat ini hanya akan muncul jika kalian menandatangani surat perpisahan!"
Mira melempar surat itu ke wajah Arka.
Di ambilnya surat itu, di bacanya dengan teliti.
"Mom, Dad, aku bersumpah tidak pernah menanda tangani surat apapun! Bahkan aku merobeknya di depan Mama saat dia memberikannya padaku! Aku tidak ingin berpisah dengan Nasya!"
"Kau bercanda?"
"Tidak! Aku bisa membuktikannya!"
Arka mengeluarkan ponselnya, menelepon seseorang dengan nada suara yang sangat formal.
"Aku perlu pemeriksaan dalam sebuah surat, bisakah kau datang ke rumah keluarga Widiatama?"
Tak lama, telepon selesai.
"Mom, Dad, jika aku terbukti tidak menanda tangani surat itu, tolong izinkan aku menemui Nasya!" pinta Arka, terlihat seperti tawaran.
Sepasang suami istri itu saking melirik, kemudian memberikan respon yang sungguh membuat Arka sedikit bahagia.
Dalam waktu setengah jam, orang yang di telepon Arka sudah duduk bersama di ruang tamu. Matanya dengan kacamata meneliti surat perpisahan yang di antarkan Aisha tadi pagi.
"Ini surat palsu,"
"Apa?!" ucap Mira, shock.
"Siapa yang memberikan surat ini?"
"Aisha Ananda Ekasatria,"
"Kalian bisa menuntutnya ke pengadilan, karena jelas ini pemalsuan!"
"Mom, Dad, sekarang izinkan aku bertemu Nasya!"
"Temuilah dia, carilah dia, jika kau menemukannya, maka aku tidak akan melarangmu lagi!"
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Nasya sudah pergi tadi pagi."