Cinta Suami Pengganti

Cinta Suami Pengganti
Bab 49


__ADS_3

"Bayi anda di sana, Pak." seorang suster menunjukan ruangan yang menjadi tempat bayi Arka saat ini. Di dalam *incubator*, terlelap dengan beberapa alat yang terpasang.


Namun, bukan itu yang ingin Arka lihat dan ketahui keadaannya.


"Istriku?"


Semua diam, tak berani menjawab.


Perasaan Arka menegang, khawatir, takut, serta berbagai perasaan lainnya yang mewakili suasana hatinya. "Mana Nasya?"


Rangga yang di lirik pertama kali menunduk. "Ada, Pak." ia menjawab tanpa berani mengangkat kepalanya apalagi bertatapan dengan Arka.


"Silahkan Bapak ikut kami," ajak seorang wanita berjas putih yang tadi membawanya ke ruangan bayinya di rawat.


"Aku ingin membawa anak kami menemuinya!" pinta Arka, dengan suara tegas.


Dokter yang iba melihat keadaan Arka langsung membuka tempat tidur bayi mungil merah itu, mengangkatnya dengan alat-alat yang masih terpasang.


Kemudian memberikannya pada Arka.


"Bayi anda berjenis kelamin laki-laki, dengan berat 1,9 kilogram dan panjang 40 sentimeter. Dia lahir dengan ... " sesak, dokter itu seakan tidak sanggup mengatakan apa yang sejak tadi ingin di jelaskan.


"Apa dokter? Anak kami kenapa?"


Hening, tak ada jawaban.


"Rangga!" tegur Arka, asistennya itu gemetar.


"Sedikit kemungkinan baginya untuk bisa berjalan, Pak."


Sekali lagi, petir seperti menyambar di atas kepala Arka. Duka tak henti-hentinya datang dan menyiksa batinnya.


Ia menatap bayi mungil yang berada di dekapannya. Mengecupnya dengan penuh cinta dan kelembutan.

__ADS_1


"Aku tidak peduli, dia tetap anakku, meski terlahir tak sempurna. Aku akan tetap jadi ayahnya, akan ku berikan nyawaku untuk hidupnya bila perlu!" Arka menegaskan.


Dua orang itu di buat terharu, mereka baru menemukan sosok orang tua yang hidup tanpa kekurangan harta, bahkan dari keluarga terpandang namun tidak menolak ketika salah satu anaknya lahir dengan kekurangan.


"Bawa aku pada istriku, Dok!"


Melangkah dengan langkah pelan, hingga sudah sampai di depan sebuah ruangan bertuliskan ICU. Sudah terlihat dari kaca, wanita dengan wajah pucat dan banyak alat terpasang di tubuhnya terbaring tak berdaya.


"Pasien hanya memiliki kemungkinan 20 persen untuk sadar," ucap dokter, dengan suara pelan.


Arka memejamkan matanya, merasakan sesak yang mendalam.


Pintu di buka, Arka berjalan cepat dan duduk di samping ranjang dimana Nasya terbaring. Memberikan bayi mungilnya pada dokter kembali, Arka beralih menggenggam tangan Nasya yang terpasang jarum *infuse* serta alat lainnya.


"Aku percaya, Tuhan yang menentukan segalanya. Aku harap Tuhan juga percaya padaku, mempercayakanmu lagi padaku, hidup bersama dan membesarkan anak kita. Aku tidak akan memaksamu membuka mata, bukalah matamu jika kau ingin. Meski hanya sebentar, untuk melihat betapa kau sangat di butuhkan dalam kehidupanku ini."


Begitu tegarnya Arka, dalam mengucapkan kata-katanya. Tak ada air mata yang berhasil lolos satu tetes pun. Senyuman sendu yang hanya ia perlihatkan.


Tiba-tiba bayi dalam dekapan dokter menangis dengan keras. Dokter tersenyum penuh haru.


"Keadaan pasien mulai stabil!"


Petir menyambar berganti dengan pelangi di hati Arka, tangis bayi bersamaan dengan naiknya keadaan Nasya membuatnya sangat terharu.


Arka bersujud di lantai, tangisnya pecah.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Satu minggu sudah, sejak Nasya sadar setelah 2 hari keadaannya di nyatakan stabil.


Kini ia tengah mendekap bayinya yang masih terpasang alat tidak sebanyak sebelumnya di tubuhnya.


"Kalian akan menamakan siapa bayi mungil ini? Astaga, aku seperti melihat bayi kelinci melihatnya sekecil ini!" Mira yang baru datang membuat sedikit gurauan yang membuat gelak tawa lolos dari mulut Arka.

__ADS_1


"Mom, jahat sekali pada cucumu sendiri!" ketus Mira.


"Jadi, siapa namanya?"


"Hmm... " berdekham, Nasya melirik Arka yang duduk dengan mata lelahnya di sudut.


Arka berdiri, kemudian sudah duduk di samping Nasya.


"Aku belum mempersiapkan namanya, karena aku tidak pernah tahu jenis kelaminnya saat di kandungan."


"Payah sekali!" umpat Adrian. Memberikan lirikan sinis pada Arka.


Arka terkekeh, dengan satu pukulan mendarat dari istrinya di bagian tangannya.


Mereka berdua belum tahu keadaan bayi mungil tersebut yang sebenarnya, hanya Arka, Nasya, Rangga dan juga dokter yang menangani yang tahu. Nasya melirik Arka, yang mendapat anggukan dari Arka.


Mereka sudah berjanji bahwa keadaan bayinya akan di rahasiakan, begitu juga dengan identitasnya agar kelak tidak ada yang mengejeknya.


"Daddy yang akan beri dia nama, boleh kan?"


Arka dan Nasya mengangguk.


"Archi Matteo Dastan Ekasatria!" seru Adrian.


"Semua akan memanggilnya Teo!"


"Tidak! Nama macam apa itu!" protes Nasya, ibu dari bayi itu terlihat kesal dengan nama pilihan sang kakek dari bayi.


"Dastan Matteo Arkananda Ekasatria!" ucap Nasya.


"Baiklah," Adrian menggalah.


"Semua akan memanggilnya Dastan."

__ADS_1


..................


**Belum tamat!!!** 😂😂😂🤣


__ADS_2