Cinta Suami Pengganti

Cinta Suami Pengganti
Bab 44


__ADS_3

Memutuskan menetap di bandung, menjauhi apa yang selama ini menjadi pengganggu, Arka dan Nasya sudah beberapa bulan tinggal di sana.


Arka merintis perusahaan baru bermodal dari sang mertua, bercampur dari menutup perusahaan milik papanya, Ananda, yang selalu jadi incaran Aisha dan keluarganya.


"Sudah lama kita tidak ke Jakarta, kapan kita pulang, Ka?" tanya Nasya, perutnya sudah terlihat buncit karena memasuki usia kehamilan ke empat bulan.


Sejak bersatu kembali dengan Arka, ia memiliki kebiasaan dimana suka sekali mengganggu Arka saat bekerja di malam hari.


"Nanti, kalau perusahaan kita sudah stabil, lagipula kau sedang hamil mana boleh melakukan perjalanan jauh?" jawab Arka, dengan pandangan mata yang tetap fokus pada laptopnya meski tangan mulus istrinya itu melingkar di lehernya.


"His!" desis Nasya, kesal. Seketika pria yang duduk di kursi kerjanya itu mematikan laptop, menyudahi kerja malamnya dan mengikuti langkah wanita dengan bibir yang sudah mengerucut itu.


"Kenapa?"


"Kau tidak pernah punya waktu untukku!" protes berhasil ia luncurkan, berharap pria yang membuat perutnya membuncit itu membawanya keluar berjalan-jalan malam.


"Apa yang kau inginkan?"


"Kau menawariku, atau menyindirku?"


"Ck, sekarang kau sudah suka berdebat rupanya!" ketus Arka, sambil membaringkan diri di samping Nasya yang tidur memunggunginya. "Bangun!" perintahnya, membuka kembali selimut yang sudah di pakai menutupi kepala.


"Tidak," Nasya menarik lagi selimutnya. Beberapa saat kemudian, sudah membukanya dan tersenyum seringai.


"Di alun-alun Lembang ada pameran sehari, Ka! Kita jalan-jalan ke sana?" Nasya berbinar ketika menyebut nama pameran.


Arka dengan rasa malas yang tinggi mengangguk samar. "Tapi nanti turuti yang aku inginkan!" pinta Arka, tersenyum seringai.

__ADS_1


Wajah Nasya berubah masam, meski begitu demi jalan-jalan malam ia tetap menyetujui permintaan yang berupa syarat dari Arka.


"Asalkan kau tidak memintaku bergaya telungkup!" ketus Nasya, lebih seperti sedang menggerutu.


...******************...


Kini sepasang suami istri yang tengah menanti kehadiran calon buah hati itu sudah sampai di pameran malam yang Nasya katakan.


Angin malam yang dingin berhembus mengenai tubuh Arka, begitu menusuknya dingin tersebut, membuat Arka segera mencari minuman hangat.


"Aku beli minuman hangat dulu! Jangan kemana-mana, nanti aku kembali!" perintah Arka, sambil berjalan.


Nasya mendudukan diri di bangku panjang yang berwarna merah. Ia menikmati cemilan yang di belinya saat memasuki kawasan pameran.


Ketika asyik dengan cemilan, tiba-tiba saja ia tersedak, membuatnya berhenti memakannya dan segera mencari tempat yang menjual air mineral.


Bruk


"Ah, maaf, tidak sengaja!" ucap Nasya ketika dirinya bertabrakan dengan seorang pria hingga menjatuhkan ponsel pria itu. Beruntuk tidak rusak, karena kawasan itu beralaskan rumput.


"Tidak apa-apa, Nasya,"


Deg—


Suara yang begitu Nasya kenali, pemiliknya bisa ia tahu sosok yang sudah lama terlupakan. Nasya menegakkan tubuhnya pelan-pelan, tanpa mengangkat kepalanya, ia menyerahkan ponsel itu.


Pria itu meraih ponselnya, tersenyum memperhatikan wajah Nasya.

__ADS_1


"Apa kabar? Kau tampak semakin cantik saja, setelah lama kita berpisah."


Tanpa menjawab pertanyaan pria itu, Nasya segera berbalik. Sayang, tangannya di cekal hingga ia kembali menghadap sosok yang tak ingin di lihatnya.


"Lepas! Suamiku menungguku!"


Pria itu terkekeh, kemudian memberikan ekspresi tidak percaya.


"Secepat itu melupakanku? Ah, sungguh rasanya aku tidak percaya!" ketusnya.


"Sepertinya kau buta ya? Lepaskan!" bentak Nasya, sambil menghempaskan tangan pria di hadapannya. Membuat jaket yang tertutup di bagian bawah terbuka, memperlihatkan perut yang sedikit mengembang.


"A-apa? Jadi kau benar-benar sudah memiliki suami?" tanya pria bertubuh tinggi itu, tak percaya dengan apa yang kini di lihatnya sendiri. Menunjuk perut Nasya, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.


Itu menjadi kesempatan Nasya untuk pergi, ia mencari Arka ke sana kemari, namun pria itu terus saja mengikuti.


Sekali lagi Nasya harus terhenti, ketika pria itu mencekal tangannya.


"Lepaskan!" teriak Nasya.


"Aku masih mencintaimu, aku menyesal sudah mengkhinatimu dengan Tiara!"


Bugh...


"Berani sekali kau menyentuh istriku!"


................................

__ADS_1


Kesorean, maaf ya, nanti malam aku up lagi.


__ADS_2