
"Arka, stop, Ka!" Nasya melerai Arka yang sejak tadi tak berhenti memukuli pria yang sudah berani menyentuh Nasya.
"Dia harus di beri pelajaran! Beraninya menyentuhmu!"
Arka yang sudah terbakar api amarah serta cemburu meraih kerah kemeja berwarna merah yang di kenakan pria itu, menariknya hingga terbangun.
"Kau tidak tahu ya? Dulu aku dan Nasya melakuka lebih dari itu!" sinis pria itu.
*Plak...*
Tamparan keras mendarat di pipi laki-laki bertubuh tinggi tersebut.
"Wira!" teriak Nasya, mengarahkan jari telunjuknya tempat ke wajah Wira. "Tidak sepantasnya kau berkata seperti itu! Kita tidak pernah melakukan lebih dari sekedar pelukan!" Nasya membantah, mengundang tawa sinis Wira.
"Itu sebabnya, aku dan Tiara—"
"Laki-laki yang baik tidak akan pernah menuntut lebih di luar ikatan pernikahan, beruntung Nasya tahu keburukanmu dan secepatnya meninggalkanmu! Aku tidak pernah ingin tahu, apalagi peduli bagaimana masa lalu Nasya ketika bersamamu." ucap Arka dengan nada suara tegas, membuat Nasya seketika terharu.
"Yang aku tahu, saat ini aku harus membahagiakan Nasya dan memenuhi segala keinginannya, terutama mencintai dan menyayanginya. Aku percaya, dia wanita yang baik, istri dan calon ibu yang baik."
Arka meraih tangan Nasya, membuat jari mereka saling tergenggam, bertautan dengan manisnya.
"Ayo, kita pulang!" ucap Arka, melepaskan genggaman tangan dan merangkul Nasya dengan lembut dan mesra.
Wira seakan tak percaya, kini Nasya terlihat amat bahagia. Terlihat dari raut wajahnya yang berseri-seri, berbeda seperti pada saat ia dan wanita bertubuh mungil itu masih memiliki hubungan, Nasya tidak pernah sebahagia itu.
"Sial!" umpat Wira, sambil berjalan sempoyongan menahan rasa sakit di sekujur tubuh.
__ADS_1
Memasuki mobil yang terparkir tak jauh dari area pameran. Niat keluar kota untuk menemui Nasya yang kabarnya sendiri, ia malah mendapat bonus yang sangat mengejutkan melihat perut buncit Nasya dan mendapat pukulan dari suaminya.
"Aku akan merebut kembali apa yang pernah menjadi milikku!" ucap Wira, yakin. "Pertama, aku harus menemukan celah untuk membuat laki-laki itu terusir dari dalam hidup Nasya!"
********************
"Ka, lain kali jangan memukulinya lagi! Aku takut kau masuk ke penjara lagi!" Nasya merengek di dalam mobil.
"Sudah aku bilang diam di tempat! Kau malah berkeliaran sampai bertemu laki-laki itu! Dia mantanmu, bukan? Lihat saja, jika berani menyentuhmu lagi akan ku patahkan tulang-tulangnya! Akan ku patahkan rudal penjahat wanita itu sampai tidak bisa menanam benih lagi!" Arka menegaskan, membuat Nasya mengeluarkan ekspresi shock.
"Aku haus, karena tersedak cemilan yang kau beli! Jadi aku mencari penjual minuman dan tida—"
"Tidak sengaja bertemu dengannya!" potong Arka, sambil memberikan tatapan mengejek pada Nasya.
Hari sudah semakin larut malam, ketika Arka sudah berada di jalan menuju komplek villa tempat tinggalnya selama ini bersama Nasya di bandung.
"Aku ingin es krim!"
Beberapa saat berdebat, karena Arka tidak setuju jika Nasya memakan apapun yang dingin di malam hari. Namun, karena rengekan Nasya akhirnya ia mengalah dan memutar balik mobil menuju minimarket terdekat, membeli es krim sesuai permintaan Nasya.
Memakan es krim di dalam mobil, membuat Nasya sangat bahagia. Ia melahap es krim dengan ekspresi yang membuat Arka tiba-tiba merasakan darahnya berdesir lebih cepat secara tidak sengaja.
"Pulang, yuk?!" ajak Arka.
"Kenapa?"
"Aku sudah tidak tahan! Kau menggodaku terus!"
__ADS_1
Melajukan mobil dengan cepat, sampai tidak terasa kini sudah terparkir di garasi yang di bangun di bagian samping rumah. Arka menarik tangan Nasya, berjalan cepat dan memasuki kamar terdekat.
"Ini kamar tamu!" protes Nasya, dengan ekspresi kesal.
"Tidak apa-apa, lagipula tidak sedang ada tamu!" Arka menegaskan, membuka tiga kancing kemeja atas, merebahkan Nasya di atas ranjang.
Membuka jas yang sejak sore saat pulang dari kantor belum terlepas, Arka membuangnya sembarangan.
"Ka!"
"Jangan merengek! Biarkan aku melakukan tugasku!" Arka menahan tangan Nasya yang menghalanginya untuk pemanasan.
Selama beberapa saat, sampai akhirnya hasr*t itu semakin memuncak, membuat Arka melepaskan seluruh benang yang menutupi tub*h polos mereka.
"Akh, pelan-pelan, Ka!" protes Nasya ketika benda tumpul itu baru masuk sedikit saja.
"Ya, ini sudah sangat pelan." Arka berucap sambil memejamkan mata, menahan sesuatu yang memuncak di kepalanya.
"Akh..."
*Ting*
"Astagaaaa...!!!"
..........................
Ada apa ya? 😂 Sudah sesuai dengan malam ini, ceritanya kan? malam jumat!!! 🤣
__ADS_1