Cinta Suami Pengganti

Cinta Suami Pengganti
Bab 50


__ADS_3

Sambutan meriah yang ada ketika Nasya dan Dastan pulang ke rumah, rasa haru bercampur sedih menghiasi suasana.


Sedih karena nenek lainnya dari bayi Dastan malah berpulang ke tempat terakhirnya, bahagia karena akhirnya setelah satu bulan di rumah sakit, bayi merah tersebut sudah boleh di bawa pulang.


Di sisi lain, ada kesedihan tersendiri ketika keluarga menyambut. Nasya dan Arka merasa memiliki dosa besar, kala menyembunyikan kekurangan sang bayi.


"Selamat datang, Dastan!" sambut Adrian, dengan merentangkan tangan memperagakan seseorang yang ingin memeluk.


Kemudian mengulurkan tangan, menggendong Dastan kecil yang mewarisi wajah tampan ayahnya. Meski begitu, mata dan bibirnya mewarisi mata indah dan bibir tipis milik ibunya.


Baru saja beberapa menit dalam gendongan Adrian, ia merengek dan menangis. Adrian sedikit melihat kejanggalan, saat hanya tangan dan wajah Dastan yang bergerak. Kakinya hanya diam saja.


Namun ia berusaha menepis pemikiran buruknya itu jauh-jauh, berpikir positif.


Malam telah tiba, menggantikan tugas matahari yang menjadi penerang di siang hari. Bayi kecil yang baru berusia satu bulan itu sudah terlelap dalam gendongan Mira.


Sedang Nasya kini sedang di tanyai oleh dua laki-laki penting di hidupnya.


"Saat kejadian itu, mobil sedan yang mengikuti taxi yang kami tumpangi. Supir taxi yang melajukannya bahkan sedikit mencurigakan, dia seperti sengaja menghantamkannya ke beton pembatas jalan." Nasya menjelaskan rincian sedikit demi sedikit kecelakaan yang menimpanya.


"Sedan? Warna apa? Apa kau masih mengingat bentuk dan ciri-cirinya? Nomor polisinya?" pertanyaan terus Arka lontarkan.


Nasya menjawab seluruh pertanyaan Arka, sejelas mungkin. Sampai Arka diam, tak bertanya lagi. Adrian sudah paham dengan sifat dan sikap menantunya jika sudah mengetahui sesuatu.


"Aku serahkan padamu, berikan aku sisanya saja!" ucap Adrian, yang langsung di angguki Arka.


"Aku titip Nasya, Dad."


Adrian mengangguk, ia sudah mengerti Arka akan kemana.


"Ka, kita baru saja pulang!"


"Aku akan segera kembali, harus ada bayaran atas apa yang menimpa Dastan dan juga dirimu!"

__ADS_1


Tanpa mendengarkan perkataan Nasya lagi, Arka segera bergegas pergi.


...****************...


"Sudah satu bulan, semua aman bukan? Tidak ada pergerakan apapun lagi dari Arka, bahkan dia tidak mengerahkan polisi untuk mencari pelakunya!" sinis seorang wanita, dengan ciri khas yang sangat familiar. Rambut di potong pendek, pakaian ketat, dan juga riasan wajah yang membuatnya semakin terlihat cantik.


Perut sedikit membuncit yang berusaha ia tutupi dengan selendang berwarna merah maroon.


"Ya, tentu saja."


Seorang pria duduk bertumpang kaki di atas kursi kerjanya. Sementara wanita yang sejak tadi berdiri di belakang, langsung berpindah posisi di samping dan menepuk pundak pria itu.


"Aku harap kau tepati janjimu!"


Pria itu tertawa sinis, ia membalikan kursi hingga saling berhadapan dengan wanita itu.


"Janji tinggal janji, aku memasang tarif lebih untuk itu! Tidak mudah menaklukan raja hutan!"


"Wira! Aku sudah mengotori tanganku untuk membantumu!"


Menegakkan punggungnya, Wira menyentuh dagu gadis berambut pendek di atas bahu itu.


"Chyra Anastasya, kau melakukan pekerjaan yang tidak sesuai! Nasyaku hampir saja mati karena perbuatanmu! Aku minta kau tidak lukai dia sedikitpun, tapi kau bahkan membuat darahnya keluar sia-sia!"


"Wira!"


"Kau lupa? Tidak mudah melepaskanmu dari genggaman Arash, sedang kau malah membalas jasaku dengan menyakiti tujuanku!" Wira merubah posisi, menjadi Chyra yang duduk di kursi dan dirinya berdiri.


"Apa maumu?" tanya Chyra dengan tatapan nyalang.


"Santai, Baby!"


"Apa maumu? Katakan!" bentak Chyra, saat ia akan berdiri Wira segera menahannya dan mendudukannya kembali.

__ADS_1


"Mengabdilah padaku, layani aku sampai aku menganggap hutang jasamu padaku lunas!"


"What?! Aku bukan j*lang!"


Wira tertawa sinis, lalu melemparkan selendang Chyra yang menjadi penutup perut buncitnya.


Menunjuk perut itu, ia mengingatkan Chyra bahwa dirinya sudah tahu Chyra tengah hamil.


"Apa bedanya? Kau mengandung tanpa ikatan pernikahan, berbulan-bulan tinggal dengan Arash dan melayaninya, bukankah itu sama saja dengan seorang wanita malam?"


Kalah telak, Chyra tak mampu menjawab lagi apa yang di tanyakan Wira.


"Bagaimana? Kau mau atau tidak? Atau ... " Wira mengangkat ponselnya, memperlihatkan foto Chyra yang berada dalam mobil sedan berwarna hitam. Sontak Chyra merebut ponselnya, akan tetapi Wira dengan sigap mengambilnya kembali.


"Jangan, aku mohon! Baik, aku mau!"


"Bagus!"


"Tapi ... aku mohon, bersihkan semua tentangku!" pinta Chyra, memelas.


Wira menggelengkan kepalanya, ia tertawa keras.


"Chyra Anastasya, putrinya Tasya alias Amalia, hebatnya kau sepupu dari Nasya dan keponakannya Adrian Widiatama! Hebatnya lagi, ibumu berselingkuh dengan ayahmu saat statusnya masih jadi istri Adrian Widiatama. Ternyata kau dan ibumu sama, memiliki hati yang kotor dan pengkhianat!"


Wira tertawa lebar, itu bagaikan ejekan bagi Chyra.


"Arrrrggghhh...!!!"


Brak!


"Hei, santai, cantik!"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2