
"Das—"
"Mom!"
Nasya hampir saja pingsan, jika Dastan tidak segera melangkah ke arahnya dan memeluknya.
"Aku bisa jalan, Mom!" seru Dastan, membuyarkan lamunan Nasya yang tersentak.
Seketika tangis Nasya luruh, ia segera berlari ke kamar, menghampiri Arka yang sedang duduk dengan laptopnya.
"Sayang!" seru Nasya, sambil memeluk Arka dengan sekaligus.
"Ada apa?!" ucap Arka, terkejut.
Nasya menangis sesenggukan, ia tak melepaskan pelukannya. Arka segera berdiri, mengguncang tubuh Nasya.
"Nasya, istriku, ada apa?!" tanya Arka. penasaran dan panik.
Bagaimana tidak, Arka tidak pernah melihat Nasya sehisteris itu selama bertahun-tahun menikah dengannya.
"Pa," panggil seseorang di batas pintu.
Arka segera melirik ke arah sumber suara, melihatnya dengan mata membelalak dan shock.
"Dastan," lirih Arka, melepaskan kedua tangannya dari bahu Nasya dan segera meraih putranya.
Saling memeluk penuh rasa haru, Arka masih belum percaya anaknya kini berdiri tanpa bantuan siapapun. Ia mengguncang tubuh Dastan, rasanya ingin sekali melakukan hal luar biasa untuk kejutan istimewa.
"Ini kamu, Dastan?" tanya Arka dengan terisak.
"Ini aku, Pa. Aku bisa jalan." Dastan sendiri masih tidak percaya.
"Coba jalan pelan-pelan ke Mommy!" perintah Arka.
__ADS_1
Dastan segera menurutinya, berjalan dengan langkah pelan dan agak sempoyongan menuju Nasya. Mereka semua langsung saling meneluk.
"Sya, anak kita bisa berjalan!" seru Arka, terharu.
"Iya, Ka."
Meski kenyataan di depan mata, seakan Nasya dan Arka masih belum percaya. Berkali-kali menyuruh Dastan berjalan di hadapan mereka.
...****************...
"Helena, kenapa kamu bisa sampai jatuh ke danau itu?" tanya Inara, dengan tubuh lemah dan wajah pucat. Ia sejak pagi terbaring tak berdaya.
Penyakit yang menggerogoti tubuhnya terlalu kuat, sampai Inara untuk makan saja memerlukan bantuan.
"Bu Inara, jangan khawatir, Helena baik-baik saja, lebih baik ibu istirahat. Besok kita akan ke rumah sakit untuk pengobatan ibu." Nasya menegaskan. Inara merasa malu, bukannya ia membantu bekerja, kini malah menambah beban untuk keluarga Nasya dan Arka.
"Bu, saya sudah banyak merepotkan Ibu," ucap Inara, sedih.
Nasya meraih tangan Inara, menggelengkan kepalanya. "Sesama manusia harus saling menolong, mungkin saja suatu saat saya perlu bantuan Bu Inara atau anak-anakmu."
Sesampainya di rumah sakit, langsung memeriksa Inara. Dalam beberapa jam, kini mereka sudah mendapatkan hasil yang sama dari diagnosa dokter yang memeriksa ke rumah.
"Stadium awal, jika kalian mau rutin mengobatinya dan terapi, maka bisa saja memiliki peluang untuk sembuh." ucap dokter.
Tentu saja melegakan hati Nasya, karena ia senang Helena dan Bella tidak akan kehilangan ibunya di usia yang masih sangat kecil.
"Kami ingin terapi untuk Bu Inara, terapi terbaik!" ucap Nasya.
Setelah selesai dengan dokter khusus itu, mereka sudah berada di parkiran rumah sakit untuk pulang. Tiba-tiba saja Inara berlari ke arah utara, membuat Arka dan Nasya terkejut.
"Keenan!" teriak Inara, sambil berlari menuju seorang anak yang duduk di kursi tunggu bersama seorang pria.
Anak itu melirik ke arah Inara, tersenyum senang.
__ADS_1
"Mama!" serunya, hendak berlari dan memeluk Inara.
"Keenan!" seru seorang wanita, yang muncul dari ruangan dokter kandungan, dengan pakaian ketat dan perut sedikit menyembul.
"Keenan!" Inara dengan lari pelan akhirnya sampai dan memeluk anak bernama Keenan itu.
"Lepaskan Keenan!" ucap pria yang duduk bersama Keenan.
"Aku mohon, biarkan aku bertemu putraku! Sekali saja, Dirly!" pinta Inara, memelas.
"Bu Inara, siapa dia?" Nasya yang baru sampai dengan napas tersengal-sengal akhirnya menanyakan kebingungannya pada Inara.
"Anakku," jawab Inara, masih memeluk Keenan yang menangis di pelukannya.
"Sekarang dia anakku!" ucap seorang wanita yang tampak sedang hamil.
Wanita itu melepaskan pelukan Inara pada Keenan, kemudian membawanya menjauh. "Jangan berani-berani menemui Keenan lagi!"
"Tuan Dirly, saya tidak menyangka anda sekejam itu! Jika saya tahu Bu Inara istri anda dan Bella juga Hellena itu anak anda, saya mungkin sudah memutuskan kerja sama perusahaan kita sejak kemarin!" ucap Arka, seperti petir yang menyambar dan menggelegar di kepala Dirly.
"Pak Arka, jangan be—"
"Diam!" potong Arka dengan suara keras.
"Anda sama sekali tidak berhak menentukan kerja sama kita! Sikap anda membuat saya ragu!" ucap Arka.
"Bu Inara, mari kita pulang saja!" ajak Nasya, paham dengan suasana yang sedang berlangsung.
Arka melirik Keenan, mendekatinya dan menatapnya.
"Ikut aku, di rumah ada kedua saudaramu! Ayah dan Ibu tirimu ini tidak akan mampu membesarkanmu lagi!" ucap Arka, kemudian menarik paksa Keenan dari wanita berpakaian ketat itu.
"Pak Arka! Tolong jangan—"
__ADS_1
"Kerja sama kita berakhir!"
......................