
Elle menatap Nathan aneh, laki-laki yang sudah menyatakan perasaannya itu terlihat buru-buru memasuki kamarnya. Elle mengintip dari balik pintu kamar Nathan yang tidak rapat, terlihat, Nathan sedang merapikan beberapa pakaiannya ke dalam koper.
"Kenapa dia memasukan pakaiannya ke dalam koper? Apakah dia akan pergi ke luar kota?" Batin Elle bertanya-tanya. Elle sangat penasaran, namun ia tidak ingin bertanya langsung pada Nathan. "Itu bukan urusanku. Untuk apa aku memikirkannya?" Batinnya lagi seraya berjalan pergi meninggalkan pintu kamar Nathan.
Tidak lama setelah Elle pergi, Nathan pun akhirnya keluar dengan membawa koper yang berisi pakaiannya tadi. Nathan menuruni anak tangga dengan terburu-buru, raut wajahnya terlihat gelisah, membuat Elle yang tidak sengaja melihatnya pun kembali bertanya-tanya.
"Kamu mau kemana? Apakah kamu sedang ada urusan bisnis di luar kota?" Tanya Elle menghentikan langkah kaki Nathan yang terburu-buru.
Nathan lantas menatap Elle, ia mencoba untuk tersenyum, kemudian ia menjawab dengan lembut. "Ya, aku harus segera pergi sekarang."
"Kenapa dadakan sekali?" Tanya Elle lagi.
"David lupa memberitahuku kalau hari ini aku harus pergi ke luar kota." Jawab Nathan berbohong. Nyatanya dia akan pergi ke Jerman untuk melihat kondisi adik kembarnya itu. Dia sengaja tidak memberitahu Elle, karena dia takut Elle akan khawatir dan bersedih.
"Oh, kapan kamu kembali?" tanya Elle dengan tatapan mata yang masih tertuju pada Nathan.
__ADS_1
"Setelah semuanya selesai, aku baru bisa kembali." Nathan menarik nafasnya, lalu mengeluarkannya perlahan. Ia pun lantas berjalan mendekati Elle dan mengusap lembut rambut Elle. "Kamu tidak apa-apa kan aku tinggal?" tanyanya yang mendapat anggukkan kepala dari Elle. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Kalau ada sesuatu kamu langsung hubungi aku, ok." Ujar Nathan seraya memperlihatkan senyuman yang manis di wajahnya.
Elle mengangguk, ia pun sedikit memberikan senyumannya pada Nathan. "Pergilah, hati-hati di jalan." Tutur Elle membuat Nathan kembali menyunggingkan senyumannya dan menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Nathan pun kembali melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan Elle.
"Maafkan aku, Elle. Aku tidak bisa memberitahumu tentang Rendra. Aku tidak ingin melihat kamu terluka, Elle. Maafkan aku." Batin Nathan sembari mempercepat langkah kakinya menuju parkiran mobil.
***
Rumah sakit Universitas Heidelberg.
"Maaf, aku tidak sengaja." Ucap Nathan seraya menyodorkan tangannya pada perempuan cantik itu.
"Tidak apa-apa...... " Ucapan perempuan cantik itu tercekat di tenggorokan ketika ia melihat wajah laki-laki yang menabraknya. Wajah yang tidak asing bagi dirinya, dan wajah yang selalu ia rindukan selama ini.
"Nathan!", "Vanessa!" Panggil keduanya berbarengan.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa ada di sini, Nathan? Apakah kamu.... "
"Aku harus pergi sekarang." Nathan kembali melangkahkan kakinya dengan terburu-buru, bahkan ucapan Vanessa pun ia abaikan karena yang ada di dalam otak Nathan saat ini adalah adik kembarnya, Rendra.
Vanessa menatap kepergian Nathan dengan sendu, laki-laki yang dulu selalu bersikap lembut dan hangat, kini telah berubah menjadi dingin dan seperti orang lain. Vanessa benar-benar merasa hancur, air matanya pun mulai keluar membasahi wajah cantiknya.
"Nathan, aku sangat merindukanmu. Kenapa kamu seperti orang lain sekarang? Kenapa, Nathan. Kenapa?" Batin Vanessa seraya menghapus air matanya yang jatuh semakin deras.
Vanessa benar-benar tidak menyangka dia akan bertemu lagi dengan Nathan di rumah sakit ini, rumah sakit yang menjadi tempat dirinya harus menjalani perawatan.
"Vanessa, ada apa? Kenapa kamu menangis?" Suara seorang laki-laki membuat Vanessa langsung mengalihkan pandangannya. Ia menatap laki-laki yang selama ini telah menemaninya dengan sendu.
"Tidak apa-apa. Ayo kita pergi." Ucap Vanessa seraya berbalik dan melangkahkan kakinya kembali.
Laki-laki itu mengangguk, ia pun langsung menyusul Vanessa dan menggenggam lembut tangan Vanessa membawanya pergi dari rumah sakit itu.
__ADS_1
Bersambung.