
Setelah menunggu hampir tiga puluh menit, akhirnya Nathan pun turun, lalu menghampiri Elle yang terlihat sudah menampilkan raut wajahnya yang kesal. Nathan terlihat sangat tampan, mengenakan kemeja putih yang sengaja ia gulung hingga siku, sementara bawahannya ia mengenakan celana jeans berwarna hitam, sangat cocok untuk dirinya. Bukannya merasa bersalah karena sudah membuat Elle menunggu hampir setengah jam, ia justru menampilkan senyuman sempurnanya pada Elle.
Elle terdiam beberapa saat, tidak dapat di pungkiri jika Nathan memiliki wajah yang tampan sama seperti kekasihnya, Rendra. Hidungnya, dagunya, bibirnya, alisnya, semuanya sama persis seperti adik kembarnya, yang membedakannya hanyalah sifatnya saja.
"Hampir tiga puluh menit aku menunggumu, Nathan! Apakah kamu berdandan? Kenapa kamu sangat lama sekali seperti perempuan." Omel Elle seraya bangkit dari kursinya, dengan tatapan mata yang masih tertuju pada Nathan.
"Bukankah aku harus terlihat tampan di depan temanmu nanti? Ah atau kamu ingin aku terlihat jelek di depan temanmu, begitu?" Nathan menatap Elle, dalam hati ia sangat kesal kepada Elle. Bukankah seharusnya Elle memuji ketampanannya yang sempurna itu? Kenapa Elle malah mengomelinya. Dasar wanita aneh.
"Ckkk... Bukankah tidak ada yang berubah dengan wajahmu? Bahkan jika kamu menghabiskan waktu seharian pun, wajahmu tetap akan sama, tidak berubah." Elle melangkahkan kakinya, ia meninggalkan Nathan yang terlihat sangat kesal mendengar ucapan gadis yang sudah membuatnya bodoh itu.
__ADS_1
"Astaga... Bisa-bisanya gue jatuh cinta sama gadis tidak berperasaan seperti dirinya. Benar-benar gila." Batin Nathan seraya mengekori Elle dari belakang.
***
Nathan dan Elle sudah berada di dalam mobil berwarna hitam yang di kemudikan oleh David, asisten Nathan. Wajah David terlihat di tekuk, dalam hati ia terus merutuki bosnya karena sudah mengganggu dirinya yang tengah bergelut dengan ranjang kesayangannya. Padahal, ini hari minggu, hari yang seharusnya ia habiskan bersama ranjang kesayangannya. Namun bos yang tidak punya hati itu malah mengganggu dan menyuruh dirinya untuk menjadi supir pribadinya, sungguh sial sekali nasibnya.
"Kamu menyuruh asistenmu untuk menyetir mobil? Kenapa tidak kamu saja yang menyetir? Bukankah kamu juga bisa menyetir mobil sendiri?" Elle bertanya seraya menatap Nathan dari samping.
"Apakah perlu ke rumah sakit sekarang?" Elle menanggapi ucapan Nathan dengan serius, gadis ini sepertinya percaya saja dengan apa yang di ucapkan oleh Nathan tadi.
__ADS_1
"Tidak perlu. Kita pergi ke acara temanmu saja." Jawab Nathan semakin merapatkan duduknya dengan Elle.
"Geseran, Nathan. Kenapa kamu duduk sangat mepet sekali sih. Di sana masih lega." Ucap Elle seraya mendorong tubuh Nathan.
"Diamlah, jangan banyak bergerak, atau kita tidak jadi pergi ke acara temanmu itu." Ancam Nathan membuat Elle mendengus kesal.
"Selalu saja mengancam. Dasar nyebelin." Elle bersidekap, kini ia pun membiarkan Nathan tetap duduk sangat dekat dengan dirinya.
Nathan tersenyum, ia menatap Elle dengan tatapan mata yang penuh kasih sayang. "Jika sedang kesal, kamu terlihat sangat cantik. Aku menyukainya." Bisik Nathan membuat kedua pipi Elle memerah seperti tomat. Apakah ia tidak salah dengar barusan? Nathan menyukainya? Ah tidak mungkin, ini pasti Elle salah dengar.
__ADS_1
Nathan melihat wajah Elle yang memerah pun kembali tersenyum, tangannya mulai terulur dan mengelus lembut wajah yang nampak memerah itu. "Kamu sangat cantik, cantik sekali. Aku mencintaimu, Elleiana." Nathan kembali berbisik di telinga Elle, dan kali ini bisikkannya membuat Elle benar-benar terkejut.
Bersambung.