Cinta Suami Pengganti

Cinta Suami Pengganti
Melepaskannya pergi


__ADS_3

"Nathan! Kamu sudah datang." Mama Melodi menghampiri Nathan yang baru saja memasuki ruangan sang adik. Mata mama Melodi terlihat bengkak, mungkin itu karena dirinya seharian menangisi putranya yang terbaring di atas brankar.


"Iya, mah. Bagaimana keadaan Rendra?" Pertanyaan itu membuat mama Melodi menghela nafasnya panjang. Jelas, Alexa sudah memberitahu Nathan bagaimana kondisi adik kembarnya itu. Tetapi, Nathan masih saja menanyakan kondisi adik kembarnya. Sepertinya Nathan tidak mempercayai ucapan Alexa tadi.


"Kamu lihat sendiri, Nathan. Biar kamu tahu bagaimana kondisi adikmu saat ini." Jawab mama Melodi dengan sendu.


Nathan tidak menyahut, ia pun lantas berjalan menuju brankar di mana sang adik terbaring saat ini. Alexa yang melihat kedatangan Nathan pun lantas menyingkir, ia membiarkan Nathan berdiri di samping brankar adik kembarnya. Nathan menatap adiknya dengan sendu, matanya terlihat berkaca-kaca ketika ia melihat detak jantung yang ada pada EKG monitor sang adik sudah tidak berjalan lagi.


Nathan meraup wajahnya kasar, ia mengepalkan tangan dengan kuat. Sungguh, ia masih tidak bisa jika harus kehilangan adik kembarnya itu. Nathan masih berharap Tuhan memberikan keajaiban pada sang adik, tapi kapan? Kapan keajaiban itu akan datang? Sampai saat ini pun Tuhan masih saja tidak memberikan kejaibannya. Bahkan, Tuhan begitu tega menghentikan detak jantung adiknya.

__ADS_1


Air mata Nathan mulai keluar se tetes demi se tetes, laki-laki yang selalu bersikap dingin itu kini ternyata bisa menangis juga. Bahkan, tangisannya mulai terdengar beriringan dengan suara sendu yang keluar dari mulutnya. "Bisakah kamu bertahan, Rendra. Sebentar saja, aku mohon." Nathan menggengam tangan Rendra, berharap jari jemari itu bergerak, namun sayangnya itu hanyalah sekedar harapannya saja. "Ren, Elle masih menunggumu sembuh. Apakah kamu tidak ingin melihatnya lagi.... Ayolah, sadarlah, Ren. Gue janji, setelah lo sadar, gue bakalan menghilangkan perasaan ini terhadap Elle." Nathan masih menatap adik kembarnya, air matanya terus saja terjatuh seperti tidak ingin berhenti begitu saja.


"Rendra.... Gue mohon, buka mata lo, Ren. Dan... Maafin gue, karena gue tidak bisa mengendalikan perasaan gue terhadap Elle. Maafin gue, Ren. Maafin gue." Lirih Nathan yang terus meminta maaf karena telah jatuh cinta pada kekasih adik kembarnya sendiri. Namun, Nathan juga telah berjanji, jika Rendra, sadar, ia akan segera melupakan Elle dan pergi jauh dari kehidupan Elle, asalkan Rendra sadar dan kembali hidup seperti dulu lagi.


Mama Melodi terlihat menangis kembali, ia berjalan mendekati Nathan lalu mengusap punggung Nathan, mencoba untuk menenangkannya. "Nathan, mama sudah putuskan, mama akan cabut semua alat yang ada pada tubuh adikmu. Mama... Mama benar-benar sudah menyerah, dan mama tidak ingin membuat adikmu tersiksa seperti ini. Mama,,, mama tidak sanggup, Nathan." Lirih sang mama membuat Nathan terkejut dan langsung menoleh ke arah sang mama.


Nathan menatap mamanya dengan tidak percaya, mengapa mamanya bisa berkata seperti itu? Bukankah seorang ibu seharusnya mendoakan anaknya untuk segera sembuh dan hidup kembali seperti dulu? Lalu, mengapa mamanya berkata bahwa dia sudah menyerah? Apakah rasa sayang mamanya hanya sekecil itu?


"Cukup, Nathan! Kamu lihat itu," mama Melodi menuju EKG monitor, Nathan hanya terdiam dengan tangan yang masih menggenggam tangan sang adik. "Adikmu benar-benar sudah bisa di selamatkan, Nathan. Jika kita membiarkannya terus seperti ini, dia akan tersiksa. Apa kamu mau adikmu tidak tenang? Apa kamu mau adikmu selamanya tersiksa seperti ini?" tangisan mama Melodi kembali pecah. Sebagai seorang ibu, tentunya ia tidak ingin kehilangan putranya, namun ia juga tidak ingin melihat putranya dalam keadaan seperti ini. Sudah tidak ada lagi kemungkinan untuk Rendra hidup. Pilihan terbaik adalah melepaskan kepergian putra tercintanya itu.

__ADS_1


"Mah.... "


"Nathan... Mama mohon sekali sama kamu, lepaskan Rendra, biarkan dia pergi dengan tenang. Meskipun berat, tapi itu yang terbaik untuk Rendra. Mama mohon, Nathan." Suara mama Melodi begitu memilukan, ibu dua anak itu terduduk dengan lutut menyentuh lantai kamar ruangan itu.


Nathan segera jongkok, ia memeluk ibunya, kemudian ia berkata dengan lirih. "Aku... Aku akan melepaskannya, mah. Aku akan melepaskannya." Walau pun berat, pada akhirnya Nathan pun menurut, dia menyerah dan mencoba untuk mengikhlaskan kepergian adik kembarnya itu.


"Tuhan... Jika ini adalah yang terbaik, aku iklhas, aku ikhlas melepas kepergian adikku. Asalkan dia bisa tenang di surgaMu, Tuhan." Batin Nathan dengan hati yang terasa teriris, karena harus melepaskan sudara kandung satu-satunya itu.


Alexa yang sedari tadi berada di ruangan itu pun turut menangis, hatinya terasa sakit melihat duka ibu dan anak itu. Melepas seseorang yang paling berharga dalam hidup kita, memanglah tidak mudah. Alexa tahu itu, namun membiarkan seseorang terbaring dan tidak memungkinkan untuk hidup lagi, itu jauh lebih menyakitkan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2