
Setelah tiga puluh menit berada di kediaman mertuanya, Nathan pun lantas berpamitan untuk pulang. Hal itu tentu saja membuat Elena dan juga Dav langsung menatapnya dengan bingung.
"Kamu mau pulang? Kenapa tidak menginap saja? Bukankah istrimu juga akan menginap di sini?" Tanya Dav seraya menatap tajam menantunya itu. Ia tidak suka jika menantunya meninggalkan Elle menginap sendirian, meskipun di kediamannya, namun Dav tetap saja tidak suka. Karena bagaimana pun juga, Elle dan Rendra sudah menikah, jika Elle menginap, maka Rendra pun harus menginap. Itulah yang ada dalam benak Dav.
Nathan terlihat mulai menarik nafasnya yang dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan. Sungguh berhadapan dengan ayah mertuanya itu sangat menegangkan, apalagi ayah mertuanya itu memberikan tatapan matanya yang tajam, seperti ingin memakannya hidup-hidup.
"Besok ada meeting penting dengan klien, jadi aku harus berangkat pagi-pagi... "
"Memangnya kalau kamu menginap di sini, kamu tidak bisa meeting dengan klien pentingmu itu?" Tanya Dav menyela ucapan menantunya yang belum selesai.
"Bukannya tidak bisa, pah. Tapi, jarak kediaman ini dengan perusahaanku sangat jauh, jadi... "
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau jauh? Kamu ini alasan saja. Bilang saja kalau kamu memang tidak mau menginap di sini." Lagi, Dav kembali menyela ucapan Nathan, ia terlihat tidak suka dengan alasan yang di berikan oleh Nathan kepada dirinya.
Nathan terlihat diam, ia sama sekali tidak berniat untuk mengeluarkan suaranya kembali. Menghadapi manusia seperti ayah mertuanya itu harus memiliki kesabaran yang ekstra, agar tidak terjadi adu mulut yang tidak berujung.
"Papa, biarkan saja Rendra pulang. Jangan membuatnya tertekan seperti itu. Lagian, aku menginap di rumah orangtuaku sendiri, pah. Jadi, tidak masalah." Elle yang sedari tadi terdiam pun mulai membuka mulutnya. Ia menatap Nathan, lalu kemudian menatap papanya yang selalu mencari kesalahan Nathan. Bukannya Dav tidak menyukai Nathan, hanya saja ia terlalu overthinking terhadap Nathan.
Dav menghela nafasnya kasar, ia menatap putri semata wayangnya itu dengan lembut, kemudian ia berkata dengan nada suaranya yang sangat lembut. "Sayang, bagaimana pun juga, kalian sudah menikah, jika kamu menginap di sini, maka dia pun harus menginap. Mau jauh atau tidak jarak perusahaan dia dengan kediaman ini, itu tidak masalah, toh dia pergi ke perusahaannya menggunakan mobil, bukan berjalan kaki." Dav kembali menatap Nathan, sorot matanya yang lembut kembali berubah menjadi tajam.
"Sayang, kamu jangan keras kepala! Biarkan saja Rendra pulang, jangan memaksanya seperti itu. Lagian, putri kita tidur di rumah kita bukan di rumah orang lain. Kamu ini terlalu berlebihan sayang, memangnya kamu mau, kalau kamu di paksa begitu sama mertuamu?" Elena menatap suaminya dengan kesal, sementara sang suami, ia terlihat mengernyitkan keningnya bingung.
"Sayang, bukankah mertuaku sudah meninggal? Jadi, siapa lagi yang akan jadi mertuaku? Memangnya kamu rela jika aku menikah lagi dengan wanita lain?" Tanya Dav sengaja menggoda istri kesayangannya yang menurutnya sangat menggemaskan itu.
__ADS_1
"Hmm silahkan saja. Aku juga bisa kok cari suami baru!" Seru Elena membuat Dav langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna. Bisa-bisanya sang istri berbicara seperti itu. Sungguh menyebalkan.
"Sayang! Kamu.... Ah sudahlah aku tidak ingin berdebat denganmu." Dav menatap sang istri dengan kesal, kemudian ia menatap Nathan. "Kalau kamu mau pulang, pulanglah sekarang, sebelum aku memberikanmu kepada hewan kesayanganku, mengerti!" Ucap Dav dengan tegas.
Nathan yang mendengar ucapannya pun terlihat bingung, papa mertuanya itu sedang kesal sama istrinya, tetapi dia yang menjadi pelampiasannya, sungguh mengesankan sekali, papa mertuanya ini.
"Baik. Kalau begitu saya permisi dulu, pah, mah, Elle." Nathan tidak mau ambil pusing, ia pun langsung beranjak dari tempat duduknya. Jika ia lebih lama lagi berada di sana, bisa-bisa kepalanya langsung ubanan gara-gara Dav.
"Hati-hati di jalan, sayang. Bilang sama David, jangan ngebut bawa mobilnya, ok." Elle tersenyum manis kepada Nathan, kata sayang yang keluar dari mulutnya tentu saja membuat jantung Nathan berdegup kencang. Namun, sayangnya Nathan harus di tampar oleh kenyataan pahit, kenyataan jika Elle memanggilnya sayang, itu hanyalah sebuah akting saja.
Nathan hanya mengangguk, ia pun kemudian berjalan melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan ruangan itu. "Sungguh konyol kamu, Nathan. Bisa-bisanya jantungmu berdegup kencang ketika dia memanggilmu sayang. Bukankah itu hanya akting dia saja. Benar-benar konyol." Batin Nathan sembari mempercepat langkah kakinya.
__ADS_1
Bersambung.