
"Ma, maafkan aku, yang selama ini tidak tahu kebenarannya, Arka pikir Mama memang sudah meninggal saat melahirkanku!" Arka terisak di pangkuan sang ibu, sementara tangan wanita yang melahirkannya itu mengelus kepalanya lembut.
Saling berpelukan dengan rasa rindu yang amat sangat mendalam, keduanya terlihat sangat mirip, dari segi wajah dan juga mata, memiliki kesamaan.
"Mama pikir, Papa benar-benar mengusir mama setelah melahirkanmu," ucap Nindi, ibunya Arka tangannya tidak lepas dari kepala Arka, terus mengusapnya dengan kelembutan. "Ternyata anak Mama setampan ini,"
Beralih menatap 3 orang yang berdiri di sudut ruangan, tatapan Nindi terhenti pada wanita berperut buncit.
"Mereka siapa, Arka?" tanya Nindi, menunjuk Nasya dan juga kedua orang tuanya.
Arka melirik ke arah yang di tunjuk Nindi, tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Nasya.
"Ini istriku, Ma, namanya Nasya, Annasya Gauri Widiatama. Mereka mertuaku, Daddy Adrian dan Mommy Mira."
Arka memperkenalkan ketiga orang itu, tatapan Nindi terus menatap perut Nasya.
"Sedang hamil?" tanyanya dengan nada suara terharu dan bahagia. Nasya mengangguk, sebagai jawaban. Kemudian Nindi mengusap perut Nasya.
Pertemuan ibu dan anak itu menjadi hari paling bahagia dalam kehidupan Arka, antusias Nindi ingin mengurus menantu dan calon cucunya itu membuat Adrian dan Mira bisa bernapas dengan lega, lalu memutuskan untuk kembali tinggal di London.
Hari kepulangan Nindi yang di temukan Adrian di rumah sakit jiwa akhirnya tiba, ketika memasuki rumah yang sudah lama ia tinggalkan, Nindi menangis terharu sambil memeluk Nasya.
Namun tidak lama, ia sudah duduk di sofa dengan Nasya.
"Papa mana, Ka?"
Deg—
Tubuh Arka mulai kaku, pertanyaan yang selama ini di hindari akhirnya di lontarkan di hari pertama ibunya menginjakan kaki di rumahnya kembali.
__ADS_1
"Papa sudah tenang di rumah barunya, Ma," ucap Arka sambil membuang pandang ke arah lain.
Terlihat wajah Nindi sedikit shock, bahkan hampir saja tidak percaya dengan kabar buruk itu.
"Papa sakit? Bagaimana bisa? Sejak dulu bukankah dia sangat tidak suka makan makanan yang tidak sehat?"
Arka menghela napas panjang, menghembuskannya kasar. "Mama Aisha selalu memberinya obat tidur setiap malam, Ma. Setelah dia kena serangan jantung, sejak itu rutin di beri obat tidur."
"Serangan jantung?"
Siang itu di isi dengan cerita semua kejadian yang membuat Ananda mengalami serangan jantung, beberapa kali Nindi terlihat shock.
...****************...
Waktu tak terasa mengalir lebih cepat seperti air, hari ini kehamilan Nasya sudah menginjak bulan ke delapan. Arka lebih sering berada di rumah, di bandingkan di kantor. Ia mewanti-wanti takut Nasya mengalami serangan kontraksi.
Meski Nindi sering mengingatkan, bahwa kontraksi akan terjadi lebih sering di bulan ke sembilan, namun Arka bersikukuh beralasan ingin sering berada di rumah.
Dalam perjalanan, ponsel Arka berdering. Membuatnya menghentikan mobil di bahu jalan untuk mengangkat teleponnya.
"Hallo?"
"Bersiaplah, serangan tiba-tiba akan terjadi, jangan sampai kau lalai! Ibumu, atau istrimu! Cobalah lindungi keduanya jika kau bisa!"
Tut
Panggilan di matikan, menyisakan ketegangan dalam diri Arka. Nasya meraih tangan Arka, menggenggamnya.
"Ada apa?" tanya Nasya, melihat ketegangan di wajah Arka.
__ADS_1
"Tidak ada!" jawab Arka, dengan senyuman yang di paksakan.
"Tidak ada apa-apa, tapi kenapa wajahmu tegang, Arka?" tanya Nindi sambil memperhatikan wajah Arka dengan teliti.
"Tidak ada, Ma!" Arka menegaskan.
Kembali melajukan mobil, melanjutkan perjalanan yang tertunda. Dalam beberapa menit, akhirnya mereka sampai di toko perlengkapan bayi yang di tunjukan oleh Nindi.
Perasaan Arka menjadi tegang, sampai ia tak ikut memilih pakaian bayi, lebih memperhatikan dua wanita yang kini menjadi belahan jiwanya.
Di sisi lain, ia penasaran dengan siapa yang mengancamnya dalam telepon tadi.
Suara seorang wanita, tapi kenapa aku tidak kenal? batin Arka, bertanya-tanya.
Sesi memilih pakaian bayi selesai, kini Arka dan dua wanita di hidupnya itu tengah bersantai ketika sebuah panggilan lagi membuat ponselnya berdering.
Arka bernapas lega, saat telepon itu bukan dari si pengancam lagi. Melainkan dari kantornya.
"Dari kantor, mereka menyuruhku datang sekarang juga." ucap Arka, saat sudah duduk bersama kembali dengam Nasya dan Nindi.
"Pergilah, aku akan pulang naik taksi bersama Mama!" perintah Nasya.
"Tapi—"
"Ada Mama yang menjagaku, Ka! Pergilah!"
"Ya, Arka! Jangan khawatir, Mama akan menjaga istrimu dan calon cucu Mama, kalau ada apa-apa nanti Mama menghubungimu!"
Arka mengangguk pelan, sebenarnya rasa khawatir memenuhi hatinya, menatap Nasya dengan tatapan seolah menjadi yang terakhir, Arka meletakan tangannya di kepala Nasya, mengecupnya singkat.
__ADS_1
"Aku akan segera pulang!"
..................................