
π LIKE
π VOTE
πRATE
***
Bu Laras menatap sendu ke arah Melia dan juga Fahri dari ambang pintu kamar. Mereka berdua terlihat sibuk menata pakaian mereka ke dalam sebuah koper besar.
Tak mau mengganggu, akhirnya bu Laras pun memutuskan untuk meninggalkan keduanya.
"Melia, tidak perlu membawa banyak pakaian. Aku sudah menyiapkan semua," ujar Fahri.
Membuat Melia berhenti memasukkan barang-barangnya yang kelewat banyak. Keningnya berkerut, ada rasa kecewa dan lelah yang terpancar di air mukanya.
"Menyiapkan? Memangnya kita akan tinggal di mana, Pak?"
"Di rumah saya dong! Istri itu 'kan harus ikut ke mana pun suaminya pergi. Memangnya ke mana lagi kalau bukan ke rumah saya?" Fahri menatap kesal.
"Enggak, saya maunya ke rumah saya sendiri," sergah Melia dengan ketus.
"Lihat nanti, lagi pula apa sih yang jadi masalah bagi kamu? Bagaimana pun, kita itu sudah menikah, kamu harus tinggal sama saya, paham kamu!" desis Fahri, yang langsung menutup koper miliknya dengan cepat.
"Di rumah Bapak, masih ada keluarga Pak Fahri. Saya kurang nyaman," terang Melia ketika Fahri akan melangkahkan kakinya.
Tiba-tiba langkah pemuda itu langsung terhenti.
"Gak ada yang bilang kamu harus tinggal dengan keluarga saya, ayo turun! Kita harus sampai ke kota sebelum petang!"
Fahri langsung menggendong ransel di punggungnya, sementara sebelah tangannya menyeret koper besar yang berisi pakaian mereka berdua.
Ketika Fahri menapaki anak tangga, ia bisa melihat jika bu Laras dan pak Haris sudah menunggu di ruang tamu lantai dasar. Sambil mendongak menatap Fahri, keduanya menyambut dengan senyuman, begitu pun dengan Fahri, pemuda itu menampakkan sikap ramah di hadapan mertuanya.
Tak ada keanehan yang terlihat. Ia juga tidak mengeluhkan sikap Melia di depan orangtua gadis itu. Mungkin benar katanya, jika ia memang sangat menghargai pak Haris karena hutang budi.
"Hati-hati ya, Nak," ujar bu Laras, saat pemuda berwajah tampan itu mencium punggung tangannya.
"Ya, Bu. Pak. Kalian baik-baik juga ya. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan memberi kabar. Sesuai janji, saya akan menjaga Melia. Tidak perlu ada yang dicemaskan," sahut Fahri sambil bergantian menjabat dan mencium punggung telapak tangan ayah dan ibu mertuanya.
Pak Haris tersenyum lega. "Terimakasih banyak, Nak. Semoga Melia tidak membuatmu repot nantinya. Dia anak yang manja, jadi yang sabar, ya. Kalau hadapi dia marah."
"Ya, Pak. Saya pamit," balas Fahri kemudian melenggang meninggalkan Melia yang masih berganti berpamitan dengan kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Melia, Fahri adalah pemuda yang baik. Ayah sudah mengenalnya bertahun-tahun. Kamu akan bangga dengan pilihan ayah ini suatu hari," terang pak Haris.
Mata Melia hanya membola malas. "Iya-iya, lelaki pilihan Ayah emang top deh. Banyak istirahat, Melia janji akan sering pulang jenguk kalian. Cepat sembuh, ya!"
"Hati-hati," ucap bu Laras.
Kemudian, keduanya melambaikan sambil menatap kepergian keduanya dari halaman teras.
Di dalam mobil, ketegangan kembali terjadi. Melia terkejut saat tahu lagi dan lagi Fahri mengemudi mobil sendiri tanpa mengajak sopir.
"Sopirnya mana, Pak?" tanya Melia bingung.
Seketika Fahri menutup kaca mobil, lalu mendekatkan wajahnya hingga jarak keduanya saling terkikis. Embusan napas Fahri yang terasa menghangat menerpa area wajah, Membuat Melia reflek memejamkan matanya sembari menjerit.
"Diam, apa sih. Kamu gak dengar alarm bunyi? Saya cuma bantu pasangin seat belt biar kamu aman saat perjalanan. Pasti mikir mesum, buktinya sampai merem begitu," cetus Fahri dengan raut datar.
Melia merenggut sambil meremas jarinya sendiri, kesal. Seketika pipinya memerah menahan malu.
Sial. Kenapa malah salah tingkah?
"Huuuu, alasan! Cari kesempatan," ketus Melia.
Ya. Fahri memang lumayan menggoda.
Fahri tidak menggubrisnya. Ia langsung menyalakan mesin mobilnya. Tak lama kemudian, mobil sudah melesat membelah jalanan ramai yang basah akibat baru saja diguyur hujan lebat.
"Bapak-bapak, dikiranya saya bapaknya kali," gerutu Fahri sambil fokusnya tetap ke arah jalanan.
"Ya 'kan memang Bapak bos saya," kilah Melia yang langsung menatap Fahri serius.
"Bos sekaligus suami! Jangan lupa, panggil Mas, mulai sekarang! Saya tidak mau kamu membantah!" seru Fahri memberinya perintah.
"Emosional, kaku!"
Fahri tak mau membalas menimpali lagi. Ia justru memalingkan wajahnya ke arah lain, lalu menyembunyikan sedikit senyumnya. Ya, hanya sedikit. Setidaknya ia sudah mulai bisa tersenyum saat ini.
Hanya dengan Melia ia bisa seperti itu.
*****
Karena jarak dari desa ke kota tempat Fahri dan Melia tinggali lumayan jauh, mereka akhirnya tiba setelah kira-kira menempuh tiga sampai empat jam perjalanan.
Kini mobil mulai memasuki sebuah rumah berukuran besar, dengan pintu gerbang berukir bercat cokelat yang dipadukan dengan warna emas. Menambah kesan hunian yang megah.
__ADS_1
Pintu gerbang belum sempat ditutup oleh salah satu sekuriti, sebab Fahri berpesan hanya sebentar saja berada di tempat itu.
Namun, ia dikejutkan oleh kedatangan segerombolan ibu-ibu komplek yang menghampiri.
"Cie, Mas Fahri. Pengantin baru, kita jadi patah hati masal ini!" seru salah seorang ibu berdaster menggoda.
Melia gelagapan, sekaligus takut. Melihat segerombolan ibu-ibu itu bertubuh nyaris semuanya gemuk. Gadis itu hanya menyunggingkan senyum sembari bersembunyi di punggung suaminya.
"Tahu dari mana ya, saya menikah?" Kening Fahri berkerut menatap mereka satu persatu.
"Dari pak satpam. Rumah kamu sepi, gak biasanya gak pulang. Apalagi sampai berhari-hari. Kita 'kan emak-emak fans berat kamu tampan," sahut salah seorang dari mereka yang lain sambil menunjuk ke arah post satpam.
Fahri menaikkan kedua alisnya, kemudian ia menatap kesal ke arah sekuriti rumahnya.
Tentu saja ia memiliki alasannya tersendiri bersikap seperti itu.
"Ibu-ibu yang terhormat, terimakasih sambutannya. Tapi saya sedang lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Bisa tinggalkan rumah saya? Maaf ya semua, saya butuh istirahat," ucap Fahri sembari memasang senyuman palsunya.
Melia terkejut melihat sikap Fahri. Ia bingung karena pria yang ia nikahi begitu mudah mengubah karakternya, yang terkadang pemarah, sombong, dan arogan, hingga menjadi sosok yang ramah tamah dan pendiam.
"Oke, kami ngerti kok. Melia cantik, duh ... beruntungnya kamu. Besok pagi, kami pasti mampir lagi ke sini. Mau ajarin kamu jurus pemikat," goda salah seorang wanita sambil tersenyum lalu menoel dagu Melia.
Melia langsung meringis jijik melirik Fahri. Entah apa yang ia pikirkan kala itu.
"Kami pergi dulu," ucap mereka serentak.
Saat itu Fahri hanya manggut-manggut saja sebagai balasan.
"Pak, eh Mas. Aku gak nyaman deh sama mereka. Bagaimana kalau mereka bocorin pernikahan kita ke anak kantor, duh," keluh Melia.
"Tunggu di sini sebentar," terang Fahri yang langsung pergi memasuki rumah begitu saja mengabaikan ocehan Melia.
Mulut Melia bahkan terbuka lebar akibat terkejut karena dirinya justru sengaja dibiarkan berdiri di depan rumah suaminya sendiri.
Ia merasa heran karena Fahri tidak mengajaknya masuk. Seketika pikiran kotor melintas begitu saja di benaknya.
Netranya nyalang memperhatikan sekeliling rumah. Setelah sepersekian detik, ia baru sadar jika ini bukanlah rumah keluarga Fahri yang sebelumnya pernah ia sambangi.
Ini rumah siapa? Apakah pak Fahri sudah punya istri lainnya yang ia simpan di dalam? Oh, ini tidak baik. Jadi itu sebabnya dia sengaja tidak mengajakku masuk?
"Ayo, lekas masuk! Kita akan tinggal di rumah kamu!" ajak Fahri yang tiba-tiba datang sambil memasukkan dua koper besar ke bagasi mobilnya.
Terang saja Melia semakin penasaran karena pemuda itu memang irit kata.
__ADS_1
"Saya gak diajak masuk? Ada siapa di dalam rumah itu?" tanyanya keceplosan.
Fahri mengerutkan keningnya. "Gak ada, sebelumnya saya hanya tinggal sendiri kok."