Cinta Tabu

Cinta Tabu
Bab 17. Hilangnya Erlan


__ADS_3

Bab 17. Hilangnya Erlan


Melia gelisah saat melihat Fahri melangkah semakin dekat dengannya. Erlan bahkan terhenyak saat menyadari kehadiran Fahri.


"Erlan, jangan cuma diam saja. Cepat pergi, aku gak mau ada masalah lagi!" usir Melia sambil mengguncang-guncangkan tubuh Erlan.


Erlan mengerutkan keningnya. "Jadi benar dugaanku, jika kamu sudah mulai jatuh cinta sama kakakku. Di mana janji kamu, Lia! Aku menyesal minta maaf sama kamu, mungkin keputusanku untuk tidak datang ke rumah keluarga kamu waktu itu memang sudah tepat. Semoga kamu bahagia!"


"Erlan, hubunganku dengan pak Fahri tidak seperti yang kamu duga." Melia menghalangi langkah Erlan yang sudah bersiap pergi.


"Halah! Minggir, aku mau lewat." Erlan berubah kasar bahkan mendorong Melia hingga terpelanting di sisi meja.


*****


Akhirnya, setelah kepergian Erlan, kini bergantian Fahri yang melangkah mendekati Melia. Masih seperti biasa, tak ada senyum kebahagiaan di raut wajahnya.


"Makan enak, suami gak diajak. Kalau gak ada masakan saja di rumah nyariin suami," ketus Fahri sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi empuk yang berhadapan dengan Melia.


Melia mendengkus kesal. "Saya sedang gak mood buat bertengkar, Pak. Niat saya makan di sini memang untuk menghindari Pak Fahri. Saya lelah dengan pernikahan pura-pura ini. Pacar saya marah, Pak."


Fahri terkejut melihat Melia sudah banjir air mata. Ia yang tadinya menyendok masakan di piring Melia dan ingin mencicipinya, langsung mengurungkan niatnya.


Tatapan mata Fahri seketika meredup. Aura seram seketika memudar dari raut wajahnya. Perlahan. Ia menggapai buku jemari lentik istrinya. Ia genggam erat dan diletakkan di depan dadanya.


"Jadi, kamu beneran masih sayang sama pacar kamu itu?" Fahri menatap lekat-lekat istrinya yang perlahan mulai mengangkat wajahnya.


Melia mengangguk sebagai jawaban. Entah mengapa, gestur jawaban itu justru membuat Fahri merasakan nyeri di ulu hati. Bak ditikam belati, mendadak dadanya serasa sesak.


"Kau benar-benar tidak menginginkan pernikahan kita?" Fahri bertanya kembali, entah mungkin untuk sekedar memastikan jika ia tidak akan mengambil keputusan yang salah atau entah, tak ada yang tahu apa maksud pertanyaan itu.


Lagi. Melia menggeleng sebagai jawaban.


"Uh, ya. Jadi pernikahan kita ini tidak mengubah apapun ternyata." Fahri mengesah berat.


Sejenak Fahri menatap kesal ke arah istrinya. Hingga kemudian ia menyadari jika ponselnya berdering.


Raut wajahnya tampak terkejut saat menerima panggilan telepon dari seseorang. Entah siapa, dan kabar apa yang orang tersebut bagikan. Hingga membuat Fahri beranjak dari tempat duduknya dan menjauh dari Melia.


"Siapa? Apa apa?" tanya Melia dengan gambaran wajah cemas.


Fahri terus melangkah menjauh tanpa memberikan jawaban. Meski begitu, Melia memilih duduk dan menunggu.

__ADS_1


Hingga waktu begitu cepat bergulir. Dan tiba saatnya Fahri kembali menghampiri Melia setelah ia pergi berbincang dengan seseorang untuk beberapa saat.


"Melia, begini ...." Kalimat Fahri terjeda. Seolah ia sedang berpikir dengan hati-hati.


"Apa?" Kening Melia berkerut seolah penasaran ketika bertanya.


"Kita pulang sekarang, ayahmu jatuh sakit kembali," sahut Fahri sambil mengelus punggung telapak tangan istrinya, seolah ingin memberikan efek tenang.


"Kalau begitu, ayo!" seru Melia terkejut sekaligus bersemangat.


"Aku janji, setelah ini akan membantu kamu bertemu dengan pacar kamu. Dan jika katamu dia marah, aku bersedia memberinya penjelasan jika pernikahan kita ini hanyalah sebatas permainan. Dan kita tidak pernah menjalani benar-benar hubungan suami istri, jangan cemas," ucap Fahri sembari mengelus puncak kepala Melia meski sebenarnya ia terlihat sedih.


Melia terkesiap menatap suaminya.


"Begini, bisa kasi waktu aku satu jam saja? Saya ingin menemui seseorang sebelum pulang," pinta Melia dengan tatapan mengiba.


"Boleh, aku akan mengantarmu," sahut Fahri yang merespon dengan cepat.


"Oh tidak perlu. Tapi, Pak kita juga butuh makan 'kan? Karena Pak Fahri hari ini bersikap baik dan berbeda dari biasanya, maka saya akan menemani Bapak sampai selesai makan," ungkap melia.


Fahri sedikit tersenyum. "Pergilah, temui orang yang ingin kamu temui, lalu kota bergegas pulang. Aku mencemaskan keadaan pak Haris."


"Baik," sahut Melia beranjak dari tempat duduknya lalu pergi.


*****


Gadis itu semakin gelisah. Akan tetapi, ia terus mencoba untuk meninggalkan pesan.


Melia melihat tulisan online, di beranda pesan. Ia juga tahu jika sebenarnya Erlan membaca pesannya. Anehnya, pemuda itu tetap tidak membalas pesannya.


Tak lama kemudian, Melia terkejut membaca status yang dibuat oleh Erlan di beranda media sosial miliknya.


Sebuah isyarat pesan pun ditulis oleh pemuda itu. "Lebi baik aku menjauh dan menghilang. Jika hadirku tak lebih dari sekedar luka."


Membacanya saja, hati Melia tak karuan. Ia bahkan sampai melupakan hubungan dengan Fahri, jika saat ini ia sudah berstatus sebagai istri dari kakak kekasihnya.


"Pak, ke jalan Cendrawasih no 04, ya!" perintah Melia pada pengemudi taksi online.


Pengemudi itu pun menyanggupi, lalu mobil melesat dengan kecepatan sedang ke alamat yang dituju.


Namun, Melia semakin gelisah. "Tolong lebih cepat sedikit ya, Pak. Saya ada urusan penting!"

__ADS_1


"Ya, Non. Saya sedang mengusahakan. Tapi kita juga tetap harus berhati-hati, jadi tolong sabar juga," sahut pengemudi taksi sambil memperhatikan jalanan yang ia lewati.


Melia akhirnya memilih untuk pasrah saja.


Sekitar lima belas menit berlalu, akhirnya ia sampai juga di tempat yang dituju. Di sana, ia bertemu dengan ibu mertuanya.


Ada raut canggung yang tercipta di wajah Melia. Bukan tanpa sebab, ia datang sendiri tanpa suaminya. Tentu saja ia menahan rasa takutnya yang luar biasa.


Apa lagi, kabarnya itu Fahri terkenal garang pada beberapa orang. Ya. Melia memang mendengarkan berita yang beredar mengenai keluarga suaminya.


"Permisi, Erlan adalah?" tanya Melia dengan kaki gemetar, tanpa basa-basi.


Kening ibu Fahri terlihat berkerut. Seolah sejenak ia sedang berpikir keras.


"Erlan, ini Melia 'kan? Istrinya Fahri?" Ibu Fahri bertanya, untuk sekedar memastikan.


"Ya, Tante. Tapi Erlan juga teman saya," balas Melia yang mati menahan rasa takutnya.


"Erlan sudah pergi. Dia ditugaskan menyelesaikan proyek baru. Mungkin dia tidak akan kembali dalam waktu dekat," cetus ibu mertua Melia.


Perempuan berparas ayu itu melotot. Kakinya bahkan terasa lemas.


"Ada masalah apa, Nak? Ayo masuk dulu." Ibu Fahri mencoba menggandeng lengan menantunya.


Entah apa yangMelia pikirkan hingga ia nekat menerobos datang ke rumah keluarga suaminya, untuk sekedar mencari Erlan. Kekasihnya di masa lalu itu.


"Tidak, Tante. Hanya Erlan pernah meminjam buku saya. Dan belum sempat dikembalikan. Bisakah saya meminta alamat tempat di mana ia akan tinggal?"


Ibu Fahri menggeleng cepat. "Ia berpesan tidak ingin ada orang yang tahu."


"Kapan dia pergi, Tante?"


"Baru setengah jam lalu," sahut ibu Fahri.


Mendengar jawaban yang lumayan mengecewakan itu, Melia bergegas berpamitan dengan dalih Fahri sedang menunggunya di rumah.


Usai keluar dari rumah berukuran besar itu, kaki jenjang Melia berlari ke jalanan. Ia melampiaskan seluruh kesedihannya dengan tangis.


Bahkan, sepanjang jalan pun ia tak berhenti memeriksa isi pesannya. Nihil. Tak ada satu pesan pun yang masuk ke dalam ponselnya.


Melia gelisah sepanjang perjalanan pulang.

__ADS_1


'Erlan, di mana kamu? Mari selesaikan hubungan kita yang belum selesai ini dengan baik-baik. Lalu, mari kita mulai lembaran baru dengan tenang.' Batin Melia menangis.


__ADS_2