
š VOTE
š RATE
š LIKE
Kejadian ini terjadi usai pernikahan Melia dan Fahri terjadi.
***
Melia membuka matanya perlahan, kepalanya yang semula berat kini terasa lebih nyaman. Ia terkejut ketika tersadar dirinya sedang terbaring di kamarnya.
Bukankah aku baru saja menikah?
Melia yang masih bingung langsung menoleh ke sisi kiri ranjangnya, tapi ia dikejutkan dengan keberadaan Fahri yang duduk bersandar di kursi sambil menatapnya tanpa kedip.
"Mencariku? Aku bukan suami tidak bertanggung jawab yang membiarkanmu jatuh pingsan di keramaian. Nyenyak sekali tidurmu, sampai lupa suamimu tidur atau tidak, aku bahkan tidak makan," cerocos Fahri dengan raut datar.
Terdengar ketus memang.
Bisa dibilang ia memang nyaris tak pernah tersenyum. Bahkan setelah menikah pun ia masih canggung berhadapan dengan Melia.
Melia yang gugup langsung duduk, lalu memeriksa kondisi pakaiannya, yang sebenarnya masih lengkap.
Fahri tersenyum miring menatapnya.
"Maaf, Pak. Saya juga gak ada niat untuk pingsan. Tapi, tadi kaget lihat teman saya datang di pesta pernikahan kita," kilah Melia membela diri.
Gadis itu memilih duduk dengan kepala tertunduk, sementara bibirnya terkatub rapat menghindari tatapan tajam suaminya.
"Erlan, maksud kamu? Dia adikku! Lekas ganti baju, lalu berkemas. Mulai hari ini kita akan tinggal bersama!" desis Fahri yang lebih terdengar sebagai perintah.
Melia mengangkat wajahnya. Ia terkejut mendengar ucapan Fahri yang terlalu cepat mengajaknya pergi dan tinggal bersama.
Bagaimana tidak. Jika bekerja dalam kantor yang sama saja sudah cukup dianggap menyesakkan dada dengan tekanan yang selalu diberikan oleh Fahri, apa lagi tinggal bersama? Di rumah yang sama, tidur di kamar yang sama, oh ... tidak, akankah Melia sanggup menghadapi pria angkuh dan sombong seperti suaminya?
"Melia, kau tidak mendengar perintahku! Kau pikir belum cukup, melewatkan waktu semalaman meninggalkan aku tidur dengan dengkuran kerasmu itu! Lekas berkemas, aku ingin cepat istirahat!" teriak Fahri sambil memasang raut kesal.
Melia yang kesal langsung mengepalkan tangan dan mengayunkan gerakan ke arah Fahri yang berdiri memunggungi dengan jarak sekitar dua meter bak petinju profesional.
"Ya bos, siap! Ini juga langsung turun," sahut Melia dengan nada malas.
Fahri bisa melihat itu semua dari pantulan cermin, menyadari hal itu ia pun menggeleng pelan dan menyembunyikan senyumnya.
"Panggil suamiku, mulai sekarang!" perintah Fahri semakin membuat Melia jengkel bukan kepalang.
Perempuan itu bahkan turun dengan kedua kaki yang dihentak-hentakkan dengan sengaja. Suaranya membuat Fahri yang meliriknya akhirnya memutar badan.
"Kenapa? Keberatan?" Fahri mengangkat wajahnya, sambil menaikkan sebelah alisnya, sengaja menunjukkan sikap angkuhnya.
__ADS_1
"Bapak sudah tua, kemarin sebelum menikah, kesepakatannya gak begini!" dengkus Melia yang melenggang melewati Fahri.
"Eh, kita hanya terpaut tujuh tahun ya," kilah Fahri tak terima.
"Tetep aja pantesnya dipanggil, Om. Pokoknya, Om. Om, Om, Om. Om bos," ejek Melia sambil memasang wajah menyebalkan.
Siapa sangka semua itu justru membuat Fahri menahan senyum.
*****
Hari itu, semua tamu sudah sepi. Tak ada yang menginap, mengingat kesehatan Pak Haris belum pulih benar, bu Laras benar-benar menjaga agar suasana terjaga.
Pingsannya Melia usai melangsungkan ritual pernikahan saja sudah cukup membuat pak Haris berpikir keras. Mungkin karena menyadari jika putrinya menikah dalam keadaan terpaksa.
Pagi ini, bu Laras menyambut hari pertama Fahri masuk dalam keluarga mereka dengan memasakkan sarapan spesial.
Tak sekedar nasi goreng dan juga roti oles, tapi bu Laras juga menyajikan roti lapis daging kesukaan Fahri.
Usai memasak, bu Laras langsung menghampiri kamar anaknya dan mulai mengetuk pintu meski sedikit ragu.
Tok ... tok!
"Melia, ajak Fahri untuk turun dan sarapan!" teriak bu Laras dari ambang pintu.
Bukannya Melia yang menyahut, akan tetapi justru Fahri yang langsung membukakan pintu kamar. Semua itu membuat bu Laras yang terkejut, langsung melongok ke dalam kamar mencari tahu.
"Nak Fahri, di mana Melia? Apakah dia baru bangun? Maaf ya merepotkan. Dia anak manja, menikahi Nak Fahri adalah pilihan tepat. Saya yakin dia bisa berubah pelan-pelan."
"Tenang, Bu. Saya sudah biasa menghadapi Melia. Sebentar lagi kami akan turun," sahut Fahri sembari tersenyum ramah.
Ya, lelaki itu memang selalu bersikap sopan kepada siapapun terlebih lawan bicaranya berusia lebih tua darinya, kecuali sikapnya kepada Melia, yang memang berbanding terbalik.
Di waktu yang sama, Melia terkejut melihat Fahri berbicara dengan begitu sopan kepada ibunya. Baginya, sikap Fahri sangatlah tak biasa.
Pak Fahri, kupikir selamanya akan bersikap sekaku denganku. Kenapa sikapnya bisa beda begini sih kalau bicara sama orangtuaku? Baru kali ini aku lihat pak Fahri baik.
Melia melangkah mendekati mereka berdua.
"Oh, ini Melia. Kami turun sekarang." Fahri langsung mengangkat sebelah lengannya yang yang bertengger di bahu gadis itu.
Melia terhenyak, ia berusaha melakukan penolakan. Akan tetapi, Fahri justru langsung merapatkan diri.
Tak ingin membuat pak Haris menunggu lama di ruang makan, akhirnya bu Laras memilih turun ke lantai dasar lebih dulu.
Setelah memastikan bu Laras benar-benar menghilang dari pandangannya, barulah Fahri kembali bersikap seperti sebelumnya. Ya. Ia memasang wajah datar penuh arti yang entah.
Bahkan pelukannya pun perlahan terlepas dari bahu Melia.
"Sekali lagi kamu bersikap seperti tadi, aku akan mengadukan pada ayahmu. Kalau pernikahan ini tak lebih dari pernikahan pura-pura. Kamu bisa menerka sendiri apa yang akan terjadi jika pak Haris tahu akan hal itu. Jadi Melia, kusarankan kamu belajar menjadi penurut mulai sekarang!" ancam Fahri yang mulai lelah menghadapi istrinya.
__ADS_1
Melia memang tak lagi menjawab. Akan tetapi, ia langsung mencebikkan bibirnya sambil melenggang beriringan dengan Fahri.
Kemudian, Fahri menghela napas berat. "Senyum, Melia!"
"Iya-iya! Belum juga sampai lantai dasar. Gini nih, kalau punya suami om-om. Jangan nyebelin dong, Om," ledek Melia sambil berlalu mendahului Fahri.
*****
Pak Haris terbatuk tanpa henti, membuat Melia semakin cemas dengan kondisi ayahnya.
"Ayah, kita ke rumah sakit lagi, yuk! Melia cemas kalau kondisi ayah seperti ini terus," ungkap Melia.
Saat itu bu Laras berusaha mengelus punggung pak Haris, sementara Fahri dengan cekatan langsung menuangkan air minum ke dalam gelas kaca yang kemudian ia serahkan pada pak Haris.
"Diminum, Pak. Pelan-pelan saja." Fahri membantu memegangi gelas kaca yang diraih oleh ayah mertuanya.
Diteguknya air mineral itu perlahan, hingga tersisa setengah gelas kemudian batuknya pun mereda.
Pak Haris tersenyum menatap putrinya yang kala itu menatapnya cemas.
"Ayah sudah lega kamu sudah menikah. Tidak perlu cemaskan ayah lagi, mulai hari ini tugasmu ikut tinggal bersama suamimu," terang pak Haris.
Tentu saja mendengar hal itu, kedua mata Melia melebar seketika.
"Melia tidak akan meninggalkan rumah dengan kondisi seperti ini. Aku Anak ayah satu-satunya 'kan? Lagi pula, sejak dulu ibu menolak memiliki asisten rumah tangga. Mana bisa Melia pergi," sergah Melia.
"Ayah janji, sehat. Lagi pula banyak pekerja kebun yang setiap hari datang menjenguk. Tidak perlu cemas seperti itu," rayu pak Haris.
Entah apa yang sebenarnya lelaki tua itu pikirkan. Hingga dalam kondisi sesakit ini pun tak ingin mengorbankan kebahagiaan anaknya.
"Tapi, jika Bapak rasa saya dan Melia perlu tinggal, kami akan bermalam lagi di rumah ini, Pak," terang Fahri.
Pak Haris tersenyum sambil mengusap dadanya sendiri.
"Itu kenapa saya lega telah menikahkan Melia dengan Nak Fahri. Tapi sebaiknya, Nak Fahri langsung kembali saja ke kota hari ini. Bukankah banyak pekerjaan menunggu? Kalau ada apa-apa dengan saya, ibu pasti mengabari kalian," cetus pak Haris dengan raut riang.
Dan Fahri pun mengangguk mengiyakan keputusan ayah mertuanya itu.
Usai bercengkrama. Mereka segera menyantap sarapan pagi. Setelah itu Fahri dan Melia bergegas kembali ke kamar mereka untuk berkemas.
Melia terlihat sangat sedih ketika memasukkan pakaian ke dalam kopernya.
"Mereka sudah janji akan memberi kabar jika terjadi sesuatu, aku sih tergantung kamu. Bagaimana pun, mereka adalah orangtua.kamu juga," ujar Fahri yang membuyarkan lamunan Melia.
"Bapak janji, ya. Kalau ada kabar dari keluargaku bersedia mengantarku selarut apapun," pinta Melia dengan tatapan memohon.
"Janji, tanpa kamu minta pun saya akan lakukan yang terbaik untuk pak Haris." Fahri langsung meraih kepala Melia dan menenggelamkannya ke dalam dada bidangnya.
Hati itu, Melia melihat sisi berbeda dari seorang Fahri.
__ADS_1
Namun, di sisi lain pikirannya berkecamuk. Pulang ke kota, itu artinya ia akan kembali bertemu Erlan. Lalu, bagaimana Melia akan menghadapi masa lalunya?