
Langit siang yang semula cerah berganti gelap berwarna hitam kelabu. Tak lama kemudian, mendung menghitam disertai petir menyambar dan angin kencang laksana menyambut kedatangan Fahri dan rombongan di sebuah kawasan sepi penduduk.
Ya. Fahri memilih lahan yang digunakan sebagai project bangunanya kali ini di dekat pantai.
Terburu-buru ia keluar dari mobil berwarna hitam miliknya sambil membuka payung, tak lama kemudian ia mengitari mobil dan membukakan pintu untuk wanita cantik bernama Melia.
"Masukkan dulu berkas-berkas yang kau bawa ke kantong plastik biar aman dari air! Jangan lama, anginnya kencang. Kita harus bergegas!" seru Fahri sembari mengulurkan tangan kanannya ke arah Melia.
Gadis itu pun segera mengikuti apa yang diperintahkan oleh bos sekaligus suaminya. Tak butuh waktu lama baginya untuk meraih tangan Fahri dan keluar dari mobil.
Mulanya keduanya berlari cepat, sementara sebelah tangan kanan Fahri mengeratkan pelukannya di pinggang istrinya. Beberapa saat ketika keduanya telah memasuki tempat berteduh yang aman, masih dalam teduhnya payung yang sama, keduanya seolah tersadar.
Keduanya saling pandang. Ada getaran berbeda yang mereka rasakan. Entah apa, tapi yang jelas ada debaran aneh yang mampu membuat telapak tangan Melia mendadak dingin setelah menyadarinya.
Jarak sedekat ini, yang sebelumnya belum pernah ia alami meski bersama Erlan sekalipun.
Mengapa rasanya tiba-tiba aneh? Ketika mendapati seorang lelaki dingin yang irit bicara seperti Fahri dan selalu suka marah-marah justru memberinya perhatian spesial.
Aneh, tak bisa digambarkan. Rasa yang tak terhingga. Membuat Melia bingung. Haruskah ia bahagia, atau justru sebaliknya?
Mendadak, keduanya salah tingkah. Sama-sama mengalihkan pandangan, Sama-sama terdiam lalu kompak melangkah menghampiri Erlan yang menatap keduanya dengan tatapan tidak suka.
Sejujurnya, setelah menikahi Fahri, Melia merasakan seakan sifat Fahri dan Erlan tertukar.
Entah sejak kapan pria lugu seperti Erlan mengeluarkan emosinya hingga ia tampak seperti bajingan jalanan. Caranya bersikap dan juga bertutur sapa tidak lagi mengenal sopan santun seperti dulu.
"Sudah kurang berapa persen, villa ini siap huni?" tanya Erlan menatap Fahri.
Tatapan itu lebih berani, tidak seperti pria penakut yang saat dulu selalu diteriaki sebagai lelaki pecundang oleh Fahri ketika kecil.
"Sudah delapan puluh persen. Untuk kali ini, karena kamu mewakili salah satu investorku, aku akan mengantarkan kamu keliling. Tapi ingat ini Erlan, kamu bisa menerobos masuk ke perusahaanku hanya karena aku lengah. Dan aku tidak akan lagi memberikan kamu sedikitpun kesempatan lainnya." Fahri menepuk bahu adiknya, kemudian mengulurkan sebelah telapak tangannya membentuk gestur mempersilahkan.
Erlan tersenyum getir. Meski tak dapat dipungkiri jika rahangnya terlihat mengeras menahan amarah sekaligus benci.
"Melia, aku ingin kamu menemaniku," ucap Erlan sambil meraih lengan gadis ramping yang terus mengekor di belakang Fahri.
__ADS_1
"Tidak, Melia memang akan menemani kamu. Tapi ia akan tetap di dekatku. Benar 'kan Lia?" Fahri bertanya sambil memasang wajah setengah memohon kepada istrinya.
Melia yang gugup seketika menjawab. "I-iya, Pah Fahri."
"Cepat atau lambat seisi kantormu akan tahu apa hubungan kalian berdua!" Ancam Fahri dengan sorot mata tajamnya, lalu mendahului keduanya memasuki ruangan lainnya.
Entah berapa lama Fahri dan Melia menjadi rekan. Tapi yang jelas, pemuda itu seakan ketergantungan, tidak sedikitpun ia mampu bekerja tanpa gadis itu.
Di setiap sudut ruangan ia terus melangkah dengan jarak berdekatan dengan Melia ketika memperkenalkan fungsi setiap ruangan.
Waktu berlalu cepat. Hingga akhirnya mereka selesai juga menjelajahi setiap ruangan. Hingga tiba saatnya sore hati, di mana waktu bertepatan dengan semua karyawan kantor pulang.
"Terimakasih, aku puas melihatnya. Tak sabar memiliki villa yang dikelola langsung dan di desain oleh kakakku sendiri," ucapnya, seolah mengandung arti yang entah dari caranya menatap Fahri.
"Hanya beberapa, tidak semua. Ingat itu," sahut Fahri yang mencoba memperingati.
Keduanya akhirnya berpisah di jalanan samping bangunan, di mana tempat semula mereka memarkirkan mobil mereka.
Karena melihat istrinya menggigil kedinginan, Fahri akhirnya merelakan melepas jas mahal yang semula melekat di tubuhnya.
Benar saja, beberapa karyawan kantor yang kebetulan ikut ke lokasi langsung berbisik dan menyebarkan kabar kedekatan keduanya.
*****
Dua jam berlalu, kini mereka berdua telah sampai di rumah Melia yang dijadikan sebagai tempat tinggal baru mereka. Secara bergantian keduanya membersihkan diri.
Ketika memastikan air berbunyi gemerisik, barulah Melia membuka ponselnya. Ia kini bisa bersantai, karena ia telah selesai mandi lebih dulu.
Ketika baru memeriksa ponselnya, ia terkejut saat membaca Erlan mengirimkan pesan singkat untuknya.
[Melia, aku sudah menunggumu di halaman depan. Tolong keluar sebentar! Karena aku memiliki kejutan spesial untukmu]
Membacanya saja degup jantung perempuan cantik itu langsung terpacu lebih cepat. Bukan semata karena ia merasa memiliki perasaan pada si pengirim pesan, melainkan ia lebih takut jika Fahri memergokinya.
[Erlan, pulang! Jangan ganggu aku lagi. Aku sudah memiliki suami sekarang. Dan itu terjadi karenamu]
__ADS_1
Pesan Melia terkirim. Kini ia harap-harap cemas menunggu jawaban dari Erlan.
Tak lama kemudian, pesan yang ia kirim. Warnanya berubah menjadi biru. Pertanda jika pesan tersebut telah selesai dibaca. Kini jantungnya semakin berdebar ketika melihat reaksi Erlan "sedang mengetik" di layar ponselnya.
'Astaga, Erlan. Jangan membuatku dalam masalah besar,' rutuk Melia dalam hatinya.
Kesal. Tentu saja kesal. Pemuda yang dulu baginya asyik Kini justru selalu membuatnya berada dalam pusaran masalah.
[Aku tidak mau pulang! Selamanya akan menunggu di sini. Kita belum putus, itu artinya kamu masih kekasihku. Keluar, atau situasinya akan memburuk]
Begitu membaca pesan balasan dari Erlan, Melia semakin kesal. Bahkan ia langsung membanting tubuhnya ke sofa, bersikap layaknya anak kecil yang tantrum ketika meminta mainan.
Setelah beberapa detik lamanya, ia akhirnya berhasil menenangkan diri, lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar diam-diam.
Melia mengendap-endap di halaman rumahnya sendiri. Padahal di waktu yang sama Fahri baru keluar dari kamar mandi. Menyadari istrinya tidak ada di dalam rumah, setelah beberapa saat mencari akhirnya ia membuka gorden jendela.
Namun betapa terkejutnya dirinya, ketika menemukan Erlan duduk setengah bersimpuh sembari mengulurkan seikat bunga krisan putih untuk Melia.
Entah apa yang sedang keduanya bicarakan. Fahri yang di dalam rumah tidak mampu mendengar apapun. Sejenak, ia memejamkan matanya. Lalu memilih duduk menguatkan hatinya sendiri yang mungkin saja hancur dan berserak.
Entah harus menunggu berapa lama keduanya terlihat sedang berbicara serius di luar sana. Memang. Sesekali Fahri kembali mengintip, tapi ia tetap menahan diri untuk tetap tinggal di dalam rumah.
Padahal, sejatinya Fahri bukanlah pria yang pandai menahan emosi apalagi ketika dihadapkan dengan keadaan yang bertentangan dengan hatinya.
'Melia, awas saja kamu.'
CEKLEK!
Kenop pintu tiba-tiba terbuka perlahan. Dan Melia pun terperanjat ketika melihat Fahri telah duduk di kursi empuk yang kini ia ambil alih sebagai tempat kerjanya yang baru.
"Dari mana?" Fahri bertanya tanpa melihat ke arah Melia.
Seolah menyibukkan diri, ia membaca beberapa lembar berkas penting di sana.
Melia benar-benar gemetar bukan kepalang. Ia langsung menyembunyikan bunga pemberian Erlan di belakang punggungnya salah tingkah.
__ADS_1
"Anu, itu, abis ngecek sampah," jawabnya asal sambil nyengir tak jelas.
Fahri seketika menaikkan sebelah alisnya setelah mendengar jawaban tak masuk akal itu.