
Entah sejak kapan Fahri rela bersabar, bahkan ia mau berjanji akan mengantarkan istrinya untuk mencari mantan kekasihnya usai pulang menjenguk Pak Haris yang merupakan ayah Melia.
Fahri menggandeng tangan Melia ketika ia sampai di rumah.
"Aku rela mengantarkanmu mencari kekasihmu, Sayang. Aku ingin kau bahagia."
Melia tidak menduga jika seorang pria keras kepala seperti Fahri bisa bersikap baik seperti saat ini. Jujur saja, gadis itu sangat terkejut hingga ia menggenggam tangan Fahri karena perubahan sikap suaminya yang tiba-tiba.
"Terima kasih, Fahri. Aku sangat bersyukur punya suami sepertimu."
Pemuda itu hanya menatapnya saja. Bahkan hingga mereka berdua pergi ke desa tempat tinggal Melia. Nyaris sepanjang perjalanan keduanya saling diam.
*****
Pak Haris dan Bu Laras menyambut senang kedatangan keduanya. Lelaki tua itu memang sembuh ketika Fahri dan Melia pulang, usai menyampaikan pesannya kepada putrinya agar mencintai Fahri, naasnya Pak Haris meninggal.
Melia seketika histeris dan menangis di pelukan Fahri.
"Ayahku telah pergi, Fahri. Aku merasa kehilangan." Perempuan berparas cantik itu bahkan seakan melupakan ketidaksukaannya terhadap sang suami.
Fahri mengelus rambut Melia.
"Jangan khawatir, sayang. Ayahmu sudah tenang di sana. Dia pasti ingin kita bahagia bersama." Sungguh pesan yang membuat sesak di dada Melia saat mendengarnya.
*****
Di saat pemakaman Pak Haris tiba-tiba Erlan datang, tapi sayangnya hanya Fahri yang melihat kedatangannya.
Tentu saja pria itu bertanya-tanya tentang maksud dan tujuan adiknya datang ke rumah mertuanya.
Fahri menghampiri Erlan. "Ada apa, Erlan?"
Erlan tersenyum sinis.
"Aku datang untuk Melia. Dia masih mencintai aku, bukan?" tanya Erlan tanpa berbasa-basi.
Membuat sepasang mata Fahri melebar seketika. Ia benar-benar terkejut dengan sikap adiknya.
Namun, Fahri tersenyum tenang.
"Maaf, Erlan. Kamu salah. Melia mencintai aku. Kami sudah menikah. Jadi, ternyata kamu orangnya. Pria yang sering datang ke rumah diam-diam. Tapi sayangnya, hati Melia sudah berubah. Tak seperti yang kamu tahu dulu."
Erlan terkejut. "Apa? Tapi, bagaimana bisa?"
Fahri tersenyum tulus. "Karena dia menemukan cinta sejati di dalam diriku. Dan aku akan selalu melindungi dan mencintainya, seumur hidupku."
Erlan melihat suasana masih ramai dengan banyaknya pelayat.
Mendengar ucapan Fahri begitu mencintai Melia, akhirnya Erlan pergi, dan menyendiri kensuatu tempat. Meski sebenarnya ia masih tidak percaya.
*****
__ADS_1
Erlan merenung.
'Aku merasa bodoh. Aku telah kehilangan Melia. Tapi, aku tahu Fahri akan selalu menjaganya dengan baik.'
Erlan merenung sejenak, masih sulit menerima kenyataan bahwa Melia sudah menemukan cinta sejatinya. Ia merasa kecewa dan sedih karena ia masih mencintai Melia.
Namun, ia juga merasa terkesan dengan kesabaran dan keikhlasan Fahri dalam memperjuangkan cintanya kepada Melia.
Erlan berpikir dalam hati. 'Aku merasa kecewa dan sedih, tapi sekaligus terkesan dengan Fahri. Dia rela mengalah dan memperjuangkan cintanya dengan cara yang baik.'
Erlan memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Melia dan Fahri meski hatinya masih belum bisa menerima.
Ia ingin fokus untuk mencari jalan hidup yang baru dan menerima kenyataan bahwa Melia sudah memiliki pasangan yang mencintainya dengan segenap hati.
Erlan berseru dalam hati. 'Terima kasih, Melia. Terima kasih, Fahri. Aku akan pergi dan memulai hidup baru.'
*****
Malam harinya, ketika Melia duduk sendiri sambil menatap ke arah luar jendela. Di saat itulah Fahri menghampiri.
'Aku tahu ini tidak tepat, apalagi masih dalam suasana berduka. Tapi, aku merasa bersalah jika mendiamkan masalah ini lebih larut. Lagi pula aku harus menepati janjinya terhadap pak Haris bukan?'
Fahri menepuk bahu istrinya dengan lembut.
"Melia, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Fahri tak ingin terkesan egois.
"Tentu saja enggak. Aku masih ingat semua kebersamaan dengan ayah. Masih gak percaya saja, Mas kalau sekarang ini aku sudah gak punya ayah." Melia mengungkapkan tentang perasaannya. Bahkan ia mengubah panggilannya kepada sang suami.
Kali ini mereka berdua berbicara baik-baik. Tanpa ada perdebatan sama sekali. Seolah sedang berusaha berdamai dengan keadaan.
"Ya, aku gak tega ninggalin ibu. Jadi mungkin, sebaiknya kita di sini dulu menemani ibu," cetus Melia.
"Ya, nanti aku pasti ngobrol sama bu Laras. Siapa tahu ibu mau ikut kita ke kota," sahut Fahri dengan raut gelisah.
"Ada apa?" Melia berbalik bertanya.
Entah mengapa, gadis itu seolah meyakini jika suaminya sedang menyembunyikan sesuatu.
"Jadi, Melia ... ummm, ternyata ... dia Erlan! Lelaki yang kamu sebut pacar, yang sebelum ini kamu menginginkan perceraian kita terjadi. Apakah demi dia?"
Tiba-tiba saja bulir bening memenuhi kelopak mata Fahri saat berbicara. Membuat raut wajah Melia berubah tegang dan ketakutan.
"Mas Fahri tahu dari mana?" Melambaikan langsung bangkit dari tempat duduknya lalu menatap suaminya.
"Dia ke sini. Mungkin ingin menyelesaikan permasalahan kalian yang belum usai. Tapi, ia terkejut ketika mengetahui pak Haris meninggal. Dan maaf, dia pergi."
"Kenapa gak ngasi tahu Melia sih, Mas. Bukannya sebelum ini Mas Fahri sangatlah tahu, jika aku sedang mencarinya!" seru Melia dengan nada tinggi.
"Karena kupikir orangnya bukan Erlan," jawab Fahri lirih.
Ada guratan raut sedih di wajahnya. Meski begitu ia memilih diam dan memberikan waktu pada istrinya untuk sendiri.
__ADS_1
****
Setelah kepergian Erlan, Melia merasa sedih dan terpukul karena ia masih mencintai mantan kekasihnya.
Namun, Fahri selalu berada di sisinya untuk memberikan dukungan dan kenyamanan dalam menghadapi masa-masa sulit.
Fahri menyentuh pundak Melia dengan lembut saat melihat Melia masih murung dan menyendiri di kamar.
"Jangan khawatir, sayang. Aku akan selalu di sini untukmu."
Melia menangis dalam pelukan Fahri.
"Aku merindukan ayahku, Mas Fahri. Aku merasa sangat kesepian tanpanya."
Fahri berusaha menenangkan Melia.
"Ayahmu selalu ada di hatimu, sayang. Aku tahu dia sangat mencintaimu dan pasti ingin kamu bahagia."
Melia merasa tenang dan nyaman dalam pelukan Fahri. Ia merasa beruntung memiliki suami yang begitu sabar dan penuh perhatian.
Meskipun masih terasa sedih, Melia merasa lebih kuat karena ada Fahri di sisinya.
Melia tersenyum lemah. "Terima kasih, Fahri. Kamu selalu bisa membuatku merasa lebih baik."
Fahri membisikkan dengan lembut. "Aku akan selalu mencintaimu, Melia. Dan aku akan selalu berada di sisimu, dalam suka dan duka."
Melia merasa terharu mendengar kata-kata Fahri. Ia tahu bahwa Fahri mencintainya dengan segenap hati dan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga mereka.
Mereka bersama-sama melalui masa-masa sulit, namun mereka belum menemukan cara untuk mengatasi rintangan bersama-sama dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Meskipun merasa tenang dan nyaman dalam pelukan Fahri, Melia masih terus teringat tentang masa lalunya bersama Erlan. Ia merasa bimbang dan tidak tahu harus berbuat apa.
Melia berbisik pada dirinya sendiri. 'Aku masih mencintainya, tapi aku juga mencintai Fahri. Aku bingung harus bagaimana.'
Fahri melihat Melia terdiam dan merenung, ia merasa ada yang mengganggu pikiran istrinya.
Fahri memberanikan diri memeluk Melia. Ada apa, sayang? Apa yang membuatmu terdiam?
Melia menghela napas. "Aku terus teringat tentang Erlan, Fahri. Aku bingung harus bagaimana. Aku merasa bersalah pada dirimu."
Fahri menenangkan Melia lagi.
"Jangan khawatir tentang aku, sayang. Aku mengerti bahwa kamu masih teringat tentang masa lalumu bersama Erlan. Aku akan membantumu menyelesaikan masalah ini bersama-sama."
Melia tersenyum lemah. "Benarkah? Kamu akan membantuku?"
Seolah ia menatap dan mengatakan jika ia tak percaya. Bagaimana bisa fahri berubah menjadi pria baik hati dan penuh pengertian seperti saat ini setelah ayah gadis itu meninggal? Tentu ia bertanya-tanya.
Fahri mengangguk. "Tentu saja. Aku mencintaimu dan selalu ingin melihatmu bahagia."
Melia sungguh bingung haruskah ia senang atau justru sedih setelah mendengar pengakuan dari suaminya.
__ADS_1