Cinta Tabu

Cinta Tabu
Bab 30. Damian Lucas


__ADS_3

Kini Melia dan Fahri telah berada di dalam kamar Fahri. Mata sendu milik gadis cantik yangberstatus istri Fahri itu mengedar ke sekeliling ruangan.


Bersih. Rapi. Semua tertata. Sama persis dengan kepribadian Fahri. Kini pemuda itu berubah jadi seorang yang murung dan pendiam.


Siapa sangka jika sikap Erlan membuat perilakunya terhadap Melia berubah. Tentu saja semua berdampak besar pada Melia.


Kini gadis itu tidak lagi nyaman tinggal di sisi Fahri. Ia merasa bersalah karena tidak mampu menjaga nama baik dsn juga kehormatannya.


Berulangkali setiap sedang sendiri, bulir bening selalu mengalir sendiri melewati pipi mulusnya tanpa terasa.


Hidupnya berubah pilu. Ia seakan sendiri menghadapi kekejaman yang telah dilakukan Erlan kepadanya. Ada rasa muak, benci bahkan ingin melampiaskan amarah setiap kali ia harus dihadapkan pada Erlan.


Sore itu, Melia hanya terdiam dan duduk di sisi ranjang kamarnya yang terasa asing. Wajar saja. Ini adalah pertama kalinya ia tinggal di kamar Fahri.


"Melia, aku akan pergi menemui seorang teman. Ada kepentingan pribadi. Jika kamu mau, ayo ikut denganku. Sudahi kesedihan itu. Aku muak melihat wanita cengeng!"


Jujur saja, sikap Fahri belakangan terakhir kerap berubah tak jelas. Mungkin saja kekacauan yang dibuat Erlan menyisakan luka dalam di hatinya.


"Ya, aku akan ikut," sahut Melia yang langsung mengusap air matanya yang tersisa.


"Kenakan pakaian yang pantas. Jangan membahas apapun yang membuatku malu di hadapannya,"tukas Fahri.


Mendengar arahan suaminya, Melia merasa sangat penasaran. Dengan siapa suaminya akan bertemu? Sepenting apakah orang tersebut hingga Fahri memperhatikan segalanya seolah tak ingin terlihat kurang.


Melia menyambar kasar sebuah gaun tanpa lengan yang hanya memiliki tali lebar menggantung di leher pemberian Fahri.


Entah kenapa, hari ini Fahri terlihat sangat gelisah.


"Kau tidak menjenguk ayahmu?" tanya Melia ragu-ragu.


Fahri hanya membalasnya dengan senyum getir. "Lakukan saja tugasmu, dan aku pun akan melakukan tugasku. Tidak perlu banyak bertanya. Terlalu banyak mencari tahu, tidak baik untukmu, Melia."


Biasanya Fahri tak sedingin ini kepadanya. Mungkinkah Fahri mulai percaya jika perselingkuhan itu benar-benar terjadi?

__ADS_1


Benar-benar membuat Melia semakin terdesak ingin menyelesaikan permasalahan ini secepat mungkin dari Fahri.


"Melia, boleh aku bertanya sambil menunggumu merasa diri?" tanya Fahri sambil memasang raut penasaran.


"Tanyakan saja langsung, aku bukan tipe orang yang tidak mau mendengarkan orang lain," sahutnya terdengar sarkas.


"Sejauh apa hubunganmu selama ini? Apa saja yang sudah kalian lakukan sebelum menikah?" Fahri melangkah mendekati Melia tanpa ada senyum di wajahnya.


Mendengar pertanyaan itu, entah mengapa rasanya Fahri menusuk begitu dalam. Hingga rasanya begitu perih merasuk ke ulu hati.


Melia menatap suaminya dengan tatapan sendu. Matanya mulai berembun. Nyaris saja bulir bening di pelupuk matanya tumpah jika saja ia tidak mampu menahan diri.


"Kau pikir aku ini wanita apa? Kau bukan orang bodoh. Seharusnya kau pandai mencari tahu tentang kebenaran yang sebenarnya terjadi diantara kami! Bukan justru mengatakan hal yang terdengar menuduhku!"


Kali ini Melia yang berbalik ikut menunjukkan sikap dinginnya. Entah. Mungkin saja dirinya merasa begitu disudutkan oleh suaminya sendiri.


'Kau mengancamku sejak di perkemahan, Fahri. Kau melindungiku dan membawaku kemari demi mewujudkan keinginan sepihakmu tanpa memikirkan bagaimana perasaanku terhadapmu. Maka mulai detik ini kau akan menerima akibat dari sikap dinginmu itu.'Batin Melia sambil mematut diri di pantulan cahaya cermin.


"Aku sudah siap," tukas Melia pada Fahri yang baru saja keluar dari walk in closet lainnya.


Entah berapa menit lamanya, Fahri sempat menatapnya tanpa kedip. Mungkin saja ia menunjukkan sikap dinginnya, tapi ia tak pandai menyembunyikan kekagumannya terhadap Melia.


Kini keduanya langsung pergi bersama. Sepanjang bersama Fahri, Melia memilih diam dan mengikuti keinginan suaminya. Sebelum melewati garasi, ia berpapasan dengan Erlan yang terus menatapnya.


Namun, Melia tidak membalas tatapan itu meski barang sebentar saja. Rasa kesal, dan kecewanya tidak bisa di bendung lagi. Memilih menunggu di mobil lebih baik baginya.


Sementara itu, Fahri yang sedang emosi saat mengetahui istrinya ditatap oleh adik tirinya langsung mendaratkan bogem mentah di wajah tampan Erlan, hingga pemuda itu terpental ke lantai.


Erlan menyeringai, seolah sengaja memancing keributan dengan kakaknya.


"Kamu memang suaminya, tapi akulah yang memenangkan tubuhnya! Ceraikan saja dia, biar aku bisa cepat bertanggung jawab dan menikahinya!" seru Erlan sambil mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan cairan kental berbau anyir.


"Kau pikir semudah itu mengambil milikku? Lihat saja, siapa pemenangnya nanti!" teriak Fahri meluapkan emosi.

__ADS_1


Untungnya beberapa sekuriti villa dan juga seorang sopir melerai keduanya. Hingga akhirnya Fahri memilih mengalah dan pergi bersama istrinya.


Kejadian yang baru saja terjadi, membuat Melia menjadi semakin canggung. Sepanjang perjalanan, ia bahkan tidak mau menatap apa lagi bicara dengan suaminya. Meski Fahri beberapa kali berusaha mencuri pandang, perempuan berparas cantik itu memilih diam.


*****


Di sebuah restoran ramai, Fahri berjalan beriringan dengan Melia. Tapi kali ini gadis ini terlihat menjaga jarak, ia bahkan tidak berani menggandeng lengan suaminya.


Namun, dari arah berlawanan, seorang pemuda berdarah campuran Belanda dan Jerman menyambut kedatangan keduanya dengan senyuman.


"Damian, terimakasih sudah datang," sapa Fahri.


Damian Lucas, adalah sahabat lama Fahri yang menggeluti bisnis di bidang interior ternama dan juga properti. Ia kerap bekerja sama dengan Fahri dalam proyek besar.


Dan kali ini, ada misi penting yang membuatnya datang. Ya. Fahri meminta bantuan Damian Lucas perihal menghadapi Erlan dan juga ayahnya.


"Damian, ini istriku. Namanya Melia, seorang puan yang sering kuceritakan dulu," terang Fahri.


Damian terdiam sambil mengulurkan tangannya. Bak terhipnotis dengan kecantikan Melia ia hanya bisa mematung saja.


"Melia," ucap Melia memperkenalkan diri sembari membalas menjabat tangan Damian.


"Melia Anastasya 'kan?" tanya Damian mengulang dan memperjelas nama istri sahabatnya.


Melia mengangguk dengan sedikit senyuman.


'Senyumanmu, lembutnya tanganmu, suaramu, bagaimana mungkin begitu mirip dengannya?'


Damian bertanya-tanya dalam hatinya. Seolah heran dan mengingat seseorang dari kehidupan masa lalunya.


"Damian, aku datang menemuimu karena ada urusan penting yang perlu kita bahas. Bukan memintamu mengagumi istriku!" desis Fahri menuduh.


"Apa istrimu memiliki saudara perempuan seumuran dengannya?" tanya Damian yang mampu membuat Fahri terhenyak.

__ADS_1


Entah kenapa, ia seolah menyadari jika sahabat lamanya pun memiliki ketertarikan terhadap istrinya. Tak heran. Melia memang adalah perempuan manis yang tidak membosankan untuk terus ditatap.


"Maksud kamu apa? Jangan membuatku kesal," cetus Fahri sambil memasang wajah kesal.


__ADS_2