
Masih di villa keluarga Fahri. Pak Bimo dan Bu Widia. Beberapa pekan terakhir, semenjak Erlan menjabat sebagai seorang CEO baru yang menggantikan Fahri, villa tak lagi senyaman dulu. Beberapa orang mulai hanyut dengan huru-hara.
Contohnya Erlan di siang ini. Padahal cuaca masih terik dan benderang. Tapi ia lagi-lagi pulang dalam keadaan dipapah karena berkurang kesadaran.
Ya, dia sering menghabiskan waktu untuk minum setelah tahu rencananya untuk merebut kembali mantan kekasihnya, yang terlanjur dinikahi oleh kakaknya gagal total.
Bahkan, masalah lain perlahan mulai muncul satu demi satu. Seperti kabar dari investor yang mulai menarik saham dari perusahaan.
"Erlan, sejak kecil ulahmu selalu mempermalukan papa. Aku sudah memberikanmu segalanya, mempermalukan dirinya demi membawamu pulang ke sini. Tapi apa yang kamu lakukan?"
Pak Bimo mulai gusar, tepat di hadapan bu Widia sebelah tangannya mulai terangkat. Dan nyaris saja tangan kekar itu mengayun tapi untungnya tertahan oleh tangan bu Widia.
"Jangan, bagaimanapun dia anakmu," sergahnya.
Wanita berusia paruh baya tapi masih terlihat cantik itu langsung memeluk suaminya.
"Tidakkah kau ingat di masaa lalu? Kau tetap memberinya izin tinggal meski aku menangis. Meski Fahri menunjukkan aksi makan, kau bahkan tidak peduli. Apa yang terjadi kali ini adalah keinginanmu di masa lalu, Bimo!"
Mata pak Bimo berkaca-kaca mendengar ucapan istrinya.
"Ya, aku salah. Aku menyesal membawanya pulang," cetus pak Bimo ambruk di kursi brludru sambil menangis.
"Aku tetap anakmu, Bimo!" teriak Erlan meracau.
Fahri yang mendengar kegaduhan langsung turun ke lantai dasar. Melihat tingkah adiknya yang keterlaluan ia langsung menyeretnya ke kamar Erlan.
Fahri bahkan tidak peduli meski pemuda itu terus berteriak-teriak bahkan terus mengoceh tak karuan.
"Dasar pria kasar! Tak punya hati nurani, perebut pacar orang!" teriak Erlan.
__ADS_1
Fahri mengangkat tubuh adiknya yang semula tergeletak di lantai, lalu melemparkannya di atas kasur dengan kasar.
BRUK!
Tubuh itu pun terjatuh lunglai.
"Jika aku dan ibuku tak punya nurani, kami tidak akan membiarkan bajingan kecil seperti kamu menyusup ke istana yang seharusnya hanya milik kami," ungkap Fahri yang mungkin sudah tak tahan lagi.
"Bajingan kecil?"
Erlan terkekeh mendengar umpatan kakaknya.
"Kau tidak terima dipanggil bajingan?"
"Jika aku sekotor itu, mungkin istrimu yang bahkan tidak pernah kau sentuh itu sudah benar-benar kunodai. Aku bukan penindas seperti kamu, Fahri. Aku pria baik-baik," oceh Erlan.
Pemuda itu terus saja mengoceh. Ia melakukannya karena teler.
"Erlan, tolong kembalilah. Jangan membuatku yang sudah tua ini cemas berlebihan. Kita bisa bangkrut," pinta pak Bimo dengan tatapan memohon.
"Kudengar, Erlan mengeluarkan dana besar untuk proyek barunya, beri dia waktu. Mengapa memohon? Bukankah sebelum ini kau tidak pernah bertanya pendapatku tengah Erlan? Papa sudah memulai, tunggu saja Erlan menyelesaikannya."
Pak Bimo membisu. Entah apa artinya kediamannya itu. Mungkinkah banyak hal yang disembunyikan oleh Erlan kepadanya.
*****
Fahri membanting pintu dengan kasar setelah ia memasuki kamar. Membuat Melia yang sibuk mengedit beberapa video miliknya terhenyak.
"Ada apa?" tanya Melia cemas.
__ADS_1
Fahri tidak menjawab, tapi ia langsung mengunci pintu kamar seperti yang sebelum-sebelumnya telah ia lakukan selama ini.
Karena suaminya memang selalu begitu, membuat Melia bersikap biasa saja.
Naasnya kali ini ia salah menerka. Siapa sangka jika Fahri yang dipikir akan berganti pakaian justru mendekatinya, lalu mengangkat tubuhnya ke ranjang.
"Fahri, lepas!" teriak Melia sambil terus memukul-mukul kecil dada bidang suaminya.
"Lepas, kau pikir semudah itu. Berteriaklah sesukamu. Mengapa berteriak? Aku suami kamu, Melia. Kenapa kamu hanya diam ketika Erlan bersikap kurang ajar kepadamu!" desis Fahri dengan sorot matanya yang tajam.
Melia bahkan terus meronta, hanya saja kali itu ia tidak berani mengeluarkan suaranya. Hanya bulir bening yang mengalir deras sebagai isyarat perlawanan.
Tentu saja tubuh kecil Melia kalah tenaga ketika ditindih oleh tubuh pria tinggi, besar seperti Fahri.
*****
Suara petir terdengar menggelegar, bercampur kilatan cahaya mengenai pantulan kaca jendela.
Suasana kamar Fahri acak-acakan. Seprei putih yang semula terpasang rapih beserta selimut dan beberapa bantal, guling teronggok di lantai ubin.
Tak hanya itu, kondisi Melia pun lebih menyedihkan. Perempuan itu tampak lemah, sambil menangis ia menutupi dan memeluk dirinya sendiri dengan bantal.
Rambut panjangnya yang tergerai kini tak lagi betaturan. Wajahnya berubah pucat pasi. Sementara Fahri yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang hanya ditutupi dengan handuk yang terlilit di pinggang, matanya terbelalak ketika menyadari ada noda di atas kasur.
"Kau masih perawan?" tanyanya.
Kemudian tatapan matanya berubah redup, lalu berembun. Suara isakan tangis dari bibir istrinya semakin dekat terdengar.
Fahri berusaha menggapainya. Ia bahkan tidak peduli meski Melia menolak. Tetap saja pria keras kepala itu mendekapnya dengan kuat.
__ADS_1
"Maaf, aku menyakitimu dengan segala tuduhan. Maafkan ...."