
Flash Back
Di suatu pagi. Ketika Fahri duduk sendirian. Ia terkejut dengan suara gaduh yang berasal dari ruang tamu. Karena penasaran, ia berlari untuk mencari tahu.
Namun, langkah kakinya seolah tercekat saat ia melihat ayahnya datang sambil menggenggam jemari anak laki-laki yang masih kecil. Ya. Kira-kira usianya baru sekitar tiga tahun setengah saat itu.
"Ayah, siapa dia?" tanya Fahri dengan suara parau.
Sambil melontarkan pertanyaan netranya berpindah menatap sang ibu yang tak henti berteriak lengkap dengan sumpah serapahnya pada suaminya.
"Maafkan ayah, Nak! Aku tahu ini salah. Tapi akan semakin salah jika aku tetap mendiamkannya tinggal bersama ibunya. Namanya Erlan. Mulai hari ini dia akan tinggal dengan kita," terang Bimo.
Bimo Mahesa adalah pria terpandang dan juga kaya raya. Bagi Fahri dan keluarganya, menjunjung kehormatan keluarga adalah suatu kewajiban.
Menyadari kelakuan buruk sang ayah, yang telah menghasilkan anak dari rumah bordil. Membuat pemuda itu memandang sebelah mata tentang kehadiran Erlan.
Sejak kecil, Erlan yang polos menganggap jika Fahri adalah saudara kandungnya. Padahal sejatinya, mereka berdua dilahirkan dari rahim yang berbeda, meski dari ayah yang sama.
Melihat penderitaan ibunya. Fahri tumbuh menjadi pria pekerja keras, dan pendiam. Ia pun tidak pernah menganggap Erlan sebagai bagian keluarganya.
Bukan tanpa alasan ia melakukan itu. Itu semua ia lakukan untuk membalas sakit hati ibunya karena dipaksa membesarkan Erlan selama ini.
__ADS_1
Pagi itu, di kesempatan pertama saat mereka sedang sarapan.
"Abang, aku boleh ya memanggilmu abang?" tanya Erlan yang merengek sambil mengguncang-guncangkan lengan Fahri yang bersikap tak acuh.
"Terserah!"
Ya. Fahri selalu bersikap dingin. Entah mengapa, sejak hari itu ia selalu ingin membuat kesal sang ayah.
Perselisihan terus terjadi hingga mereka besar. Bahkan, saat keduanya bersekolah di tempat yang sama, Fahri tidak ingin mengakui Erlan sebagai adiknya.
Sejak saat itulah Erlan selalu mencari tahu tentang alasan Fahri. Berulangkali ia bertanya, tapi tak pernah ada jawaban.
Suara dentuman keras saat Erlan dihajar gerombolan bocah nakal di sekolahnya. Tepat di depan matanya bocah kecil berkaca mata tebal itu dihajar hingga lemas.
"Abang," rintih Erlan untuk yang terakhir kali sebelum akhirnya dia jatuh pingsan.
Selanjutnya, Fahri membalas perlakuan para preman di sekolahnya itu hingga mereka tidak lagi berani mengganggu Erlan.
Tak mau menunggu pulang sekolah, Fahri langsung membawa Erlan pulang ke rumahnya.
Karena bertepatan dengan jam makan siang, pak Bimo akhirnya dibuat terkejut karena Fahri memasuki rumah dengan kondisi wajah dipenuhi lebam dan juga kedua tangannya menggendong adiknya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan Erlan?" tanya pak Bimo dengan suara meninggi.
"Pindahkan sekolah anak haram ini, aku lelah jika harus dijadikan pengawal pribadinya!"
Pak Bimo melotot menatap tajam ke arah Fahri. Karena di saat bersamaan, Erlan telah membuka matanya.
"Fahri! Jaga bicaramu!" teriak pak Bimo sambil mengayunkan tangan hingga mengenai sebelah pipi Fahri.
Bocah itu akhirnya menangis tanpa suara.
"Anak haram. Itukah alasanmu malu mengakui aku sebagai adikmu?" Mata Erlan berkaca-kaca.
"Tanyakan sendiri pada dirimu, Erlan. Atau sebaiknya kau tanyakan asal-usulmu kepada ayah kita. Siapa ibu melahirkanmu!"
Suasana semakin memanas. Membuat pak Bimo yang sempat menyesali telah memberi pelajaran terhadap putranya harus kembali berdiri dan mendekat.
Naasnya, Fahri langsung berteriak memberikan peringatan yang mengejutkan hingga mampu membuat langkah pria berusia paruh baya itu akhirnya tertahan.
"Pukul! Ayo, kenapa berhenti! Tidak perlu ragu, bukankah selama ini ayah selalu menyakiti aku dan mama! Demi dia!"
Tatapan mata Fahri penuh dendam saat matanya menatap tajam ke arah Erlan. Bak elang yang siap menerkam mangsanya.
__ADS_1