Cinta Tabu

Cinta Tabu
Bab 27. Kurebut Miliknya


__ADS_3

Fahri menatap penuh benci ke arah Erlan dan juga Melia yang keduanya hanya tertutup oleh selimut di atas ranjang.


Seluruh keluarga Fahri menatap jijik, terutama pak Bimo.


"Fahri, aku sudah mengingatkan kamu. Jangan menikah dengan orang semaumu!" desis pak Bimo dengan tatapan tajam.


"Melia, kenakan pakaianmu! Kita pergi dari sini!" perintah Fahri mengabaikan keluarganya.


Erlan dan ayahnya terperangah menatap Fahri. Seolah tak percaya jika Fahri tetap ingin melindungi gadisnya meski ia telah melihat kehancuran di depan mata.


Namun, Melia yang terlanjur dibuat malu terlihat ragu sambil menggelengkan kepalanya ke arah Fahri.


"Aku menunggumu di luar Melia," ucap Fahri sambil menatap istrinya dengan sorot matanya yang berubah sendu.


"Bang Fahri, sebaiknya ceraikan dia! Aku akan bertanggung jawab atas semua ini!" seru Erlan sambil duduk meringkuk.


Pak Bimo tersenyum getir, dengan kedua telapak tangannya yang terlihat mengepal menatap kedua putranya secara bergantian.


PLAK!


Tangan kekar pak Bimo yang semula menggantung di udara tak mampu lagi tertahan hingga mendarat cepat begitu saja di pipi Erlan, hingga meninggalkan bekas tanda merah bekas buku jemarinya.


"Kau pikir aku akan bangga, seharusnya kamu tahu, Erlan! Tidak mudah bagiku memberikan posisimu yang sekarang! Aku bahkan terpaksa menyingkirkan Fahri karenamu!" pekik pak Bimo.


Tatapan Fahri nyalang ke arah ayahnya. Ia tak menduga jika segala sesuatu yang dianggapnya adalah kehancuran adalah ulah ayahnya sendiri.


Fahri sedikit tersenyum. "Jadi ini sudah diatur? Ayah, maaf jika aku mengundurkan diri dari cabang! Suruh saja anak emasmu ini untuk menjaga semua kerajaan bisnis keluarga kita!"


"Fahri!" panggil ibu Fahri, saat melihat putranya melangkah keluar.


Pemuda itu tetap pergi tidak menggubris teriakan ibunya. Sedangkan pak Bimo yang masih tetap berada di dalam kamar, melampiaskan amarahnya kepada Erlan.


"Tidak tahu malu, kenapa harus berselingkuh dengan istri kakakmu! Memangnya tidak ada wanita lain di luar sana, hah!" teriak pak Bimo terdengar memenuhi ruangan.


"Aku mengambil semua yang dimiliki Bang Fahri, karena memang seharusnya miliknya adalah milikku, Ayah! Itu sebabnya kuambil miliknya!" seru Erlan yang tak mau kalah.


"Pulang!" teriak pak Bimo sambil melempar vas bunga yang kebetulan bertengger di atas nakas.

__ADS_1


Sementara itu, Melia terus menangis tanpa suara. Bulir bening telah memenuhi pipinya, bahkan kini pelupuk matanya terlihat sembab.


Kini di dalam kamar yang seharusnya dihuni oleh Melia dan Fahri itu hanya tinggal Erlan dan juga Melia saja. Seketika suasana menjadi hening. Di saat yang sama, Erlan beranjak dari ranjang dan menutup pintu kamar.


Di saat yang sama, Melia terhenyak melihat kondisi Erlan.


"Kau masih mengenakan celana? Tapi siapa yang menanggalkan pakaianku?"


"Tentu saja aku, terjadi sesuatu di antara kita, Melia. Kamu sangat mabuk, hingga tak sanggup membedakan aku dan Fahri. Maaf, aku melakukannya karena kamu memaksa," terang Erlan sambil menyembunyikan senyumnya yang getir.


"Tidak, itu tidak mungkin! Kamu bohong!"


Erlan tidak peduli.


*****


Melia benar-benar merasa hancur. Di bawah guyura shower ia menangis. Ia bahkan menggosok tubuhnya dengan kasar, seolah sedang jijik dengan dirinya sendiri.


"Aku membencimu, Erlan. Kamu jahat, kenapa kamu terus menyakiti aku? Kenapa, Erlan?" Melia terus merutuk dalam tangisnya.


Entah berapa lama waktu yang ia habiskan di kamar mandi hingga dirinya benar-benar mulai sedikit tenang. Tak lama kemudian, akhirnya ia memberanikan diri keluar dari kamar mandi miliknya usai mengintip dan memastikan situasi kamar dalam keadaan sepi.


Ia bahkan sengaja pergi melalui pintu samping rumah. Bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu. Tentu saja ia tak ingin bertemu dengan siapapun dulu dalam kondisi saat ini. Jiwanya terguncang. Ia bahkan tak memiliki keberanian menghadapi suaminya.


*****


Tiga puluh menit lebih berlalu, Fahri yang sejak tadi menunggu akhirnya terpaksa menerobos masuk ke dalam kamar untuk memeriksa kondisi istrinya.


"Melia," panggilnya.


Sepi. Tak ada balasan. Ia kembali gusar ketika netranya menatap ke arah ranjang yang kondisinya porak-poranda akibat ulah Erlan.


'Kau akan menerima balasan dariku, Erlan. Aku tidak akan mengampuni siapapun yang menyakiti perempuanku,' rutuk Fahri dalam hatinya.


Setelah itu, ia memeriksa walk in closet milik istrinya. Melihat beberapa tempat yang terlihat kosong, dan kini ia yakin jika istrinya sengaja pergi meninggalkan rumah.


"Astaga, Melia!" pekiknya.

__ADS_1


Kemudian Fahri langsung berlari menuju garasi. Dinyalakannya mesin mobilnya, tak lama setelah suaranya menderu, mobil berwarna hitam itu langsung melesat begitu saja meninggalkan tempat.


Hati Fahri gelisah. Sepanjang jalan yang ia telusuri, tak ada tanda-tanda ia menemukan keberadaan istrinya.


Bahkan, berulangkali ia berusaha menghubungi ponsel istrinya, tapi tidak juga mendapatkan jawaban.


Gerimis yang mulai turun, membuat Fahri harus meminggirkan mobilnya di bahu jalan. Ia memilih masuk dan mulai mencari di sebuah warung berukuran sedang.


Karena ramai pengunjung, akhirnya Fahri memutuskan untuk memesan minuman sembari mengamati sekitar. Sebab tak mudah menemukan orang dalam situasi berdesakan.


Matanya terus membiak sekitar, hingga akhirnya tatapannya terhenti pada pemuda yang tampak familiar baginya. Lalu, Fahri melangkah mendekati pemuda itu.


Sedangkan pemuda yang ditatapnya, justru terlihat ketakutan dan menghindar. Tentu saja perilakunya itu justru membuat Fahri penasaran dan langsung mengejar.


Nyaris saja orang yang mencurigakan itu lari, tapi naasnya Fahri sudah berhasil menarik ujung kain yang menempel pada tubuh pria berbadan kurus itu.


"Hey, kenapa lari?" tanya Fahri penuh penekanan.


"Ampun, saya tidak ada sangkut pautnya dengan yang dilakukan Erlan," rengeknya.


Membuat Fahri yang kebingungan menaikkan sebelah alisnya, seolah sedang berpikir keras.


"Duduk!" perintah Fahri.


Pemuda bertubuh tinggi dan kurus itu pun akhirnya menurut.


"Apa yang dilakukan Erlan? Kamu Rangga, 'kan? Aku masih mengenalmu," desak Fahri.


Rangga adalah salah satu teman Erlan yang dikenakan oleh Melia semasa SMA. Fahri sempat beberapa kali bertemu dengannya, itu sebabnya ia mengenalinya.


"Ummm, tentang ... Melia mabuk berat di malam ia mengajukan surat resign. Itu ulah Erlan. Dia bilang tidak terima jika kakaknya memiliki kekasihnya. Saya sudah pernah peringatkan," terang Rangga yang terlihat gemetar menahan rasa takutnya.


Seketika kedua alis tebal Fahri saling bertautan.


"Jadi sebenarnya istriku sudah mengajukan resign? Begitu?" tanya Fahri mencoba memastikan keraguannya.


"Iya, Pak. Benar. Melia sudah resign. Tapi Erlan marah hingga memaksanya minum. Saya tidak berada di tempat, tapi kabar ini telah menyebar di kalangan karyawan dan kolega Erlan," jelas Rangga.

__ADS_1


"Mari kita bertukar nomor ponsel, sepertinya kamu mengatakan semua dengan jujur. Maka aku akan melepaskanmu. Tolong kabari aku jika melihat istriku, aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpanya, katakan aku mencarinya," pinta Fahri dengan raut cemas yang tergambar di wajahnya.


__ADS_2