
πRate
π Like
π Favorit
Fahri dan Melia masih saling menatap. Sementara itu, sopir yang mengantarkan gadis itu langsung berlalu pergi setelah mengetahui Fahri mengibaskan sebelah tangannya, seolah sengaja memberikan tanda, jika ia hanya ingin bicara berdua saja dengan Melia.
Menyadari mobil keluarganya melesat meninggalkan villa, Melia terhenyak lalu berbalik dan berlari berusaha mengejar.
Namun, dengan cekatan Fahri menarik lengan Melia hingga tubuh mungilnya langsung memutar dan berbalik ke arahnya, hingga kini keduanya saling berhadapan mata.
"Melia, percakapan kita belum selesai, paham!" teriak Fahri dengan nada tinggi.
Keduanya masih saling menatap.
"Pak, saya paham benar Anda adalah atasan saya. Tapi sadarkah Bapak, ini di luar jam kerja. Saya hanya merasa tidak nyaman karena ditinggal oleh sopir pribadi keluarga saya, Pak," bantah Melia dengan tatapan tajam.
Kali ini ia memberanikan dirinya, menengadahkan wajahnya menatap bos yang selalu membuat hidupnya bagai dikungkung dalam tekanan setiap harinya.
"Lalu apa yang kamu mau, Melia Anastasya! Menikah denganku, atau menyesal di kemudian hari karena tidak bisa memberikan apa yang ayah kamu ingin?" Fahri semakin mengikis jarak, membuat Melia semakin tak nyaman dengan sedikit tekanan.
"Lepas!" teriaknya sambil menghempaskan tangan Fahri.
Siapa sangka teriakan Melia membuat pria keras kepala itu semakin meregangkan genggaman tangannya. Seketika itu juga gadis itu melepaskan diri dari genggaman kuat jemari Fahri.
"Kita bicara di dalam, aku janji tidak akan menggunakan kekerasan. Aku minta maaf, semua tadi kulakukan karena kamu terus saja keras kepala dan tidak mau mendengar penjelasanku." Fahri langsung melenggang mendahului lalu bergegas membukakan pintu untuk Melia.
Jujur saja sebenarnya, gadis itu ragu. Akan tetapi ia juga sangat penasaran. Bagaimana bisa, Fahri dan ayahnya saling mengenal satu sama lain? Sedangkan ia tidak pernah melihat keduanya saling bertemu.
Kemudian, dengan langkah ragu Melia memasuki villa. Matanya memperhatikan sekeliling ruangan. Semua ornamen mewah mengisi setiap sudut ruangan.
Setiap sisi ruangan dicat serba putih, sedangkan bagian tengah ruangan terdapat lampu kristal menggantung yang menambah kesan mewah. Di sisi kanan, terdapat sebuah tangga yang menghubungkan ke lantai dua. Di mana setiap tapak ubin berselimut permadani.
Melia tak merasa heran sedikitpun, sebab Fahri memang memiliki banyak bisnis dan juga beberapa cabang perusahaan di bidang properti, Cafe, restoran, dan juga hotel.
__ADS_1
"Mau tetep bengong, apa cepetan lanjut ngobrol terus ke rumah sakit? Soalnya om Haris baru saja menelpon. Katanya pengen secepatnya ketemu kita," cetus Fahri mengagetkan Melia.
"Oh, jadi ayah hubungi, Bapak? Ayo, kita langsung ke rumah sakit saja kalau gitu," sahut Melia dengan raut malas.
Fahri menghela napas panjang. "Gak begitu juga, Melia. Kita bikin kesepakatannya dulu."
Melia langsung mengekor saat Fahri berjalan menuju sofa berwarna coklat di ruang tengah.
"Duduk!" perintah Fahri yang sudah mendahului duduk dengan kaki yang sengaja disilangkan.
Pemuda itu sok sibuk menuangkan minuman untuk lawan bicaranya, akan tetapi matanya tak sedikitpun terlepas dari pergerakan Melia.
"Melia, terima saja pernikahan ini. Jika kamu malu, kita bisa jalani semua diam-diam. Kamu bisa tetap bekerja di kantor yang sama denganku tanpa ada orang yang tahu, ini jika kamu mau."
Keduanya saling bertatapan mata. Tak lama kemudian, Fahri menyodorkan segelas squash berwarna orange. Pemuda itu masih bersikap sok angkuh seperti yang selalu ia tunjukkan setiap harinya.
"Terimakasih. Tapi janji, Bapak gak akan ngapa-ngapain saya. Jangan paksa buat melakukan sesuatu yang tidak saya ingin. Dan saya pasti menurut, sebenarnya saya sudah punya pacar, Pak," ungkap Melia.
Fahri yang semula menyesap minuman di gelasnya langsung tersedak. Membuat Melia bergegas berdiri lalu menepuk-nepuk punggung bosnya.
"Pacar, Katamu? Kamu mau menyesal karena tidak mengabulkan permintaan ayah kamu!" desis Fahri dengan kedua matanya yang melebar.
Melia menggeleng pelan. Kemudian, ia mengitari Fahri dan kembali duduk.
"Mangkanya, Bapak harus jaga jarak kalau pernikahan ini terjadi. Saya masih mencintai pacar saya, Pak. Saya masih mau menunggu dia. Bapak harus janji, ceraikan saya ketika waktunya tiba, ya," rengek Melia.
Fahri tersenyum kecut kemudian ia memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Ayo, ayah kamu sudah menunggu kabar dari kita." Fahri yang seketika bangkit langsung mengulurkan tangannya ke arah Melia.
"Tunggu, saya pengen tahu. Kok bisa sih, Bapak kenal sama ayah saya? Dan kenapa tiba-tiba mau menikah dengan saya?" tanya Melia yang penasaran.
"Karena hutang budi. Aku tidak mau menceritakan lebih jelas. Jika kamu penasaran, kenapa tidak kamu tanyakan saja langsung pada ayahmu. Tapi yang jelas, Melia. Aku sangat menghormati beliau. Aku tidak mau mengecewakannya. Itu sebabnya, aku tidak mau menolak perjodohan ini," terang Fahri membuat gadis di hadapannya tercengang.
"Tapi, Pak. Permintaan saya yang tadi belum dijawab." Melia merenggut sambil berdiri malas.
__ADS_1
"Tidak semua pertanyaan itu harus dijawab," sahut Fahri.
Kemudian, ia langsung menggenggam erat jemari Melia. Terang saja gadis itu sangat terkejut, lalu mendelik menatap tangan Fahri yang masih menggenggamnya.
Fahri sebenarnya sadar jika gadis itu tidak nyaman, entah mengapa ia sangat suka setiap kali menyadari Melia tak suka dengan perlakuannya.
Kali ini, Melia dan Fahri berada di mobil yang sama. Membuat jantung gadis itu terpacu lebih cepat dari biasanya.
"Biasa saja, gak usah tegang," celetuk Fahri sambil mengemudikan mobilnya.
"Kenapa Bapak gak pakai sopir?" tanya Melia merasa aneh.
"Sopir 'kan hanya untuk saat bekerja. Kalau untuk urusan pribadi, saya enggan. Kamu bisa diam 'kan? Biar saya fokus dan lekas sampai. Jangan buang waktu, Melia." Fahri langsung menyalakan mesin mobilnya dan melaju kencang.
Bibir Melia kembali manyun dibuatnya.
*****
Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya mereka berdua sampai juga di rumah sakit tempat ayahnya Melia dirawat.
Air muka Melia masih tampak cemas. Sesekali ia melirik ke arah jemarinya yang lagi-lagi digenggam kuat oleh pemuda tampan yang biasanya suka memberinya perintah ini dan itu.
"Kenapa? Gak pernah digandeng cowok keren?" Fahri tersenyum setengah mengejek.
Membuat melia mengalihkan pandangan ke arah lainnya karena salah tingkah. Betapapun kuatnya, gadis itu menentang segala persiapan pernikahan, anehnya semua berjalan lancar.
Bahkan, Melia mulai menyadari, jika ada sisi lain dalam diri Fahri. Seorang pria baik dan tampan. Sangat bertolak belakang dengan kehidupan sehari-hari ketika di kantor.
Fahri terlihat begitu berwibawa ketika berbicara dengan Pak Haris dan juga bu Laras.
"Nak, Fahri. Bagaimana, apa bisa kita laksanakan secepatnya? Biar bapak lekas tenang," ungkap pria paruh baya itu terlihat setengah memohon.
Melia terkejut. Bagaimana mungkin sang ayah bersikap seolah merendahkan harga dirinya sendiri demi seorang Fahri. Siapa dia? Apa hubungan di masa lalu mereka? Sungguh, Melia benar-benar merasa penasaran akan hal itu.
"Siap, Pak. Sekarang yang terpenting, Bapak istirahat saja yang cukup. Saya janji, begitu Bapak keluar dari rumah sakit, pernikahan ini akan segera dilaksanakan. Tidak perlu ada yang dicemaskan, benar 'kan Melia?"
__ADS_1
Gadis itu mengerjap berulang kali, seolah tak yakin dengan ucapan Fahri pada ayahnya.