
Melia berhasil mengangkat tubuh Damian yang ukurannya tak biasa atas bantuan sopir taksi yang kebetulan sedang melintas.
Tatapan mata Melia terus tertuju pada pria berkulit kemerahan, pemilik rambut blonde yang kini hanya bersandar tak sadarkan diri di sampingnya itu.
Mendung menyelimuti wajah cantik yang terlihat cemas. Ia bahkan berulang kali mengguncang-guncangkan tubuh Damian agar pemuda itu tetap tersadar.
"Kak Damian, ada apa denganmu? Penyakit apa yang kau derita sehingga membuatmu seperti ini?" tanya Melia sambil menatap jalanan yang sebentar lagi sampai dengan raut cemas.
Namun, Damian tidak memberi respon. Matanya terpejam dan tubuhnya lemas.
Debar jantungnya seakan terpacu hebat ketika menyadari taksi mulai memasuki area rumah sakit terdekat.
Lalu lalang pengunjung rumah sakit, membuatnya lumayan bersusah payah saat harus memanggil petugas medis untuk meminta bantuan.
Meski begitu, akhirnya Melia berhasil juga mengajak salah seorang perawat sambil membawa tempat tidur yang memiliki roda di beberapa sisinya. Sehingga memudahkan untuk membawa Damian ke dalam ruangan pemeriksaan.
"Maaf, Mbaknya urus saja administrasinya. Kami akan menangani pasien. Harap bersabar dan menunggu di luar saat proses pemeriksaan," sergah salah seorang perawat yang sengaja menghadang Melia yang nyaris menerobos ikut masuk ke dalam ruangan.
"Baiklah," sahutnya yang kemudian melangkah menuju tempat administrasi.
Pikirannya sangat kalut, merasa takut dipersalahkan, akhirnya ia menghubungi suaminya dan memintanya datang ke rumah sakit tersebut. Tak hanya itu, Melia pun akhirnya menceritakan tentang apa yang terjadi hingga Damian tumbang di jalannan.
Kabar baiknya, Fahri langsung menuju ke lokasi. Meski begitu, tidak lantas mampu membuat Melia tenang. Rautnya masih mengisyaratkan kecemasan.
Entah berapa menit sudah waktu berlalu, hingga ia memutuskan untuk menjenguk Damian setelah membeli beberapa cemilan dan juga air mineral.
Senyuman sekeras mengembang, setelah ia melihat Damian telah duduk bersandar di sandaran ranjang.
__ADS_1
"Melia, ke mana saja kamu? Aku mencarimu," ungkap Damian terlihat cemas.
Melia menyodorkan sebotol air setelah ia membantu membukakan penutupnya. Sementara itu Damian, langsung meraih dan meneguknya hingga tersisa separuh botol saja.
"Aku cemas, tadi diusir dokter dan perawatnya. Aku ke ruang administrasi, berbelanja sebentar lalu ke mari," sahut Melia sambil memperhatikan Damian.
"Terimakasih untuk hari ini," ucap Damian.
Tatapan matanya masih sama. Terlihat jelas jika sebenarnya ia menyimpan rasa kagum terhadap lawan bicaranya—Melia Anastasya.
"Tidak masalah, sebenarnya ada apa denganmu Kak? Kenapa sembarangan pingsan di jalanan. Kau membuatku menjadi pusat perhatian orang sekitar tadi, untung saja jantungku ini kuat. Sebab kalau tidak, bisa jadi aku adalah korban berikutnya," oceh Melia.
Damian tersenyum lemah. Kemudian ia sedikit mengacak rambut Melia. Seakan ia telah dekat dalam rentang waktu yang lama.
"Aku sepertinya memiliki trauma dengan suara klakson yang riuh dan juga hujan yang diserai petir," sahut Damian yang sebenarnya ragu untuk menjelaskan.
Damian masih tersenyum. "Apakah kita pernah kenal dan bertemu sebelum ini?"
Pertanyaan sama yang terus diulang oleh pemuda beetubuh tegap itu setiap kali ia bertemu dengan Melia. Membuat gadis itu akhirnya menghela napas panjang, lalu menggeleng cepat.
"Kenapa pertanyaan yang sama itu lagi ... aku lelah mendengarnya, bahkan bosan," rengek Melia.
Entah mengapa, bukannya marah seperti cara Fahri menghadapinya, Damian justru senang dengan sikap manja penuh rengek yang ditunjukkan oleh Melia kepadanya.
"Suatu hari, aku ingin memberi tahu alasanku. Tapi tidak sekarang," sahutnya.
Kemudian, tatapan keduanya tertuju pada pintu setelah mendengar suara ketukan yang lumayan keras disertai dengan suara langkah kaki yang kian mendekat.
__ADS_1
Ya. Akhirnya Fahri datang sambil menenteng paper bag berisi pakaian ganti untuk Damian.
"Kau mengalaminya lagi? Apakah semakin serius? Apakah kambuhnya lebih sering dari sebelumnya?" tanya Fahri terdengar mencecar.
"Ya. Semoga lekas membaik. Tidak juga, hanya jalanan di sini lebih riuh dengan suara klaksonnya. Hujan disertai petir tadi membuatku kembali mengingat kejadian menyeramkan di masa lalu. Tapi sekarang sudah membaik, dan itu berkat istrimu," jelas Damian.
"Syukurlah. Cepat ganti baju! Lalu pulang jika kondisimu sudah pulih, memangnya nyaman tinggal di rumah sakit seperti ini? Ingat, kau datang untuk bersenang-senang." Fahri berbicara sembari menyodorkan paperbag yang semula di tangannya.
"Bagaimana dengan rekaman CCTV yang kuserahkan kepadamu sebelumnya?"
Mereka bertiga saling menatap secara bergantian satu sama lainnya. Membuat suasana yang sempat gaduh berubah hening.
"Aku ingin mengungkap di depan keluargaku. Meski begitu, aku enggan kembali ke perusahaan dalam waktu dekat," cetus Fahri.
"Bukan itu maksudku, apakah di dalamnya ada bukti unsur kesengajaan atas asusila yang telah Erlan lakukan terhadap istrimu?" tanya Damian yang terkesan begitu antusias mencari tahu.
"Tentu, terimakasih atas bantuannya. Sehingga aku tidak perlu lagi mengalami salah paham terhadap istriku dalam wak lama. Cepat ganti baju, kuantar kamu pulang! Sebab, secepatnya akh harus menyelesaikan polemik yang terjadi dalam keluargaku."
Damian tersenyum masam. Kemudian mengangkat tiang infus di sebelah tangannya, lalu melangkah menuju kamar mandi.
Tubuhnya terasa lemah, bahkan saat berjalan saja ia harus sempoyongan. Membuat Melia yang tidak tega langsung memapahnya tanpa diminta.
"Eh, siapa suruh kamu boleh memapahnya," sergah Fahri yang langsung sedikit mendorong istrinya sambil melepaskan tangan Damian yang sempat bertengger di bahu Melia.
"Dasar pencemburu!"
Damian berdecak kesal sambil menatap sahabatnya.
__ADS_1