Cinta Tabu

Cinta Tabu
Bab 33. Kencan Janggal


__ADS_3

Fahri tidak tahan lagi harus menunggu lebih lama. Melihat Melia menyiksa dirinya sendiri, ada rasa sedih di hatinya. Pria itu langsung melemparkan selimutnya hingga terjatuh ke lantai melampiaskan kekesalannya.


Lalu dengan langkah gusar, ia mendekati Melia. Ditatapnya dengan tajam gadis yang akhirnya segera duduk dan memeluk lututnya itu, lalu dengan penuh emosi, Fahri melepaskan dan melemparkan alat pendengar musik yang masih menempel di kedua telinga Melia ke sembarang tempat.


"Eh, apa-apaan, Kamu!" teriak Melia tak terima.


Namun, Fahri yang terlanjur dikuasai amarah, bukannya menjawab malah langsung mengangkat tubuh Melia dan memindahkannya ke ranjang.


"Lepaskan!" teriak Melia sambil meronta.


"Berteriaklah sekeras mungkin! Jika memang kamu ingin mencari perhatian Erlan, lakukanlah! Agar dia menerobos masuk ke kamar kita!"


Mendengar protes dari suaminya, akhirnya Melia terdiam. Fahri adalah sosok pria perhatian. Seperti sikapnya yang baru saja terjadi, memang terkesan kekanak-kanakan. Tapi ia tidak peduli. Mungkin ia tidak tega melihat istrinya tidur di sofa sudut ruangan, sementara dirinya sendiri tidur di ranjang empuk miliknya.


Melihat Melia seperti itu, ada rasa perih di hatinya.


"Tidur di sini bersamaku, jika kamu cemas dan tidak nyaman. Aku janji tidak akan menyentuh tanpa seizin kamu," terang Fahri mencoba meyakinkan istrinya.


Meski begitu, Melia tetap saja gelisah. Apalagi masalah tuduhan perselingkuhan dirinya dan Erlan di keluarga itu yang belum selesai, terang saja membuatnya tidak nyaman.


Melia hanya bisa diam membeku sambil menatap langit-langit kamar. Sesekali sudut matanya melirik ke arah Fahri, seolah-olah sedang berjaga-jaga. Mungkin saja ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.


Fahri tiba-tiba menggeliat dan hampir memeluk Melia. Namun, dengan gesit perempuan berparas cantik itu langsung beranjak duduk. Membuat Fahri pun turut terduduk karenanya.


"Melia, aku hanya ingin bertanya. Apakah kau akan membuatkan sarapan pagi untukku?" tanya Fahri dengan tatapan sendu terkesan memohon.


"Ya. Tentu akan ku buatkan. Maaf, aku refleks bangun. Tanganmu seolah ingin menggapaiku, bikin aku takut," cetus Melia.


Entah mengapa, seketika Fahri langsung menarik Melia ke dalam dekapannya dan mengajaknya untuk berbaring. Pada awalnya, Melia menolak.

__ADS_1


"Tidak, lepaskan aku," tolak gadis itu merasa bersalah dan tak pantas.


"Sudah, pejamkan matamu! Apa susahnya membuat sejenak masalah hilang meski sejatinya membilang? Tidur, aku sedang berusaha mencari tahu tentang apa yang terjadi di malam itu, Melia," ungkap Fahri sambil mendekap erat tubuh mungil istrinya.


"Bagaimana jika noda itu benar-benar ada?" tanya Melia dengan raut cemas.


"Kita tunggu saja kabar dari Damian Lucas. Besok, aku punya sedikit pekerjaan di luar. Kalau kamu bosan, pergilah berbelanja," tukas Fahri mengakhiri obrolan di malam itu.


Setelah itu, keduanya sama-sama terlelap. Meski di beberapa menit pertama, Melia sering terbangun dan membuka matanya untuk memperhatikan suaminya.


 


Siang telah berganti malam. Melia merasa bosan karena sejak tadi hanya bisa duduk menunggu.


Hingga akhirnya, ia mencoba tidur untuk mengisi waktu yang kosong. Namun, suara dering telepon membuatnya terkejut. Terlebih, nomor tanpa nama tertera di layar. Membuatnya merasa cemas.


Sejenak, ia diam saja, hingga panggilan itu berakhir dengan sendirinya. Tak lama kemudian, Melia menerima pesan dari nomor yang sama yang mengatasnamakan Damian Lucas.


Namun, mengingat kondisi rumah tangganya saat ini, Melia memilih menolak. Tak mau terjadi kesalahpahaman, akhirnya ia bercerita kepada Fahri lewat pesan singkat yang ia kirim.


Tak butuh waktu lama, Fahri membalas dengan lega. Katanya, ia memperbolehkan Melia berbelanja jika bosan di dalam kamar. Mengenai Damian, Fahri memberikan saran untuk membiarkannya.


Seperti diuji untuk yang kesekian kalinya, Melia akhirnya mengusir kebosanan itu.


Di bawah teriknya panas matahari siang itu, Melia berjalan sendirian masuk ke toko es krim.


Ia duduk sendiri, memesan beberapa varian es krim. Senyumnya berbinar saat seorang pelayan menghampiri sembari menyuguhkan pesanan Melia.


"Kali ini, biar aku yang bayar!"

__ADS_1


Suara bariton yang terdengar familiar membuat Melia ketakutan. Ia langsung beranjak dari tempat duduknya.


"Ini aku, jangan takut. Oke, duduklah sebentar. Aku hanya ingin memberitahu kabar jika aku sudah berhasil memberikan hasil rekaman CCTV kepada suami kamu," ungkap Damian.


Meski ia bukan pribumi, wajahnya tampak ramah, dan tidak ada yang menyeramkan dari pemuda itu.


"Lalu hasilnya?" tanya Melia dengan raut penasaran.


"Oh, maaf. Aku lupa mengeceknya. Bagiku, tidak sopan melihat video itu tanpa seizin Fahri," tangkas Damian menjawab pertanyaan Melia.


"Kalau begitu, aku pulang saja. Mungkin suamiku sudah menunggu di villa. Aku tidak ingin masalah ini semakin rumit," cetus Melia dengan raut gelisah.


"Aku akan mengantarmu," tawar Damian.


"Tidak, terima kasih. Kalau boleh tahu, Kenapa Kak Damian begitu baik padaku?"


"Karena... apakah kita saling mengenal Melia? Apakah kita pernah dekat sebelumnya? Apakah kita pernah bertemu?"


Tanpa menjawab, Damian mencecarnya dengan serangkaian pertanyaan.


Melia menggeleng cepat. "Tidak pernah, kenapa?"


"Apakah kamu memiliki saudari kembar?" tanya Damian sambil memicingkan sebelah matanya.


Lagi-lagi Melia menggeleng cepat.


Damian seperti sedang berpikir keras, seolah sedang berusaha mengingat tentang sesuatu. Dan kemudian, ia berteriak sambil memegangi kepalanya.


"Aargh, sakit! Kepalaku sakit, Melia!" teriak Damian tiba-tiba.

__ADS_1


"Kau kenapa, Kak Damian? Biar kucarikan taksi. Aku antar ke rumah sakit."


Melia langsung berlari dan meninggalkan Damian yang merintih kesakitan. Namun, pemuda itu terus berteriak-teriak, "Jangan, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku, Melia!"


__ADS_2