Cinta Tabu

Cinta Tabu
Bab 36. Prasangka


__ADS_3

Sama seperti hari-hari sebelumnya ketika Fahri mengajak Melia menginap di villa milik keluarganya. Setelah sampai di dalam kamar, diputarnya kenop pintu lalu dikunci.


Melia langsung duduk di sofa bagian paling ujung sambil memeluk lututnya sendiri. Di saat yang sama, Fahri hanya bisa melepaskan lelah dengan helaan napas panjang.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Fahri sambil melangkah mendekati istrinya.


"Tidak ada," sahut Melia enggan bicara.


"Kau tidak percaya padaku lagi?"


Fahri langsung meraih kepala Melia lalu menenggelamkannya ke dada bidangnya. Gadis itu pun menangis.


"Dengar, pada saatnya nanti ... kamu akan paham bagaimana aku dan juga inginkan. Aku cuma minta kamu sabar," ujar Fahri mencoba menenangkan.


Melia mendongakkan wajahnya sejenak. Meski sebenarnya, melakukannya adalah hal yang perlu dia hindari mengingat Fahri kembali galak beberapa hari belakangan.


"Kenapa kamu masih mencoba menolongku? Bukankah pernikahan ini hanya permainan? Kenapa tidak kamu biarkan saja aku hancur dengan segala noda yang telah adikmu buat?"


Melia kembali mendongak menatap Fahri tanpa kedip. Kali ini, ia terus menatap tajam tanpa kedip dalam rentang waktu yang lebih lama dari sebelumnya. Seolah sedang menanti jawaban dari suaminya sendiri.


"Aku masih mencintaimu, masih suami kamu, itu saja."


Berkali-kali, Fahri melirik wajah pucat itu. Diamatinya ekspresi yang ditampilkan dalam diam. Seorang perempuan yang ia nikahi karena syarat, sedang menyeka matanya yang sembab dan terus mengalir melewati pelupuk mata.


Tentu saja masih teringat jelas di ingatan Fahri, tentang janjinya bersama pak Haris yang masih harus ia jaga selamanya.


"Kau mau ikut aku menemui Damian?"


"Ada apa?" Mata Melia mengerling bingung.


Bukankah mereka baru bertemu di rumah sakit beberapa jam lalu? Lalu, apa yang membuat Fahri tiba-tiba kembali ingin menemuinya?


"Aku penasaran, bagaimana bisa kalian bersama di tempat asing sementara aku tidak ada di sana? Kebetulan? Kalian bahkan baru berkenalan. Lalu, mengapa bisa sedekat itu?"


Melia membalas suaminya dengan tatapan tajam, lalu mendengkus pendek.


"Benar kata orang kebanyakan. Kau memang penuh prasangka buruk dan menyebalkan, Fahri."

__ADS_1


Fahri menyunggingkan selarik senyum. "Jadi, apa kau masih berniat meminta cerai dariku suatu saat nanti?"


Melia mengerling bosan. "Entah."


"Karena aku menyebalkan, hingga membuatmu dilema, benar?" Fahri tertawa kecil.


Melia sempat mendelik sekilas, lalu memalingkan wajahnya berusaha menampakkan ekspresi marah dan enggan bicara. Lalu kemudian, tiba-tiba saja Fahri meraih wajah istrinya dan menangkupnya. Sejenak, keduanya saling menatap. Hingga entah sejak kapan kedua bibir itu akhirnya mulai bersentuhan.


Beberapa detik kemudian, Melia tersedak dan memberanikan diri mendorong tubuh suaminya. Hingga keheningan kembali menyelimuti keduanya.


*****


Fahri sedang mematut diri di pantulan cahaya cermin. Begitu tampan dan menawan dengan balutan kemeja putih yang ia padukan dengan jas berwarna biru tua.


Tubuhnya yang tinggi besar, membuat jas mahal yang ia kenakan tercetak sempurna di tubuhnya.


Tak lama berselang, Melia baru saja keluar dari walk in closet dengan gaun berwarna tosca yang dihiasi dengan renda melingkar di beberapa bagian ujung kainnya. Menjadikannya terlihat elegan.


Selarik senyum tipis itu lagi yang tampak. Membuat Melia yang tersadar sedang diawasi, siap siaga seolah ingin melarikan diri.


"Tenang, aku tidak akan membuat wajahmu memerah karena berdebar saat kudekati, marah, ataupun membuatmu terpesona dengan wajahku yang terlihat menawan."


Setelahnya, mereka memilih tak saling bicara. Hingga mobil meluncur santai, melewati gedung-gedung tinggi pencakar langit. Keduanya seperti sedang sengaja memutari jalanan kota entah untuk yang ke berapa kalinya.


"Kenapa terus berputar?" tanya Melia protes sambil mendengkus kesal.


"Tunggu waktu yang tepat, Damian masih belum sampai di tempat tujuan."


Setelah mendengarkan ponselnya berdering, barulah Fahri melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membuat Melia segera berpegangan sambil memejamkan matanya setelah tahu suaminya mengemudi sambil menerima telepon dari seseorang yang entah di kejauhan sana.


"Kita sudah sampai," bisik Fahri.


Bibirnya yang tipis bahkan terasa saat menempel di telinga Melia. Membuat gadis itu merinding bahkan reflek menyentuh tengkuknya.


"Ada apa lagi sekarang?" Melia bertanya den suara lemah, seolah lelah dan terpaksa.


"Lihat saja sendiri nanti."

__ADS_1


Kini keduanya turun dari mobil, dengan isyarat matanya Fahri memberi perintah kepada istrinya agar menggandeng tangannya.


Tentu saja meski terpaksa, Melia tetap melakukannya. Beberapa tamu yang datang di restoran mewah tersebut tampak takjub pada keduanya.


Tak terkecuali Damian Lucas. Ia langsung berdiri dan mengulurkan tangannya menyambut kedatangan Melia sambil sedikit membungkukkan bahu. Seolah pangeran yang memperlakukan wanitanya bak ratu kerajaan.


Sementara Fahri, memilih mendiamkan sikap berlebihan sahabatnya meski sebenarnya kesal. Memberi perhatian dengan menyeret kursi agar diduduki oleh istrinya mungkin lebih baik baginya.


"Kenapa tidak memilih meja dengan jumlah kursi yang lebih sedikit saja," protes Melia sambil menjatuhkan diri di kursi yang disiapkan oleh suaminya.


"Karena ini bukan pertemuan biasa, Sayang! Lihat saja nanti," sahut Fahri membuat Melia semakin penasaran hingga keningnya berkerut.


Tak lama kemudian, segerombolan pria terlihat dari kalangan berkelas sedang menghampiri mereka. Damian langsung bangkit, diikuti oleh Fahri dan Melia menyambut mereka.


"Fahri, apa-apaan ini? Pemberontakan? Lihat, bukankah mereka beberapa investor besar yang menarik saham mereka dari perusahaan keluargamu?"


Melia menatap tajam, seolah sengaja memberikan isyarat jika ia tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Fahri pada keluarganya.


"Menarik saham dari keluargaku, bukan berarti menarik saham dariku?"


Sungguh. Melia sangat terkejut mendengarnya.


Fahri memamerkan senyum simpulnya yang menyebalkan lagi. Membuat Melia menerka-nerka. Sialan. Sebenarnya siapa yang kejam di keluarga itu? Mengapa begitu banyak permainan?


Mengkhianati keluarga sendiri, bukankah sama halnya menghianati diri sendiri? Melia tak paham apa yang sebenarnya direncanakan oleh suaminya dan orang-orang itu. Ia hanya memilih diam, ketimbang ikut campur dan harus berurusan dengan Fahri yang terlalu rumit untuk ia pahami.


Masalahnya gara-gara Erlan saja sudah cukup membuatnya pusing tujuh keliling. Apa lagi ditambah ikut campur bisnis yang bahkan tidak ia pahami.


"Oke, selamat malam dan datang semua di acara kumpul bareng atas undangan saya. Ini tentang bisnis baru kita, tanpa Erlan dan Papa saya semua. Perusahaan akan resmi dibuka minggu depan, di tempat yang kita tentukan," ucap Fahri membuyarkan keheningan memamerkan pembukaan yang memukau.


Ya. Semua orang juga mengakui jika pria ini lebih unggul dari Erlan yang pengalamannya masih secuil.


Tak lama kemudian, giliran Damian ikut memperkenalkan diri dan memberikan sambutan. Siapa sangka ia langsung menandatangani kontrak mega proyek, sebagai desainer interior properti Fahri.


"Tunggu, Damian. Bukankah kau sudah setuju untuk memberikan Erlan kesempatan," protes dari salah seorang investor yang hadir.


"Belum, aku masih meninjau, apakah dia mampu mengekspor interior langka yang kupesan sebagai syaratnya. Jika tidak, tentu aku akan membatalkannya," ungkap Damian.

__ADS_1


Melia tercengang. Rupanya, Erlan yang keterlaluan sengaja diberikan pelajaran oleh suaminya. Mungkinkah pemuda itu akhirnya menyerah? Atau Justru berusaha mengambil hal lain yang dimiliki Fahri? Entah, tak ada yang tahu.


__ADS_2