
Pagi ini cuaca sedang buruk, gerimis yang turun menjadi hujan lebat mengguyur pekarangan rumah yang ditinggali oleh Melia dan juga Fahri.
Dengan perasaan kalut tak menentu, pemuda itu mulai berkemas.
"Melia, aku usahakan masalah ini cepat selesai. Aku juga tidak paham, mengapa ayah seolah ingin menyingkirkan aku dari perusahaan keluarga," ungkap Fahri dengan tatapan teduhnya.
"Tidak apa-apa, aku bisa menunggu dan menjaga diri untukmu. Jangan cemas, urus saja pekerjaanmu. Bagaimana jika kita bertemu di akhir pekan?"
Kedua insan yang mulai jatuh cinta usai menikah itu mulai belajar berkompromi dengan keadaan.
"Sayang sekali, kita bahkan belum pernah liburan berdua," keluh Fahri.
"Masih ada banyak waktu, Fahri. Kita akan sering berlibur nanti, ketika kamu sudah berhasil memecahkan teka-teki yang mengganggu pikiranmu," sahut Melia berusaha menenangkan suaminya.
"Janji, jaga kehormatan kamu sebagai seorang istri saat jauh dariku. Jangan pernah biarkan Erlan mendekati kamu, begitu juga dengan pria lainnya. Tanamkan dalam hati, jika kamu sudah ada yang memiliki," pinta Fahri dengan sorot mata yang mengisyaratkan memohon.
"Janji," balas Melia.
Mendengar istrinya mengucapkan janji setia saja rasanya hati Fahri seperti diguyur dengan air es. Begitu dingin dan menyejukkan.
Tak lama kemudian, Fahri mulai berpamitan, lalu pergi meninggalkan Melia karena pekerjaan mereka berdua yang tidak lagi berada di tempat yang sama.
Entah mengapa, sejak hari itu Melia merasa sangat sedih. Seolah memiliki firasat buruk dengan hubungan pernikahannya.
Ia tak berhenti menatap hingga mobil Fahri menghilang dari pandangannya.
*****
Keesokan harinya, Melia kembali datang ke kantor. Seperti biasa, ia kembali menjalankan pekerjaannya sebagai staf kantor yang dikhususkan untuk merancang desain interior sekaligus properti pesanan suatu perusahaan.
Pagi itu, ia datang lebih awal karena merasa kesepian di rumah. Wajah Fahri tidak lagi menghiasi hari-harinya. Seharusnya ia merasa terbebas, sebab sejak dulu terpisah dari Fahri adalah hal yang paling ia inginkan. Tapi sayangnya, takdir seolah membolak-balikkan hati manusia.
Melia yang dulu membenci, kini berbalik menjadi cinta. Bahkan, ia sudah mulai merindukan pria sombong dan arogan itu.
Melia sedang duduk usai menyeduh kopi miliknya, sesekali disesapnya secangkir kopi yang aromanya masih menguar kuat mendominasi ruangan, serta asapnya masih mengepul pertanda kopi di cangkirnya itu masih panas.
Suara gaduh tak biasa membuat fokusnya terganggu. Tak ingin ketinggalan berita, Melia bergegas bangkit mencari tahu. Tentang siapa pria yang telah berani mengakuisisi perusahaan milik keluarga suaminya itu.
__ADS_1
Beberapa rekan sejawatnya terlihat sibuk menyalami, sambil membungkukkan badan sebagai tanda hormat ketika pemuda itu datang.
Namun betapa terkejutnya Melia, ketika ia melihat Erlanlah yang memimpin perusahaan milik suaminya.
'Tunggu, ini bukan diakuisisi. Melainkan, sengaja direbut paksa. Apakah suamiku sudah tahu akan hal ini? Ada masalah apa antara mereka berdua? Mengapa mereka seolah saling bersaing satu sama lain?' tanya Melia dalam hatinya.
"Melia, kenapa diam mematung? Kau tidak menyambutku dengan pelukan hangat, Kakak ipar?" Erlan mengulurkan kedua tangannya ketika bicara.
Entah mengapa, semua rasa yang tersisa justru menjadikan luka bagi Melia. Dulu, gadis itu sangat menginginkan Erlan, tapi sejak tahu pemuda itu lebih mementingkan bisnis ketimbang hubungan mereka, rindu yang menggebu pun pudar bahkan menghilang.
"Selamat datang, semoga apa yang kamu miliki ini bisa bertahan lama." Melia mulai mengangkat buku jemarinya, dan menjabat tangan Erlan meski menyembunyikan kecewa.
Namun, yang gadis itu tangkap adalah, semua yang dilakukan Erlan semata karena ia ingin membalas Fahri sebab telah menikahinya.
Keduanya sempat saling memaku sesaat. Bahkan tatapan mata keduanya sempat saling bertautan. Entah berapa lama, hingga akhirnya Melia memberanikan diri menarik telapak tangannya dari genggaman kuat tangan Erlan.
"Selamat bekerja," pungkas Melia yang langsung meninggalkan Erlan yang masih berdiri di pijakannya sembari disaksikan oleh banyak karyawan.
Erlan hanya membalas dengan senyum kecut menatap mantan kekasihnya.
'Kau tidak mengenalku dengan baik, Melia. Aku akan membuatmu menyesal bersikap tak acuh padaku,' rutuk Erlan dalam hatinya.
Langkah kaki Melia pun tercekat, saat mendengarnya. Tapi, ia tidak serta-merta langsung berbalik menanggapi, perempuan berparas cantik itu justru tetap melanjutkan langkahnya menuju cubicle miliknya.
Melihat reaksi Melia, sontak saja Erlan marah. Ia merasa dipermalukan. Hingga dengan langkah lebar ia mengejar Melia.
Kemudian, dengan gerakan gesit sekali sentakan ia mencengkeram kuat lengan mantan kekasihnya, hingga tubuh mungil itu dibuat terkikis jaraknya.
"Melia, aku bos di sini sekarang! Apapun masalah kita, aku harap kamu bisa profesional," terang Erlan.
"Kau pandai bersandiwara. Kau juga pandai meniru yang Fahri lakukan, tapi sayangnya bagaimanapun, seorang tiruan tidaklah bisa mengalahkan yang asli," sahut Melia kemudian ia berusaha melepaskan genggaman kuat Erlan.
Hari itu terus berlalu meski penuh ketegangan. Melia menolak keinginan Erlan. Ia justru meminta Windy menggantikan posisinya. Tentu saja hal itu semakin memancing emosi Erlan.
*****
Hari sudah sore, tiba saatnya untuk pulang ke rumah. Melia segera merapikan meja kerjanya. Di saat bersamaan, Erlan mengamati gadis itu dari koridor dengan raut kesal.
__ADS_1
Dengan langkah cepat, gadis itu pergi, mendahului karyawan lainnya. Entah apa yang sedang terlintas di benaknya. Tapi yang pasti ia merasa tidak nyaman di tempat itu.
Sejak Fahri pergi, Melia memutuskan berangkat ke kantor naik taksi online. Begitu pun ketika pulang, ia sudah memesan taksi lebih dulu.
Tepat di halaman parkir, seorang pria melambaikan tangannya. Seolah memberikan tanda jika ia adalah sopir taksi yang dipesan oleh gadis cantik bertubuh ramping itu.
Saat duduk di dalam taksi, barulah Melia bisa menghela napas lega.
Mobil mulai meluncur kencang melewati jalanan yang masih basah akibat hujan baru mulai reda. Melia bisa melihatnya dari celah jendela kaca mobil.
Namun, ketika tak sengaja menoleh ke arah belakang, ia kembali dikejutkan dengan mobil Erlan yang ternyata membuntutinya.
Seketika itu juga, Melia langsung memberikan perintah pada sopir taksi agar menghentikan mobilnya di pusat taman kota.
*****
Waktu berlalu begitu cepat, mungkin semua membuat Erlan terkejut, karena ternyata Melia justru berhenti dan turun mendadak di sekitar taman kota yang ramai oleh pengunjung.
Di tengah riuhnya kerumunan orang yang sedang menghabiskan waktu bersantai sore di sekitar taman kota, Melia berusaha membaur dan menghilang.
Namun, Erlan tetap menemukannya. Entah pemuda itu meninggalkan mobilnya di mana, tapi yang jelas pemuda itu terus berjalan cepat seolah mengejar langkah Melia.
Gadis itu sengaja melewati sebuah jembatan, lalu tiba-tiba saja sepasang tangan kekar menyambar lengannya, hingga membuat Melia meringis menahan sakit.
"Lepas!" pekik Melia sembari berontak.
"Apa kurangku? Bukankah hubungan kita lebih lama? Aku yang lebih dulu memiliki kamu, Melia!" teriak Erlan dengan nada tinggi.
"Kita hanya teman kecil, Erlan," kilah Melia berusaha menyangkal.
"Teman kecil katamu? Jika hanya teman, kenapa kamu menangis saat kutinggalkan dulu? Kenapa kamu bercerita akan dinikahkan paksa oleh ayahmu? Ini bukan sekedar cinta masa kecil, Melia!"
Keduanya saling menatap. Mata mereka sama berembunnya, seolah bermakna entah.
"Dengar, kini semua berubah. Cintaku hilang saat aku tahu, jika ternyata hubungan kita bukanlah hal penting bagi kamu Erlan," tutur Melia dengan penuh penekanan.
"Aku masih mencintai kami, saat ini dan selamanya," ungkap Erlan yang tidak sedikitpun melepaskan tatapan matanya dari wajah ayu Melia.
__ADS_1
"Jika itu benar, maka itu perasaan yang salah. Sebab kebenarannya adalah, aku kakak iparmu sekarang. Cinta ini salah, Erlan. Cinta Tabu. Dan itu
itu tidak dibenarkan apapun alasannya," cetus Melia dengan nada ketus.