Cinta Tabu

Cinta Tabu
Bab 28. Fitnah


__ADS_3

"Apa yang lebih menyakitkan, dari tuduhan perselingkuhan yang bahkan tidak pernah kalian lakukan."


*****


"Melia, lekas bersiap. Kita akan makan malam bersama keluargaku!" seru Fahri, lebih terdengar seperti perintah bagi Melia.


Gadis itu hanya diam. Dengan buli kristal yang menetes di pipinya, ia hanya duduk menatap jauh dari jendela kamar.


"Mel, aku minta maaf." Fahri berbisik lirih sedangkan kedua tangannya menyentuh lembut kedua bahu istrinya.


Melia masih diam. Meskipun tak bisa mengelak jika ia benar-benar merasa hancur malam itu.


"Aku, tidak memiliki niat buruk. Aku ... terpancing kata-kata Erlan. Dia mengejekku yang tidak pernah menyentuhku. Anehnya, dari mana dia bisa tahu?"


"Mel," panggil Fahri yang diabaikan oleh Melia.


Membuat pria menawan yang digandrungi banyak wanita, namun bersikap dingin seperti Fahri terpaksa harus mengguncang-guncangkan tubuh istrinya untuk berulang kali.


"Melia!" teriaknya.


Melia segera membersihkan air matanya yang tersisa dengan kasar, lalu memberanikan diri menatap Fahri.


"Aku benar-benar tidak mengenalimu. Sebentar dingin, galak, suka memberi perintah! Sebentar lagi bilang begitu mencintai dan tidak akan menceraikan. Begitu terpancing dengan fitnah adik sendiri mendadak bilang pernikahan ini hanya permainan. Aku tak lebih sebagai aktrisnya, dan sekarang apa? Merasa bersalah dan berpura-pura mencintai. Aku lelah ...."


Melia langsung menangis hingga sesenggukan. Membuat Fahri yang memang merasa bersalah langsung menggapai tengkuk istrinya dan menenggelamkan tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.


"Ya aku salah. Menangislah ... aku minta maaf. Maafkan aku, sungguh!"


Lalu semua pun larut dalam kesedihan. Hening.


Namun, hanya beberapa menit berselang. Keduanya harus dikejutkan oleh suara ketukan pintu yang lumayan keras. Dari suaranya, Fahri bisa mengenali, jika yang datang adalah seorang kepala pelayan.


"Permisi, Mas. Diminta turun oleh Pak Bimo. Katanya harus makan malam bersama!" teriaknya dari luar pintu kamar.


"Kami segera turun," sahut Fahri.


Kemudian, suara teriakan dari luar kamar itu pun tak lagi terdengar. Mungkin saja kepala pelayan itu langsung pergi setelah mendengar jawaban tuan mudanya. Entah.


Fahri mengulurkan tangannya, berharap Melia menggapainya dan ikut turun. Menunggu uluran tangan istrinya saja irama jantungnya jadi naik turun.


Ya, perasaan Melia memang tidak bisa ditebak. Bisa saja jika ia masih kesal menolak pergi dan tidak memberikan maaf.

__ADS_1


Namun, bagi Fahri, makan malam saat itu begitu penting baginya.


"Melia, ayo! Kita turun. Aku janji, akan menjadi lebih baik lagi. Tidak ada perceraian di antara kita," bujuk Fahri.


Membuat Melia yang mulanya ragu, berani menggerakkan tangannya dan menggapai uluran tangan suaminya.


"Aku mencintaimu. Aku tidak akan mendiamkan apa yang saja hal buruk yang dilakukan Erlan kepadamu. Aku janji, tapi tolong beri aku kesempatan. Ya ... percaya padaku."


Siapa sangka jika tiba-tiba Fahri mengikis jarak. Napasnya terasa menghangat saat menerpa wajah Melia. Membuat rona di wajah cantiknya yang sempat hilang kembali terlihat.


Dan, ya. Kedua bibir mereka kembali bersentuhan. Membuat Melia terhenyak dan sesak. Tak lama kemudian, Fahri melepaskannya. Lalu ia memperhatikan bagaimana ekspresi wajah istrinya.


Diperhatikan seperti itu, membuat Melia yang manja memalingkan wajahnya.


"Ayo, kita turun sekarang!" ajak Fahri sambil tersenyum simpul.


Keduanya terlihat akur. Berjalan beriringan dan saling menggenggam tangan. Beberapa pasang mata yang menyaksikan di meja makan, bahkan Erlan tampak terkejut melihat keduanya.


"Kalian sedekat ini?"


"Kenapa kamu terkejut, Erlan? Bukankah Melia adalah istriku. Di mana anehnya?"


"Tapi apa? Kau bahkan sudah membongkar rahasia kamu sendiri saat mabuk siang tadi. Mama dan Papa bahkan mendengarnya juga, kalau katamu kau belum menyentuh istriku," ungkap Fahri.


"Kau pikir itu cukup membuktikan nilai istrimuda?" tanya Erlan seolah meragukan.


"Dengar, terimakasih sudah memberiku ide gila membuktikan. Aku bahkan lupa jika belum menyentuhnya, dan gara-gara ucapamu ... aku jadi tahu jika aku adalah pria pertama yang menyentuhnya."


Suasana di meja makan sangat tegang malam itu. Bahkan, Melia saja hanya bisa bersembunyi di punggung suaminya.


Fahri begitu marah, ia bahkan berteriak hebat, hingga seisi villa mendengarnya.


Sebelumnya, belum pernah pria ini semarah dan memaki seperti ini. Mungkin saja ia sudah lelah dengan sikap buruk yang mulai muncul dari Erlan.


Ia bahkan tidak menduga. Seorang kutu buku, dengan kacamata tebal, yang nyaris tak memiliki teman dan minimq pergaulan bisa berubah begitu saja dalam waktu singkat.


Sesungguhnya, Fahri menyimpan rasa penasaran yang begitu besar pada Erlan. "Siapa yang membuatnya berubah secepat ini? Siapa yang menjadikan Erlan pion menghancurkan keluargaku?"


Dan Fahri berniat ingin menyelidiki segala sesuatu yang menyangkut perubahan Erlan.


"Melia, ayo duduk. Kita makan bersama," ajak bu Widia dengan sangat ramah.

__ADS_1


Melia hanya mengangguk ragu, sementara itu, Fahri menatapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala seolah memberikan isyarat kepadanya.


"Erlan, akui jika kamu sengaja menyebarkan fitnah terhadap istriku! Atau aku tidak akan segan melaporkan kamu ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik!"


Kedua tangan Erlan terlihat mengepal, bahkan wajahnya kini terlihat kaku seolah menahan marah.


"Berani sekali kau menyentuh kekasihku! Melia milikku, Bang Fahri!" hardik Erlan yang kesal dengan pengakuan Fahri.


"Sepertinya jiwaku terguncang. Maaf, aku tidak bisa makan malam bersama kalian. Kenyamanan istriku, lebih penting bagiku!" seru Fahri, kemudian membawa pergi istrinya dari villa itu.


"Fahri, berhenti! Setidaknya hargai aku sebagai orang tuamu!" teriak pak Bimo.


Sepertinya ia tak terima dengan kepergian putranya.


"Semua gara-gara Papa, beri tahu aku, di mana ibu kandung Erlan, baru aku akan menganggapmu sebagai ayah!"


Fahri tak kalah berteriak. Membuat yang berada di meja makan tercengang mendengarnya. Bahkan bu Widia sekalipun tidak pernah berpikir, bagaimana seandainya wanita ****** yang menjadi selingkuhan suaminya masih hidup.


Pak Bimo terhenyak, pria berusia paruh itu pun bahkan terjatuh sambil memegangi sebelah dadanya sembari memasang ekspresi meringis, seolah memberikan kesan menahan sakit.


"Fahri, apa tujuan kamu mengatakan itu?" tanya pria paruh baya itu menahan sesa di dadanya.


Fahri tersenyum getir. "Bagaimana jika meskipun sudah berjalan bertahun-tahun lamanya, Papa masih berselingkuh dengan ibunya Erlan?"


Mendengarnya saja bu Widia bak mendengar suara petir. Hatinya yang terasa rapuh sejak dulu hancur sudah.


Bulir bening di pelupuk matanya bahkan tak mampu ia bendung. Membayangkan saja, jika pak Bimo tetap menemui wanita lain secara diam-diam begitu menyakitkan.


Terlebih, selama ini Bu Widia sendiri yang membesarkan anak suaminya dari selingkuhnanya.


"Fahri, apa ini kebenarannya?" tanya bu Widia dengan suara lemah.


"Tanyakan saja sendiri pada Erlan, seorang anak yang kau besarkan penuh cinta kasih, melebihi anakmu sendiri. Lalu menghianati."


"Jangan berbalik menjatuhkanku! Bilang saja kamu iri padaku, Bang! Karena Papa lebih memilihku dan menjadikan aku CEO perusahaan."


"Maka buktikan kau lebih unggul dariku," sahut Fahri dingin.


"Tentu, aku bahkan sedang proses penandatanganan kontrak dengan seorang desainer interior terkenal! Lihat saja nanti," ujar Erlan menyombongkan diri.


Fahri hanya membalasnya dengan senyum getir, lalu pergi bersama Melia.

__ADS_1


__ADS_2