
Melia terus berontak, akan tetapi tangan kekar suaminya jauh lebih kuat mengungkung tubuh mungilnya, sehingga ia semakin lemas saat tenaganya terkuras.
"Pak, apaa-apaan sih! Kita hanya menikah pura-pura, itu jika Pak Fahri lupa!"
Melia memperjelas kesepakatan yang sempat mereka buat sebelum menikah.
Membuat Fahri yang kesal langsung melepaskan pelukannya, lalu pergi begitu saja meninggalkan istrinya.
Melia hanya menatap sambil berurai air mata hingga akhirnya memutuskan untuk menghampiri Fahri.
Langkah kakinya mulai melambat saat ia sampai di dekat dapur. Bak sedang melampiaskan semua kekesalannya, Fahri langsung memotong sayuran, dan juga daging dengan kuat dan cepat.
"Pak, maafkan saya. Tapi ...."
"Tapi apa? Tapi kamu berusaha menghianati pernikahan kita? Begitu? Sekarang apa mau kamu, Melia?" Fahri langsung menatap tajam ke arah istrinya saat bertanya.
"Kita cerai!"
Mendengar ucapan Melia dirinya bagai disambar petir.
"Siapa laki-laki itu, Melia? Bisa kau bawa kemari? Perkenalkan dia padaku, biar aku tahu apa yang membuatnya unggul dariku!" desis Fahri yang sedang murka.
"Ini bukan tentang siapa yang lebih unggul. Saya hanya butuh waktu menyelesaikan urusan saya yang belum selesai, Pak. Tapi kenapa rasanya, Pak Fahri tidak sedikitpun memberikan waktu dan kesempatan untuk saya," sahut Melia menerangkan.
"Oke, Melia. Jika itu yang kamu mau. Aku akan menunggu dan mempermudah jalanmu," sahut Fahri muram.
"Dan lagi. Ini 'kan rumah saya, tapi kenapa sejak menjadi istri Bapak saya berasa dipenjara? Seharusnya Pak Fahri tahu diri dong, 'kan yang numpang itu Bapak!" teriak Melia.
Fahri menghela napas berat. Ingin rasanya ia menumpahkan segala kekesalannya, jika saja ponselnya tidak berdering.
Suasana yang tegangpun seketika berubah hening.
"Halo, ya ... Bu Laras, kami baik-baik saja. Oh ... ibu ingin melihat kondisi Melia, oh tidak, dia tidak merepotkan saya. Oke beralih ke video call saja ya Bu. Biar bisa lihat Melia lagi apa sekarang." Fahri langsung berganti mode video call dan mengarahkan kamera ke arah istrinya.
__ADS_1
Melia langsung reflek mengusap airmatanya berulang kali. Membuat bu Laras keningnya berkerut karena cemas.
"Melia, kamu baik-baik saja? Jangan merepotkan nak Fahri, ya. Jangan bikin ibu dan ayah kecewa. Ayah sakit lagi. Kalau ada waktu, usahakan kalian pulang menengok," ujar bu Laras sambil terus menatap putrinya.
"Ummm, enggak kok Bu. Ini, aku 'kan gak biasa ngupas bawang. Jadi istrinya Mas Fahri ternyata gak mudah. Dia ajari akh masak tiap hari," keluh Melia sambil mencoba memasang bahagia.
Seketika Fahri mendekat, dan ikut memajang wajah di depan kamera. Seolah keduanya sedang bahagia, Fahri merangkul istrinya dengan hangat.
"Jadi istri ya memang harus begitu, Melia. Beruntung suamimu sabar dan pintar masak," sahut bu Laras menimpali.
"Eh, Nak Fahri. Maafkan Ibu, ya. Saya jadi gak enak. Anak saya pasti merepotkan," ujar bu Laras kepada Fahri.
"Oh itu, tidak apa-apa Bu. Sampaikan salam kepada Pak Haris, kami akan secepatnya pulang!"Fahri berseru sembil mengeratkan pelukannya.
Melia yang sebenarnya tak nyaman pun, akhirnya terpaksa memasang raut pura-pura bahagia.
Tak lama berselang. Mereka akhirnya mengakhiri sambungan video call yang batu saja berlangsung.
Melia da Fahri saling menatap.
"Terimakasih, tidak membuka sikap buruk saya pada orangtua saya, Pak," ujar Melia menurunkan pandangannya.
"Ya, saya harap kamu bersabar. Jika memang pernikahan kita tidak bisa dipertahankan lagi. Ya saya bisa apa? Mau dibawa ke mana pernikahan ini jika isinya hanya cek-cok setiap hari," keluh Fahri.
"Lantas maunya Pak Fahri apa?" Melia bertanya dengan wajah kesal.
"Jangan temui laki-laki lain di rumah ini, atau ketika saya berada di rumah. Saya gak tahu kamu menjalin kedekatan dengan siapa, soalnya saya hanya melihat punggung si lelaki yang kamu temui Di luar sana tadi! Jika kamu keras kepala, maaf jika aku harus berterus terang tentang hubungan kita yang sebenarnya pada pak Haris," ungkap Fahri yang masih kesal dengan sikap istrinya.
Ya. Melia memang sebelum ini tumbuh sebagai anak manja. Biasanya, ia memang kerap menghabiskan waktu bersenang-senang dengan Erlan di rumah ini. Pantas saja Erlan terus datang mengganggu.
Mendengar ancaman yang dilontarkan oleh Fahri bibir Melia mengerucut. Seolah mengisyaratkan kekesalan dari wajahnya.
"Oke, Pak. Tapi janji, setelah hubungan saya dan pacar saya membaik, saya mau Bapak pergi dari kehidupan saya. Oke deh saya salah, sudah bilang Bapak numpang. Lagian saya ogah tinggal sama banyak orang-orang yang kerja sama Bapak. Nanti saya bisa ketahuan dong jadi istrinya Bapak. Dih, situ 'kan dah om-om," ejek Melia, membuat Fahri memutar matanya jengah.
__ADS_1
"Terserah." Fahri langsung melenggang pergi begitu saja.
Semenjak hari itu, Fahri tidak mengajak Melia berbicara. Kecuali jika mereka sedang dalam urusan pekerjaan di kantor.
Tentu saja, semua itu semakin membuat hidup Melia semakin sulit. Ditambah lagi ia belum bisa memasak, membuatnya harus pandai mencuri waktu makan di luar.
Keesokan harinya, di waktu jam makan siang, Melia pergi mendahului seluruh pekerja di kantor itu. Tentu saja ia tidak mau jika Fahri menghalangi niatnya untuk bersantap siang di restoran seberang jalan kantornya.
Dengan langkah tergesa-gesa, Melia berlari menyeberangi jalanan ramai. Dan akhirnya, ia bernapas lega saat sampai di tempat yang dikehendaki.
Matanya mengedar ke sekeliling tempat. Seolah ingin memilih meja dan tempat duduk ternyaman. Mungkin, ini adalah hari pertama ia merasakan kebebasan usai menikah.
Hingga membuatnya lupa diri dan memesan banyak makanan. Entah berapa lama ia menunggu makanan yang ia pesan, dan akhirnya sederet makanan pun terhidang di meja.
Tanpa menunggu lagi, Melia langsung melahap beberapa makanan yang terhidang di hadapannya. Siapa sangka jika tiba-tiba Erlan sudah duduk di hadapannya.
"Erlan, kau hampir saja membuatku mati tersedak!" teriak Melia yang kesal.
Pemuda itu tersenyum. "Katamu, gak tinggal bareng sama mas Fahri. Kalau begitu, nanti aku mau datang lagi ya ke rumah kamu!"
Mata Melia seketika membulat sempurna. "Jangan, pokoknya jangan ketemu dulu sebelum aku dan mas Fahri cerai. Lagi pula aku belum memaafkan kamu, Erlan. Pernikahan ini terjadi karena kamu!"
"Ya, andai saja aku datang ke orangtua kamu waktu itu. Semua memang tidak sesulit ini," terang Erlan.
Kemudian, Melia mengalihkan pandangan ke arah jalanan yang ramai di jam makan siang. Betapa terkejutnya ia, saat melihat Fahri sedang mengamati jalan hendak menyerang bersama Windy dan juga karyawan lainnya.
"Astaga, bos galak datang. Bukannya ia gak pernah makan bareng karyawan?" Melia menatap bingung.
"Ngomongin siapa sih?" tanya Erlan yang seketika membuyarkan lamunan Melia.
Perempuan itu langsung gelagapan ketika tersadar Erlan masih duduk santai di hadapannya.
"Erlan, pergi dari sini sekarang juga!" usir Melia.
__ADS_1
Namun sayangnya pemuda itu mengabaikan ocehan Melia.