Cinta Tabu

Cinta Tabu
Bab 35. Benci Kamu


__ADS_3

Fahri bergegas keluar dari mobil sembari menggandeng tangan Melia. Dengan langkah tergesa-gesa ia akhirnya sampai di ruang tengah villa—tempat keluarnya berkumpul jika membahas masalah penting.


Hari itu pak Bimo baru saja keluar dari rumah sakit. Ya. Fahri memang sengaja tidak menjenguknya. Bukan karena membenci sang ayah, melainkan ingin menunjukkan protesnya karena sudah semena-mena mempermalukan dirinya serta mengambil resiko besar dengan menyerahkan perusahaan kepada Erlan.


"Fahri, dari mana saja kamu! Kenapa tidak menjengukku di rumah sakit! Aku ini papa kandung kamu!" hardik pak Bimo dengan mata bulat yang terlihat seolah nyari keluar.


"Menjenguk teman sakit," sahut Fahri dingin.


Pak Bimo menatap tajam ke arah Melia. Begitu jelas, tidak ada basa-basi ia mengungkapkan bahwa ia benar-benar tidak suka pada menantunya itu.


"Jadi, temanmu itu lebih penting dariku? Begitu?"


Pak Bimo tersenyum remeh sambil melirik Melia.


"Ya ... begini kalau anak sudah terlanjur menikah dengan dengan wanita yang tidak tahu adab!"


"Cukup, Pa!" teriak Fahri.


Bersamaan dengan suara teriakan Fahri yang terdengar memenuhinya ruangan, di saat itu pula Erlan memasuki rumah sambil dipapah oleh sopir keluarga dan juga seorang perempuan, yang diyakini Melia sebagai sekretaris baru Erlan.


"Erlan, kamu kenapa, Nak?"


Bu Widia langsung menghampiri Erlan dan membantunya untuk duduk di sofa, meskipun pemuda itu terlihat berkurang kesadarannya.


Bu Widia adalah ibu kandung Fahri, meskipun begitu ia tidak pernah membedakan antara Erlan dan Fahri. Ia bahkan menganggapnya sama. Walaupun ketika suaminya pulang membawa Erlan kecil untuk pertama kalinya itu sangat menyakitkan hati baginya.


Ya. Itulah kelemahan Bu Widia, begitu lembut dan baik kepada siapapun hingga ia dimanfaatkan oleh suaminya yang tak setia.


"Ma, sudah cukup memperhatikan anak haram yang manja ini, aku jadi salut deh sama papa, dia begitu hebat membawa pulang anak yang dia dapat dari wanita lain ke dalam keluarga inti, tapi lihat kelakuannya sekarang!"


Fahri sengaja mencegah ibunya memberikan perhatian kepada Erlan. Sudah lelah. Mungkin.


"Fahri, kamu jangan munafik! Kita tidak jauh beda!"


"Diam, Pa! Jangan samakan aku denganmu. Kita berbeda," kilah Fahri tak terima.


"Kau pun tidak pandai mencari istri."

__ADS_1


"Bagus, Pa! Diri sendiri yang melakukan kesalahan, sekarang justru mengambing hitamkan orang lain. Setidaknya Melia wanita baik-baik, dia bahkan tidak pernah pacaran dengan Erlan di masa lalu, hanya sekedar teman. Papa perlu catat itu!" desis Fahri kesal.


Ruangan semakin riuh. Membuat Melia hanya bisa diam menundukkan kepala, meski sesekali tatapan matanya tertuju pada Erlan yang seolah terkapar di sofa King size di ruangan itu.


"Hey, kamu lupa! Jika dia wanita baik-baik tidak akan membiarkan pria lain, terlebih dia adalah adikmu sendiri untuk masuk ke dalam kamarnya saat kamu tidak sedang di rumah."


Pak Bimo semakin menaikkan nada bicaranya, meskipun pada faktanya, ia berbicara dengan napas yang tersengal-sengal.


"Oke, karena kebetulan seluruh keluarga sedang berkumpul di rumah, Pak Min ... tolong putarkan rekaman video CCTV kantor sekarang!" perintah Fahri.


Pak Min yang merupakan manajer sekaligus orang kepercayaan Fahri yang kebetulan ikut serta datang ke villa itu atas permintaan Fahri langsung bergegas melakukan yang Fahri inginkan.


"CCTV?"


Erlan langsung menegakkan posisi duduknya. Mendengar Fahri mengucapkan "CCTV" ia langsung tersentak.


"Ya, rekaman CCTV kantor. Untuk menegaskan, jika yang kamu lakukan adalah unsur kesengajaan. Sangat keji, tega sekali kamu membuat mabuk perempuan yang bahkan tidak pernah meneguk alkohol setetespun! Perempuan yang kau akui sebagai wanita yang paling kamu inginkan, kamu kasihi!"


Fahri meluapkan segala emosinya. Bahkan pak Bimo sekalipun langsung membisu mendengar suara anak sulungnya yang meledak-ledak hingga gemetaran.


"Itu karena dia lebih memilih kamu, Bang!"


Fahri tidak segan membela dirinya dan juga sang istri.


"Memangnya tidak aneh, setelah dekat denganku lalu menikahi kakakku?"


Erlan terus berkilah atas kesalahan yang dia buat. Ketika itu, Melia masih diam mendengarkan, meskipun sejatinya hatinya ingin meronta. Tapi, ia berusaha menahannya.


Dituduh tidak memiliki adab, begitu menyakitkan baginya. Bahkan, mendengarnya saja matanya sampai bersembunyi.


"Bang, sudahlah! Relakan Melia denganku, sejak kecil bukankah aku selalu mengalah? Kau selalu mendapatkan apapun yang kau inginkan. Keluarga lengkap, Mama, Papa. Disayang, materi berlimpah, teman yang banyak, perempuan cantik, tapi aku ... biarkan Melia menjadi milikku. Cetaikan dia, setidaknya kali ini aku memintamu mengalah demi aku, adikmu yang anak haram ini!"


Gila. Erlan bahkan sengaja berlutut di hadapan Fahri, agar sang kakak mewujudkan keinginannya.


Fahri menelan ludah. Tak lama kemudian video mulai diputar. Seisi ruangan bungkam. Bahkan, Fahri membiarkan Erlan tetap berlutut di hadapannya.


Seisi ruangan terlihat hanyut melihat video yang dirasa memalukan bagi keluarga pak Bimo. Ya. Bagaimana tidak? Anak Laki-laki yang ia percaya mampu mengambil alih segalanya dari sang kakak ternyata justru mencuranginya.

__ADS_1


Semua hanya geleng-geleng kepala menyaksikan ulah Erlan di video itu. Tak ingin banyak bicara, Fahri segera menarik lengan Melia agar mengikuti langkahnya.


"Pa, masih bisa berpikir 'kan? Meski baru saja keluar dari rumah sakit? Sekarang silahkan nilai sendiri siapa yang layak dan tidak, siapa yang mencurangi ... atau dicurangi, dan Siapa wanita yang sebenarnya baik. Ibu kandung Erlan yang tak tahu malu karena telah melahirkan anak seperti dia, atau istriku yang sengaja dijebak!"


Pak Bimo hanya bisa diam dengan kedua tangannya dalam kondisi terkepal.


"Pa, lakukan apapun. Aku tidak akan kembali ke perusahaan. Dan jika nanti kakek bertanya, ada apa dengan perusahaan yang ia besarkan, mengapa bisa hancur ... jelaskan, itu ulah siapa!"


Tampaknya Fahri benar-benar kesal hari itu. Memang. Sejak dulu ia adalah pria yang bertanggung jawab. Masih segar diingatannya, jika perusahaan keluarga yang sempat ia pimpin merupakan milik sang kakek.


Mungkin, karena merasa memiliki anak laki-laki dan dirinya sudah cukup tua, hingga perusahaan beralih ke tangan pak Bimo, yang kemudian ia percayakan kepada Fahri sebagai generasi selanjutnya.


"Tentu aku akan bertindak tegas setelah ini," sahut pak Bimo pada akhirnya.


"Ambil saja perusahaan sekarang, yang penting lepaskan Melia. Boleh saja video itu menjelaskan tipu dayaku. Ya. Aku mengakui itu salahku, tapi bagaimanapun ... Melia sudah kukotori, aku bahkan tahu jika kamu belum sempat mencampurinya," pinta Erlan terdengar tak sopan.


"Aku membencimu, Erlan," rutuk Melia dengan mata berkaca-kaca.


Namun Erlan tidak peduli. "Kau harus memikirkan nama baik keluarga, Bang!"


Fahri tersenyum getir. Tak lama kemudian ponselnya berdering ia meminta Melia tetap berdiri di pijakannya untuk menunggunya yang sedang mengangkat telepon sejenak.


"Tunggu di sini sebentar, aku janji ini tidak akan lama. Aku ada untukmu, jadi jangan cemas," ujar Fahri sambil menepuk bahu istrinya, kemudian ia menyempatkan mendaratkan kecupan di kening Melia dsn berlalu.


Hanya dalam hitungan menit, Fahri telah kembali. Mungkin saja ia sedang mencemaskan istrinya yang ia tinggalkan sendirian di ruangan yang tidak menghendaki keberadaannya.


"Pa, ada kabar dari beberapa investor di masa aku menjabat. Mereka menarik investasi mereka jika bukan aku pemegang kekuasaan tertinggi," ungkap Fahri mengagetkan ayahnya.


"Apa?"


"Kabar, sikap buruk yang ditunjukkan Erlan membuat mereka berubah pikiran, hilang percaya. Mungkin," cetus Fahri menegaskan.


Matanya menatap tajam ke arah adiknya yang terlihat kesal kepadanya. Fahri menyunggingkan senyuman kemenangan ke arah Erlan.


"Maka kembalilah ke perusahaan keluarga, demi ayahmu. Demi kakekmu," pinta pak Bimo memelas.


"Tidak semudah itu, Erlan yang membuat kekacauan ini 'kan! Maka perintahkan dia menyelesaikannya," pungkas Fahri.

__ADS_1


Ia berlalu begitu saja meninggalkan seisi ruangan yang masih tegang raut wajahnya sambil menggandeng Melia.


"Ayo masuk, waktunya kita beristirahat!" perintah Fahri, membuat Melia menurut mengikuti langkahnya.


__ADS_2