Cinta Tabu

Cinta Tabu
Bab 5. Mengapa Harus Pak Fahri?


__ADS_3

šŸ VOTE


šŸ LIKE


šŸ RATE


Kejadian pilu ini terjadi sebelum pernikahan dimulai.


***


Melia berlari ke salah satu koridor sepi rumah sakit. Ia menumpahkan segala resah dan juga kegundahannya di sana.


Suaranya memang terdengar lirih, tapi tangisnya tak kunjung reda. Bahkan gadis itu hingga sesenggukan sambil bersandar di salah satu sisi tembok.


Tak ada orang lain, kecuali Erlan di dalam benaknya. Entah sejak kapan, tapi memang hanya nama itulah yang melintang di hatinya.


Tak mau menunggu, ia ingin menyelesaikan permasalahan yang saat ini dianggapnya rumit.


Sejenak setelah emosinya yang semula membuncah mulai reda. Melia merogoh kantong saku celananya untuk sekedar mengambil ponsel miliknya.


Dengan cepat, jemari lentiknya segera menari menekan nomor yang menghubungkannya dengan Erlan.


Entah berapa detik lamanya, panggilan telepon yang ia lakukan belum juga tersambung. Membuatnya semakin tegang akibat takut dinikahkan secara paksa dengan calon suami pilihan sang ayah.


Gadis itu bahkan menghentakkan kakinya berulang kali sambil sedikit menjerit gelas menahan kekesalannya.


"Halo," sapa seseorang yang suaranya terdengar familiar setelah beberapa saat Melia menunggu.


Mendengar suara Erlan saja sudah mampu membuat senyum Melia yang menghilang akhirnya mengembang juga.


"Halo, Erlan. Maaf aku menghubungi mendadak. Ini masalah serius," ungkap Melia dengan nada yang terdengar antusias dan menggebu.


"Melia, maaf ya. Aku sebentar lagi ada meeting. Aku dapat project besar. Bayangkan, aku dipercaya memegang project ini loh sama Om ku, ini benar-benar di luar dugaan," terang Erlan mencoba menceritakan situasinya di kejauhan sana.


Terang saja senyuman yang sempat melengkung indah di bibir Melia akhirnya perlahan memudar. Ada rasa kecewa di hatinya. Setelah menyadari ia benar-benar kehilangan Erlan sejak pemuda itu pergi.


Erlan bukan lagi pendengar yang baik, yang mau mendengar keluh kesahnya dan juga tempatnya berbagi. Di kesempatan yang sama, bulir bening pun seketika lolos begitu saja membasahi pipinya.


"Lan, ayahku sakit. Aku mau dipaksa menikahi orang lain. Aku minta kamu datang dan temui ayah sekarang. Erlan, tolong ... ini demi kita, Lan. Dengarkan aku untuk kali ini saja." Melia menangis sesenggukan sambil berbicara.

__ADS_1


Seketika berubah hening. Erlan yang semula terdengar riang menceritakan berita yang dianggapnya membahagiakan pun tak lagi terdengar menggebu.


"Melia, maaf. Tapi kamu tahu itu tidak mungkin. Ini mimpiku sejak lama," sahut Erlan setelah beberapa saat kemudian.


"Lan, aku gak minta banyak waktu kamu, aku hanya minta kamu luangkan sehari ... saja! Hanya sehari, Lan."


"Maafkan aku, Melia. Meetingnya sudah dimulai. Aku harus bersiap. Selamat sore," pungkas Erlan mengakhiri panggilan telepon yang sedang berlangsung.


Isakan tangis Melia kini mulai terdengar meski lirih. Entah mengapa, hatinya benar-benar sakit bahkan merasa terkhianati.


Harapannya pupus sudah. Tak ada lagi yang bisa membuatnya tersenyum. Tiba-tiba saja hadir di benaknya seluruh kebersamaan dengan Erlan sejak mereka masih kecil.


"Aku gak mau pria lain, Lan," lirihnya sambil memeluk dirinya sendiri dalam tangis.


Namun, dari arah berlainan. Seorang wanita paruh baya bernama Larasati Paramitha berjalan ke arahnya. Ia adalah ibu Melia. Perempuan kampung sederhana, penyayang dan penuh pengertian.


Dengan sabar, ia mengelus punggung putrinya yang sedang menangis seorang diri. Lalu, Melia pun menenggelamkan kepala ke dalam pelukan ibunya.


Ia tumpahkan segala kesedihan dan juga kekecewaannya. Tak terkecuali rasa kesal atas keputusan sang ayah yang dianggapnya egois.


"Bu, ini 'kan bukan zaman Siti Nurbaya, aku tahu kita tinggal di desa. Tapi bukan berarti kita harus menganut pemahaman lama. Pemikiran ayah itu egois, Bu! Aku juga berhak memilih," keluh Melia sambil mendongak menatap ibunya penuh harap.


Bu Laras menggeleng pelan. "Tidak, kamu salah. Ayahmu, hanya mencemaskan kamu, Nduk. Coba sekali saja kamu ikuti kemauannya. Sudah tahu 'kan kondisinya seperti apa? Jangan sampai menyesal."


Entah apa yang setelahnya bu Laras ungkapkan kepada Melia. Hingga akhirnya, ia mau juga dibujuk untuk menemui pria yang akan dijodohkan dengannya.


Kemudian, dengan langkah ragu. Melia akhirnya berjalan menuju ruangan rawat inap ayahnya.


*****


Kini Melia telah sampai di ruangan ayahnya. Kepalanya tertunduk dengan mata yang masih sembab, ia membisu.


"Melia, duduk! Bicaralah dengan ayah dari hati ke hati," bujuk bu Laras.


Melia hanya diam, tapi sebelah tangannya langsung menggeser pintu lalu duduk.


Pak Haris tersenyum getir di hadapan Melia dengan tatapan sendu.


"Bagaimana? Lelaki yang kamu banggakan tidak bisa menepati janjinya? Tidak semua laki-laki di dunia ini baik, Melia. Cobalah percaya pada orang tua. Semua orang tua itu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya." Pak Haris mengelus puncak kepala putrinya ketika berbicara.

__ADS_1


"Melia, jangan cemas. Jika setelah kamu bertemu dengannya nanti kamu masih tidak nyaman. Ayah janji tidak akan memaksa," ujar sang ayah. Seolah ingin menenangkan putrinya.


"Besok kamu akan di antar sopir ke sebuah villa. Setelah bertemu dengannya, ajak dia mengobrol. Anggap saja itu kesempatan saling mengenal satu sama lainnya. Nanti, baru kalian berdua temui ayah di sini. Jangan sampai kamu menyesal," ungkap sang ayah setengah memaksa.


Senyum tipis di bibirnya sempat terlihat menghias. Seolah mengisyaratkan penuh harap kepada sang putri.


"Iya Ayah, Melia berusaha," sahut Melia pada akhirnya.


*****


Keesokan harinya. Melia berdandan ala kadarnya. Tentu saja ia berharap si pemuda menolak setelah melihat dirinya berpenampilan yang sama sekali tidak mengisyaratkan gadis modern.


Celana panjang, jeans berwarna biru sengaja ia padu padankan dengan kaus polkadot hitam berwarna dasar putih berlengan pendek.


Setelahnya, ia hanya mengikat rambutnya dengan kuncir ekor kuda yang lalu ia akhirnya dengan mematut diri di depan cermin.


Helaan napas panjang ia lakukan, setelah akhirnya memantapkan diri diantar oleh sang sopir.


Entah berapa lama mereka di perjalanan yang jaraknya tak seberapa jauh dari rumah keluarga Melia. Hingga akhirnya sampai juga di tempat tujuan.


Sebuah villa megah bernuansa tropis, dengan banyak kaca tebal sejauh mata memandang sebagai tembok rumah yang memberikan kesan modern yang megah.


Langkah kaki Melia berlangsung pelan saat menyadari ada seorang pemuda yang sedang berdiri menunggunya dengan possisi membelakangi.


Kening melia berkerut. Seolah menyadari, jika ia mengenali pemuda itu.


Dan. Ya. Pemuda itu memutar tubuhnya bak bergerak slow motion saking pelannya. Siapa sangka sikapnya justru membuat Melia gugup, terkejut sekaligus mematung menatapnya.


"Bapak!" teriaknya, membuat kedua matanya membulat sempurna seketika.


"Kenapa?" tanya Fahri yang benar-benar membuat Melia terkejut.


Secepat kilat. Melihat segera membalikkan tubuhnya dan hendak pergi meninggalkan tempat. Tapi naasnya, gerakannya kalah cepat dengan tangan Fahri yang telah mencengkeram kuat lengannya. Hingga membuat pergerakannya tertahan.


"Melia, dengar dulu penjelasan saya. Kamu pikir saja juga senang dengan keputusan sulit ini yang terpaksa saya ambil!" desis Fahri.


Tak ada yang berubah. Fahri masih pribadi membosankan yang sama. Seorang pria sombong yang arogan.


Keduanya saling pandang dengan sorot mata yang sama-sama tajamnya.

__ADS_1


__ADS_2