
Erlan POV
Namaku Erlan. Aku terlahir dari keluarga yang berkecukupan. Keluarga yang mungkin menjadi idaman orang kebanyakan.
Namun tidak denganku, aku membenci terlahir di keluarga ini. Sejak kecil, aku sudah harus menghadapi persaingan dengan kakakku sendiri.
Namanya Fahri. Seorang pria bertubuh kekar, jangkung, menawan, memiliki banyak teman, cerdas, tapi dia jarang bicara dengan siapapun. Tepatnya, dia lebih suka irit kata. Mungkin saja dia sedang ingin menciptakan karakter unik seperti yang biasa kubaca di novel-novel kesukaan pembaca wanita.
Ya. Karakter dingin, tapi taman memang idaman. Tapi justru itu yang menjadi pemilu diriku selalu ducela.
Pernah di suatu kesempatan, ketika kami bersekolah di sekolah yang sama, aku menjadi bahan buly karena kakakku.
"Dih, jadi dia adiknya Fahri? Kok mukanya gak sama? Kacamata yang dia pakai tebal banget cuy!"
"Iya, katanya dia saudara beda ibu gitu," sahut salah seorang yang merundungku.
Sementara aku, hanya bisa duduk meringkuk dan memeluk lututku di lantai ruang kelas yang dikerumuni kakak kelasku.
"Oh, lain ibu, pantas ya beda jauh. Tunggu, Mamanya Fahri dan Papanya 'kan tidak cerai? Eh, kamu anak haram ya!"
Seorang perempuan bertubuh gembul menunjuk ke arahku. Seolah sengaja ingin menciptakan suasana yang semula hening menjadi gaduh.
"Huuuuuh!"
Mereka kompak berseru dalam perundungan yang kualami.
"Bubar, Bubar! Apa yang kalian tonton?"
__ADS_1
Dari nada suaranya, aku bisa mengenali jika dia adalah Abangku, Fahri. Pemuda idaman di manapun tempat kami bersekolah.
Tangan yang terlihat kuat sejak kami kecil itu langsung menggapaiku di keramaian. Ia menarikku sembari meraih tas sekolahku yang teronggok di lantai.
"Ikut aku sekarang!" perintahnya.
Ya. Sejak kecil aku tunduk padanya. Bagiku Fahri itu keren. Tak jarang aku penasaran mencari tahu tentang, bagaimana ia bisa disukai banyak orang.
Dan setelah aksinya yang menyelamatkan aku dari buly yang dilakukan beberapa temanku, aku mengidolakan Fahri. Bahkan sejak saat itu, aku banyak meniru gayanya, sikapnya, cara bicaranya, makanan kesukaan. Nyaris semua yang dia suka kulakukan.
Tepat di halaman depan sekolah, langkah Fahri terhenti. Dari lirikan sudut matanya aku bisa tahu jika ia sedang marah atau kesal kepadaku.
Aku menelan ludah. Menahan rasa takut karena sadar ia pasti akan marah.
Dan benar saja, ia mendesakku di sudut tembok halaman kelas yang sedikit sepi. Tatapannya mengguratkan dendam.
Aku tersentak mendengarnya, sejak hari itu aku semakin paham. Betapapun aku ingin, sejujurnya adaku sama sekali tidak diinginkan.
Bukankah aku tidak bisa menentukan di keluarga mana aku akan dilahirkan? Jika ibuku adalah wanita penghibur, pelakor, atau sejenisnya, apakah aku memilihnya?
Aku juga berhak bahagia bukan? Aku berhak memiliki kehidupan layak seperti yang kakakku dapat selama ini. Dan jujur saja, hatiku rasanya remuk redam di hari itu.
Banyak pertanyaan aneh muncul di benakku. Tentang, mengapa aku tidak pernah bertemu ibu kandungku? Mengapa dia memilih menyerahkan aku pada Pak Bimo ketimbang mengurusku sendiri? Mengapa beberapa orang kerap menyebutku anak haram?
Jujur saja, pikiranku terbuka lebar sejak hari itu. Aku berpikir jika keberadaanku mungkin karena kesalahan seseorang. Ya, dia adalah ibuku, yang tega sekali menggoda Pak Bimo yang masih berstatus suami orang.
Bukankah tak seharusnya ia lakukan semua itu? Hingga membuat aku dibenci banyak orang seperti itu.
__ADS_1
Ada hal lain yang kubenci selain ibu kandungku. Hujan. Ya, hujan deras membuatku teringat dengan setiap detik luka hati yang kualami.
Seperti di hari aku dirundung. Fahri yang begitu marah meninggalkan aku.
"Hari ini kamu sangat membuatku kesal, pulang sendiri. Jangan ikuti aku! Awas jika mengadu!" desisnya sambil menunjuk ke area wajahku.
Tentu saja siapapun tidak akan suka diperlakukan seperti itu. Aku diam saja. Kutatap punggung kakakku yang kian jauh dan menghilang dari pandanganku usai menghempaskan tas sekolah milikku ke tubuhku.
Lalu, aku pun memeluk tas milikku sambil memberanikan diri untuk melangkah. Air dari langit yang semula menggericik akhirnya semakin deras mengguyur seluruh tubuhku.
Tapi, akubterus berjalan. Kilatan petir membuatku ketakutan, hingga akhirnya aku bertemu seseorang yang berbaik hati menaungi tubuhku dengan payung hitam di genggamannya.
Perempuan manis pertama yang menjadi temanku. Dia adalah Melia Anastasya. Wanita cantik berkulit putih, dengan lesung pipi di sebelah kiri saat ia tersenyum. Entah sejak kapan, diam-diam aku menyukainya.
Dia gadis manja, sekaligus pendengar yang baik. Tapi itu dulu, sebelum kakakku pun memenangkan hatinya.
Aku mencintainya, dan rasa itu mungkin tidak akan pernah berakhir. Pernah kutipu sendiri perasaanku, dengan mengatakan jika aku sudah bisa tanpanya.
Namun, faktanya aku tak bisa. Justru semua menghancurkan segalanya dan membuat kepalaku memikirkan ide gila.
Ide yang mungkin menjadikan namanya tercemar di keluargaku. Tapi siapa sangka jika semua membuat kakakku semakin mencintainya.
Entah janji apa yang dirinya buat dengan mendiang Ayah Melia. Hingga mampu membuatnya menikah dan menghancurkan seluruh hidupku.
Namun, ini bukanlah akhir segalanya 'kan? Aku masih bersemangat mengejar cintanya, cinta seorang teman yang kini telah menjadi kakak iparku dengan cara tak sengaja.
Sebab, aku kehilangan tempatku bercerita sejak hari aku memutuskan merebut posisi kakakku.
__ADS_1
Dan Paman Roy harus bertanggung jawab untuk itu.