
Pak Bimo marah besar. Berbagai hal terasa meletup di kepala. Entah itu visual, teriakan, bunyi denting benda terjatuh, dentuman benda yang saling beradu. Riuh.
"Erlan, kebawa kamu ke sini agar kamu dapat hidup lebih baik. Karena meski bagaimanapun kamu utu adalah darah dagingku. Jangan membuatku malu pada Fahri, mana janjimu? Katamu kau akan bekerja sama dengan desainer interior ternama dari belahan dunia?"
Pak Bimo membanting setoples kerupuk, hingga kaca isinya berserakan di lantai.
"Pa, sudah. Semua ini 'kan Papa sendiri yang mulai," sergah bu Widia membela anak tirinya.
"Kamu jangan ikut campur! Beruntung aku tidak menceraikan kamu!" hardiknya murka.
Padahal, bu Widia sudah berlapang dada menerima Erlan yang merupakan anak pak Bimo dengan selingkuhnanya.
"Baik, aku tidak akan ikut campur mulai hari ini. Sudah cukup aku bersabar selama ini, jangan salahkan aku jika kuajukan surat perceraian setelah ini!" ancam bu Widia mencoba memberanikan diri.
Tak biasanya wanita paruh baya ini berani protes. Mungkin ia sudah lelah, selama ini batin dan fisiknya disiksa oleh suaminya sendiri.
Bu Widia bahkan tidak menangis. Ia hanya menatap Erlan sejenak lalu pergi begitu saja. Sementara Erlan, ia yang terbiasa dengan kasih sayang bu Widia berhambur menyusulnya.
"Pa, tahan Mama, Pa! Aku harus jelasin apa sama bang Fahri nantinya!" teriak Erlan terdengar memohon sembari berlari mengejar bu Widia.
Pak Bimo hanya diam dan menjatuhkan dirinya. Mungkin saja ia mulai lelah dengan kondisi keluarganya yang sebenarnya sudah hancur sejak dirinya berani berselingkuh, bahkan hingga memiliki anak dengan wanita lainnya.
Entah berapa menit lamanya, tapi yang jelas Erlan kembali lagi ke meja makan. Tempat di mana pak Bimo berada.
Langkah Erlan terlihat lunglai. Kepalanya tertunduk, seolah mengisyaratkan jika ia gagal mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Pa, tolong bujuk mama kembali. Aku sudah terbiasa dengannya, bukan ibu kandungku. Aku memerlukan mama Widia," keluh Erlan dengan raut setengah memohon.
"Kamu fokus dengan perusahaan saja, sudah hampir bangkrut gara-gara kuserahkan padamu. Bagaimana aku bisa mempertanggung jawabkan semua ini kepada kakekmu nanti? Aku butuh bukti, Erlan!"
"Pa, mama Widia sudah mau pergi! Bisa tidak mencegahnya dulu, baru memikirkan hal lain?"
__ADS_1
Keduanya saling terlibat adu mulut.
"Diam! Persetan dengan Widia! Pernikahanku sudah hancur sejak ibumu datang di hidupku!" teriak pak Bimo.
Erlan mendelik. Biasanya ia tidak akan sedih, apa lagi marah meski mendapat hinaan atau hujatan dari siapapun. Tapi kali ini rasanya berbeda. Begitu pedih Hingga rasanya menikam jantung.
"Akan kutemui Damian hari ini juga untukmu, Pa! Aku sudah muak dengan semua ini!"
Erlan pun pergi meninggalkan villa, sementara Bimo semakin mengamuk dan membanting apapun yang tertinggal di atas meja makan.
*****
Siang ini, Erlan mengatur janji temu dengan seorang desainer interior ternama. Ya. Dia adalah Damian Lucas. Pemuda tampan yang memiliki kulit kemerahan, bermata biru dan berambut coklat blonde.
Di sebuah kafe, Erlan terlihat gugup. Bahkan entah berapa kali ia melirik jam di pergelangan tangannya. Sesekali memasang raut cemas, hingga keningnya pun terkadang berkerut.
"Sudah lama?" Suara serak khas, tiba-tiba saja membuat Erlan terhenyak hingga membalikkan badannya.
Damian hanya menghela napas berat. Seketika kening Erlan berkerut.
'Mengapa rasanya, aku seperti bertemu dan bernegosiasi dengan Fahri dengan versi yang berbeda? Rasanya ... kepribadian mereka begitu mirip. Dingin, irit bicara, tak suka tersenyum apa lagi berbasa-basi,' batin Erlan sembari menatap Damian.
"Umm ... waktuku tidak banyak, karena setelah ini aku juga memiliki janji dengan orang lain. Bisa kulihat proposalnya? Seperti apa konsep bangunan yang kamu mau? Dan interior apa saja yang kamu sarankan dan layak bersaing? Setelah semua saya baca, baru saja akan memutuskan, mana yang tepat dan yang tidak," ujar Damian panjang lebar menjelaskan bagaimana seharusnya kesepakatan dengannya dibuat.
"Pro-proposal apa? Kupikir, semua Anda yang tentukan?"
Erlan bahkan berbicara dengan terbata menghadapi Damian.
"Wah, saya tidak menduga jika saya akan menjalin kerja sama dengan seorang pemula di bisnis ini. Bagaimana bisa bekerja sama, jika Anda sendiri saja tidak paham tentang project apa yang akan dibuat?"
Sungguh. Mendengar protes dari Damian, Erlan benar-benar merasa dibuat malu setengah mati.
__ADS_1
"Bukankah sebelumnya Anda sendiri yang bilang, asalkan saya bisa mengimpor semua interior ternama dari belahan dunia, kita bekerja sama," kilah Erlan yang tak mau disalahkan begitu saja.
Damian tersenyum getir.
"Namanya pengusaha, tentu saja semua yang berkaitan dengan bahan usaha dipersiapkan. Itu tidak aneh, yang aneh adalah ... Anda tidak paham barang apa saja yang harus dibeli!"
Erlan tertegun mendengar penjelasan Damian.
"Jangan bilang Anda tidak paham. Lalu kenapa berkecimpung Di bisnis ini? Contoh, misalnya Anda ingin membuat Mansion bergaya tropis, tentu perlu banyak kaca sebagai pengganti dinding, selain itu harus ditentukan pula permadani apa yang cocok untuk membuat mansion tersebut terlihat berbeda dari yang perusahaan lain tawarkan. Artinya, harus memiliki ciri khas untuk menarik pembeli, bukan begitu?"
"Saya pikir, terima jadi," sahut Erlan.
Sungguh jawabannya membuat Damian merasa dipermainkan hingga geleng-geleng kepala.
"Begini saja, maaf. Cari saja penyedia jasa desain interior lainnya. Saya tidak mungkin bekerja sama dengan orang yang seperti Anda. Dengan berat hati, kontrak saya batalkan."
Damian langsung bangkit dari tempat duduknya, sembari menyembunyikan senyumnya.
"Tunggu, tolong jangan lakukan ini padaku. Aku sudah terlanjur memesan banyak barang yang nominalnya tidak sedikit. Sudah ratusan juta untuk membeli, lampu, permadani dan barang lainnya," sergah Erlan dengan raut mengiba.
Damian menghentikan langkahnya sejenak. Masih sempat pria itu memperhatikan bagaimana raut wajah Erlan saat itu. Tapi bukan Damian namanya jika mudah kasihan pada orang lain.
"Permisi, jangan menghalangi jalan. Aku ada janji temu dengan klien lainnya," pungkas Damian, menghancurkan mimpi Erlan.
Padahal, Erlan bermimpi bisa mengalahkan Fahri dari segala sisi. Ia sudah kalah dalam urusan asmara. Bagaimana bisa ia juga harus kalah dalam urusan bisnis?
Padahal, Erlan juga paham. Jika kakak dari ibu kandungnya lah yang selama ini memiliki peranan penting membujuk pak Bimo agar memberikan kedudukan Erlan saat ini.
"Sial, aku tidak mau gagal. Sesegera mungkin, om Roy harus tahu tentang semua ini? Duh ... aku sudah terlanjur membeli banyak barang impor. Tidak mungkin aku memakai jasa interior lainnya. Bagaimana jika klien mendadak mengurungkan kerja sama karena kecewa? Mereka mau investasi sebab kujanjikan Damian Lucas desainer interiornya."
Erlan terus merutuk kebodohannya. Ia yang frustasi bahkan mengacak-acak hingga menjambak rambutnya sendiri.
__ADS_1
"Melia, aku butuh kamu untuk cerita. Aku tidak sanggup menanggungnya sendiri," keluh Erlan dengan suara lirih yang meracau sendiri.