Cinta Tabu

Cinta Tabu
Bab 28. Hukuman Pembangkang


__ADS_3

Rangga sedang terburu-buru meninggalkan warung pinggir jalan. Ia sangat paham benar seperti apa Fahri. Jika kali ini ia tidak bisa lolos darinya, maka ia akan mendapatkan masalah besar dalam hidupnya.


Nyaris saja tangannya berhasil menggapai pintu mobil miliknya, naasnya Fahri kembali berhasil menjamah ujung kemeja yang ia kenakan dari belakang.


"Rangga, tunggu!" serunya.


Membuat langkah kaki Rangga menjadi tercekat. Bukan lagi tubuhnya sekedar gemetar, akan tetapi keringat pun mulai bercucuran membasahi dahinya.


"I-iya, Pak Fahri," sahutnya terdengar gugup.


Membuat Fahri semakin yakin jika pemuda tersebut mengetahui sesuatu yang tak beres.


"Hey, kenapa gugup?" tanya Fahri sambil mendekatkan diri dengan tatapan tajam.


"Aku hanya tidak ingin terlibat dalam pertengkaran kakak beradik," sahutnya sambil memalingkan wajahnya.


"Aku tahu pasti, kalian sering bersama. Aku bahkan pernah melihat beberapa kebersamaan kalian beberapa waktu terakhir, Rangga. Kuperingatkan! Jika kamu terlibat, aku tidak akan bisa memberi kesempatan kaku untuk hidup lebih baik dari saat ini. Kusarankan, jangan sembunyikan apapun," ujar Fahri memperingati Rangga.


"Tidak, saya tidak berani. Hanya saja, Erlan pernah mengatakan jika ia tidak suka ketika kalian menikah. Aku hanya takut jika ini konspirasi Erlan. Sungguh. Saya tidak tahu menahu. Melia juga teman baik saya, Pak," sahut Rangga yang terlihat ketakutan.


"Pergilah!" perintah Fahri.


Entah apa yang membutuhkan menghentikan Rangga padahal sebelumnya ia sempat mempercayai ucapan pemuda itu.


Usai berbincang dengan Rangga, tak ingin menghabiskan waktu, ia langsung teringat dengan kebiasaan Melia yang suka menghabiskan waktu menikmati alam. Ya. Perempuan berparas cantik itu biasanya pasti menghabiskan waktu untuk berkemah sendirian jika sedang banyak masalah.


Segera, Fahri merogoh ponsel di saku celananya lalu mencari tempat berkemah terdekat serta pusat perbelanjaan di area perkemahan dengan bantuan GPS.


Tak butuh waktu lama, ia akhirnya menemukan tempat perkemahan yang lumayan besar di dekat pinggiran kota. Senyumnya mengembang.


*****

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Fahri kini sampai di minimarket yang letaknya dekat dengan area perkemahan. Ia menyempatkan waktu untuk berbelanja pembekalan makanan sebelum menemui istrinya.


Setelah urusan kebutuhan selesai disiapkan, termasuk tenda berukuran besar, mobilnya langsung menuju tempat perkemahan.


Fahri bahkan sengaja menyewa tempat berkemah yang letaknya bersebelahan dengan tenda dan didirikan oleh Melia. Baginya tak cukup sulit menemukan gadis itu berdasarkan kegemarannya di masa lalu.


Berbekal meminta bantuan pemandu tempat berkemah, akhirnya Fahri berhasil menemukan keberadaan Melia. Meski ragu, ia berusaha memulai mendekati istrinya yang memang sengaja menjauh dari orang-orang sekitar yang dikenalnya.


Fahri, sengaja berpura-pura tidak tahu dan mendirikan tenda tepat di sebelah tenda istrinya. Kala itu, hari sudah mulai sore. Melia tampak sibuk memasak di luar tenda.


"Kau di sini?" tanya Melia yang terkejut ketika Fahri menautkan tendanya dengan tenda Melia.


Tak ada senyum sedikitpun yang tampak di guratan wajah tampan itu ketika berhadapan dengan istrinya.


"Ya, aku mencarimu. Tidak baik membiarkanmu berkeliaran sendirian dalam kabar yang beredar," ucap Fahri dengan tatapan masih tertuju pada tenda yang berusaha ia dirikan.


Melia langsung mendekatinya. Siapa sangka jika gadis itu langsung menenggelamkan diri dalam pelukan suaminya sambil terisak-isak.


Sorot mata Fahri begitu teduh, ia tertunduk menatap lekat sepasang bola mata indah berwarna coklat Di hadapannya.


Jemarinya seketika mendarat sempurna di bibir mungil nan ranum Melia. "Sssst ... sudah, jangan bicara lagi. Aku percaya padamu. Apapun yang terjadi, aku tidak akan menceraikan kamu. Tapi aku ingin mengajukan syarat untuk itu."


Jantung Melia berdebar hebat, ia sangat takut jika kabar ini akhirnya sampai di telinga ibunya yang kini sudah berstatus sebagai janda akibat ayahnya yang telah meninggal dunia.


"Aku setuju, apapun syaratnya. Tidak apa-apa jika kamu jijik kepadaku dan tidak ingin tidur dalam satu ranjang. Anggap saja pernikahan kita sebatas status. Aku akan mengerti. Lagi pula, aku terbiasa tidur di sofa."


Kedua insan yang kini sedang bersedih itu saling bertukar pandang.


"Aku ingin kamu menjadi aktris untuk sementara waktu. Kau ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi padamu malam itu 'kan?" tanya Fahri berusaha meyakinkan.


Melia mengangguk, seolah ekspresi wajahnya mengisyaratkan rasa penasaran. Mungkinkah ia benar-benar melakukan kesalahan besar dalam hidupnya dalam kondisi mabuk berat?

__ADS_1


"Besok, setelah kemah ini berakhir, siapkan dirimu untuk ikut denganku masuk ke dalam keluarga Bimo. Mainkan peranmu, jangan rapuh! Bersandiwaralah seolah kamu adalah wanita yang tak tahu malu, bisa?"


Kening Melia berkerut mendengar ide gila yang tiba-tiba terlontar dari bibir suaminya.


"Apa ini artinya, kau berniat membuatku malu di tengah-tengah keluargamu, Fahri? Tidak, aku tidak mau jika itu rencananya!"


Melia berbicara dengan nada tinggi seolah ia benar-benar sedang marah dengan keputusan yang telah Fahri buat.


"Mel, lakukan saja yang kuperintah. Aku akan selalu membelamu, percayalah. Aku membutuhkanmu, ini untuk ibuku. Dia menderita selama ini, aku ingin kedua matanya terbuka, jika Bimo adalah penghianat handal," jelas Fahri berusaha meyakinkan.


Ia bingung dengan penjelasan Fahri. Takut, ya tentu saja ia takut jika suaminya hanyalah menjadikannya sebagai alat balas dendam Fahri terhadap ayahnya dan Erlan—anak di luar nikah pak Bimo.


Ya. Melia memang pernah mendengar dari Erlan di masa lalu, jika keberadaannya tidak pernah diinginkan oleh kakak tirinya. Tapi semua itu jauh sebelum Melia tahu jika Fahri adalah kakak tiri yang Erlan maksud.


Meski ragu, pada akhirnya Melia setuju. Terlebih Fahri memanfaatkan keadaan dengan ancaman akan mengadukan pada bu Laras jika Melia telah berselingkuh dengan Erlan ketika ia sedang berada jauh dari rumah.


"Fahri, boleh aku bertanya sesuatu?"


Melia terlihat ragu-ragu ketika bertanya.


"Katakan," sahut Fahri yang kini selalu memberikan kesan tak acuh setelah kejadian memalukan karena Erlan.


"Apakah kau membenciku setelah semua ini?"


"Seperti apa kejadiannya belum jelas, Melia. Aku belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seperti janjiku pada pak Haris, aku tetap akan di sampingmu. Selebihnya, sebaiknya jangan terlalu berharap banyak," sahut Fahri.


Sungguh, mendengarnya begitu menyedihkan bagi Melia. Tapi, bukan Melia namanya jika mendiamkan rasa penasaran yang ia rasakan.


"Fahri, bagaimana kamu dan pak Bimo tiba-tiba berada di kamar kita? Aku saja bahkan tidak sadarkan diri. Siapa yang mengabarimu tentang kejadian memalukan itu?" tanya Melia.


Ya, jujur saja. Baginya semua terasa aneh. Bagaimana bisa ia yang mabuk berat karena dipaksa minum, tiba-tiba dalam kondisi nyaris tanpa busana dan tidur bersama Erlan.

__ADS_1


Anehnya, Pak Bimo dan Fahri langsung datang dan memergoki keduanya dalam kondisi itu.


__ADS_2