Cinta Tabu

Cinta Tabu
Bab 31. Rencana Damian


__ADS_3

Damian Lucas, masih terus memandangi Melia. Sikapnya membuat gadis itu semakin bingung serta tak nyaman. Terlebih ketika suaminya semakin kesal dan mendiamkanna.


"Kau tahu alasanku kembali, aku ingin cepat melupakan kesedihanku," ungkap Damian sambil terus memandangi Melia, meski ia berbicara pada Fahri.


"Tidak, Melia tidak memiliki saudara. Kita fokus ke tujuan saja. Berhenti membahas istriku!" desis Fahri sambil menghentakkan cangkir di genggamannya.


"Ya, jadi begini. Beberapa waktu belakangan terakhir. Erlan menghubungiku. Dia juga mengabarkan, jika perusahaan keluarga kamu telah dia ambil alih atas izin pak Bimo—ayah kamu," cetus Damian.


"Aku sudah tahu," sahut Fahri merengut.


Damian menghela napas. "Dia memintaku untuk menjadi desain interior properti di proyek baru perusahaan."


Fahri terhenyak, bahkan melotot mendengar pengakuan Damian. Sejujurnya, ia sangat bingung mengapa ayahnya tiba-tiba menyingkirkan dia sementara ia tidak melakukan kesalahan yang merugikan perusahaan sedikitpun.


"Kamu menerima tawaran itu?" Fahri bertanya sambil menatap serius.


"Ya, bukankah ini bagus untukmu. Seharusnya kau senang," ejek Damian sembari menyeruput secangkir kopi di genggamannya.


Damian adalah seorang desainer interior terkenal di penjuru dunia. Tidak tanggung-tanggung, bahan serba mewah dari penjuru dunia yang selalu ia ditangkan langsung sebagai pelengkap adalah ciri khasnya.


"Ya, jika kamu berada dipihakku," sahut Fahri masih dengan ekspresi datar yang kerap ia tampakkan.


"Kau meragukan aku?" tanya Damian sambil menyipitkan matanya.


"Tidak sama sekali, jadi apa rencananya?" Fahri berbalik bertanya.


Saat itu, Melia hanya diam dan mendengarkan. Seolah ia adalah patung pelengkap dalam perbincangan bisnis yang tidak ia pahami.


"Aku akan masuk. Meminta Erlan mendatangkan interior asli dari berbagai belahan dunia dengan harga fantastis. Dan aku akan menandatangani kontrak setelah kupastikan barangnya asli," cetus Damian dengan senyum penuh kemenangan di wajahnya.


Membuat Fahri sedikit tersenyum geli. Ia paham benar bagaimana Damian, terlebih perihal kerjasama bisnis.


Pemuda berambut coklat gelap itu tak akan dengan mudahnya menyanggupi bisnis begitu saja. Terlebih dengan orang yang tidak ia sukai. Alih-alih menyetujui, bisa jadi dengan sengaja Damian menciptakan kerugian besar.


"Licik," dengkus Fahri.

__ADS_1


"Adikmu itu terlalu polos, tapi naif. Aku juga sudah mendengar segala pemberitaan tentang istrimu. Beritanya begitu cepat menyebar, akan lebih baik jika cepat diselesaikan," terang Damian.


Dari tatapan matanya kepada Melia, seolah ia tidak suka dengan perlakuan Erlan yang semena-mena mempermalukan Melia begitu saja.


Fahri menghilang napas panjang. Kemudian, ia hanya melirik sekilas kepada istrinya.


"Ya. Aku sedang mencari cara dan berusaha. Tentu aku akan selesaikan, aku sedang meminta Rangga mencari tahu." Fahri langsung meraih Melia dan memeluknya di depan Damian.


Di hadapan pemuda itu, ia tidak sedikitpun menunjukkan kekesalannya kepada Melia. Meski sebenarnya ketika ia sedang berdua saja dengan istrinya kerap mengatakan jika ia tak mau tidur bersama sementara waktu.


Menyebalkan memang. Membuat Melia nekat menarik telapak tangannya secara paksa dari genggaman suaminya.


Tentu saja Fahri sangat kesal dengan sikap yang ditunjukkan oleh Melia di hari itu.


"Apa yang kamu inginkan? Hukuman dariku?" tanya Fahri berbisik di telinga Melia begitu dekat.


Melia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Sedangkan Damian, ia memperhatikan keduanya. Terasa janggal baginya. Tergambar jelas jika hubungan keduanya tercipta karena keterpaksaan saja.


"Jangan terlalu lama berpikir, Fahri. Aku sendiri yang akan menerobos masuk dan memeriksa rekaman CCTV di kantormu! Sebab jika terlalu lama membuang waktu, bisa jadi Erlan melenyapkan segala buktinya. Aku tidak suka ada skandal. Terlebih itu melibatkan Melia," ungkap Damian.


"Biar aku dan Rangga saja yang pergi menyelinap seorang juga!" seru Fahri.


"Tidak, ini tidak aman. Jika aku yang datang, tidak akan ada yang curiga. Apalagi mereka tahu jika aku sudah mulai mondar-mandir di perusahaan mereka untuk membahas kerja sama. Mungkin ini di luar dugaanmu, Fahri. Ketahuilah, Erlan bahkan memberikan aku ruang kerja eksklusif di sana. Ini memudahkan aku untuk bergerak leluasa," sergah Damian.


Fahri dan Melia terdiam.


"Sekarang kalian lekas makan, dan lekas pulang. Tunggu kabar dariku. Kuselesaikan masalah ini satu persatu!" perintah Damian.


Fahri tersenyum lega.


"Semoga kau lekas menikah, dan menemukan wanita yang kamu inginkan," ujar Fahri sambil menepuk bahu Damian.


Damian tersenyum lemah sambil menatap sendu ke arah Melia. 'Apakah kamu orang yang sama? Apakah kamu dia? Mengapa kau membuat jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya?'


"Damian, aku permisi ke toilet sebentar. Tolong jagakan dia untukku!" pamit Fahri yang kemudian meninggalkan tempat duduknya.

__ADS_1


Kini hanya tinggal Damian dan Melia berdua saja. Mereka duduk berhadapan, meski Melia lebih sering menundukkan kepala dan mengalihkan pandangan, tapi tidak dengan Damian.


Pemuda itu tidak melepaskan tatapan matanya sedikitpun dari Melia.


Hingga beberapa saat setelahnya, Melia menyadarinya.


"Ada apa?" tanya Melia.


"Suaramu, wajahmu, rasanya tidak asing bagiku. Seperti kita sudah lama kenal dekat," ungkap Damian yang tak mampu berbohong.


"Mungkin wajahku pasaran. Oh, aku tahu. Mungkin kau pernah menonton di saluran youtube milikku," sahut Melia yang tanpa rasa takut memberi informasi tentang dirinya begitu saja.


Perbincangan itu, membuat mereka yang semula kaku kini menjadi mencairkan suasana.


"Saluran youtube? Oh, kau bisa kabari aku apa namanya? Wah keren, kau mampu membuatku penasaran, Melia. Selain cantik kau juga berprestasi rupanya," rayu Damian.


"Cari saja tentang gadis petualang. Aku membuat channel perkemahan. Kau akan melihatku di berbagai kesempatan dan keadaan. Tapi aku bisa bertahan."


Keduanya tampak semakin akrab. Sejenak Damian Lucas mengedarkan pandangan mencari-cari keberadaan Fahri yang tak kunjung kembali.


Entah apa yang terbesit di benaknya, tiba-tiba saja ia meminta bertukar nomor ponsel dengan Melia.


Dan. Siapa sangka jika gadis itu setuju begitu saja tanpa pikir panjang.


Ketika mereka terlihat mulai bisa membaur, di saat yang sama Fahri kembali. Ia melihat senyuman indah mulai melengkung di wajah istrinya. Tentu saja semua itu membuatnya tidak suka.


"Melia, cepat selesaikan makannya, Sayang. Ada banyak hal yang perlu kita bahas berdua setelah ini," bujuk Fahri yang tiba-tiba mengagetkan keduanya.


Melia terhenyak sambil menengadah saat tahu suaminya telah berada dalam jarak yang begitu dekat dengannya.


"Oh, aku sudah selesai makan."


Ekspresi Melia mendadak berubah mendung.


'Kau sukses menjadi aktor senior, Fahri. Bahkan di depan umum pun kau berpura-pura tetap menerimaku, walaupun ini bukan kesalahanku, kau munafik. Mengatakan tidak ingin jauh dariku, tapi perilakumu menunjukkan bahwa kamu jijik. Katamu, kita akan bisa saling menerima jika aku belum tersentuh. Tapi jika kenyataannya berbeda, kau hanya menginginkan aku menjalankan sebuah peran.' Batin Melia seakan meronta ketika menyadari sikap suaminya yang gak lagi sejalan.

__ADS_1


Ia merasa Fahri berubah. Ke mana Fahri yang dulu tegas, cerdas, menjaganya, bahkan mulai perlahan mencintainya. Lalu, mengapa hanya dengan hasutan Erlan semua berubah dalam sekejap?


__ADS_2