Cinta Tabu

Cinta Tabu
Bab 13. Pertanyaan Mendebarkan


__ADS_3

Fahri tampak sibuk berkemas beberapa sketsa yang akan ia bawa ke proyek. Di waktu bersamaan, Melia mengetuk pintu sebelum akhirnya masuk.


"Ada apa?" tanya Fahri, masih seperti biasanya, hambar, kaku, dingin.


"Mas, saya menolak untuk ikut mengecek kondisi bangunan," ucap Melia hati-hati.


Fahri yang semula tatapannya tertuju pada beberapa lembar kertas seketika mengalihkan pandangan ke arah istrinya.


Ia yang semula tak acuh seketika mendadak gelagapan.


Dengan cepat, Fahri menutup map yang dipegangnya lalu melangkah menghampiri istrinya. Masih dengan sorot mata tajam ciri khasnya ketika geram.


"Kamu masih ingin bekerja di sini 'kan? Mau pak Haris kecewa telah memiliki anak seperti kamu! Dan ya, sekali lagi saya ingatkan. Di rumah, saya memang suami kamu. Bukankah kamu sendiri yang membuat aturan? Lupa! Jangan panggil saya mas. Panggil Bapak!" hardik Fahri.


Entah mengapa perilakunya berubah kembali kasar usai mengetahui adiknya yang menjadi investor barunya.


Mungkin saja ia bersikap begitu karena Erlan tahu tentang pernikahan kakaknya dan Melia, atau bahkan mungkin saja ia tidak mau dianggap kurang profesional. Sehingga sang adik memiliki alasan mencemoohnya.


Fahri mengusap wajahnya kasar, sesaat ia sempat menghela napas berat.


"Ya, Pak. Maaf saya besar kepala. Terimakasih tegurannya. Dengan begini saya jadi paham apa posisi saya dan siapa saya bagi Bapak. Permisi!"


Melia menangis tanpa suara. Ia usap sisa bulir bening yang membasahi pipinya. Kemudian memilih berlalu meninggalkan ruangan Fahri. Bahkan, Melia sampai lupa berpamitan.


Mungkin saja amarah sedang menguasai dirinya.


Sepuluh menit lebih berlalu. Fahri keluar ruangan. Ia mengedarkan pandangan ke deretan cubicle. Fokusnya tertuju pada cubicle milik istrinya.


Ia tidak lagi melihat Melia terlihat sedih. Gadis itu memilih menyibukkan diri, sama seperti para karyawan lainnya. Entah itu caranya menghindari Fahri, entahlah. Tak ada seorangpun yang tahu.


"Mohon perhatian sejenak!" teriak Fahri sambil menyatukan kedua telapak tangannya hingga menimbulkan suara tepukan berulang kali.


Semua pasang mata di ruangan itu kini menatapnya.


"Bagi kalian yang tadi terlibat di meeting, harap bersiap menuju lokasi! Untuk Melia, temani saya! San yang lain kembali bekerja!" perintah Fahri.

__ADS_1


"Siap, Pak!" seru mereka yang ada di ruangan itu serentak.


Melia menatap nyalang. Kemudian ia memilih melangkah menuju tempat parkir mendahului Fahri.


Bahkan tanpa diminta, gadis yang masih menyimpan rasa kesalnya itu telah duduk bersandar di sebelah kursi kemudi.


"Melia, siapa yang suruh kamu duduk di sana!" bentak Fahri.


Membuat kedua alis Melia yang menggunung saling bertautan.


"Maksud Bapak apa?" tanya Melia mendengus kesal.


"Pindah, kamu bisa mengemudi 'kan? Saya capek, abis nyetir jauh dari desa kemarin!" desisnya.


Ingin rasanya Melia bersikap kurang ajar seandainya saja ia tidak berada di lingkungan kantor. Tapi untungnya ia menahan kekesalannya.


Meski akhirnya ia mengalah dan mengambil alih kursi kemudi. Mulanya mobil melesat dengan kecepatan tinggi. Akan tetapi, beberapa menit setelahnya, entah mengatakan Melia mengurangi kecepatan laju mobilnya.


Ingin santai barangkali.


"Melia, boleh tanya," ucap Fahri memulai obrolan yang semula hanya sunyi.


"Syukur deh kalau kamu tahu. Uummm, sejak kapan kamu berteman dengan Erlan?"


DUG!


Jantung Melia seketika seakan dipaksa terpacu lebih hebat sesaat.


Ia bahkan langsung membanting setir dan berhenti di bahu jalan. Fahri pun menatapnya serius kala itu.


"Kenapa, memangnya salah ya kalau saya kenal Erlan? Dia pemuda pandai kok dari dulu. Terkenal, dikerumuni banyak gadis, smart, nyaris sempurna bahkan," terang Melia dengan raut bangga.


Fahri tersenyum kecut.


"Ngarang kamu, aku ini abangnya. Dia itu kutu buku yang bahkan tidak pernah begaul. Berkacamata tebal, kutu buku, penampilannya lucu dengan poni depannya yang terlihat cupu. Ya ... aku merasa aneh saja, kok bisa sih kalian kenal?" Fahri mencondongkan kepalanya mengamati wajah istrinya dari jarak dekat.

__ADS_1


Siang bergulir dengan keheningan aneh. Entah Melia yang merasa begitu. Entah. Bahkan ia merasakan suhu udara lebih panas dari biasanya. Gerah. Bulir keringat bahkan mulai berjatuhan membasahi dahinya.


Perempuan itu bahkan dengan sengaja mengalihkan pandangan ke arah lain di luar jendela sana. Sesekali bahkan menyempatkan menatap langit yang cerah. Terlihat pula awan berderet yang bergerak saling mengejar. Seolah terjadi sesuatu di langit sana.


Semilir angin yang berembus terasa menampar wajah. Seolah membangunkan gadis itu dalam keheningan kosong. Membuatnya tergemap dengan bibir yang kelu.


"Melia, maaf jika membuatmu bingung. Ayo jalan! Aku tidak mau yang lain menunggu. Mungkin lain kali saja cerita, aku hanya penasaran dengan perkenalan kalian berdua yang menurutku tak wajar," terang Fahri.


Melia masih membeku menatapnya. Seolah bingung ingin menjelaskan apa.


"Melia, kau bisa mendengarku? Turunlah, biar aku yang mengemudi. Sepertinya kamu juga lelah," ucap Fahri, kali ini ia berbicara dengan nada melunak.


Tak lama kemudian, Fahri akhirnya turun. Perlahan ia membuka pintu Di sebelah kemudi, lalu meminta istrinya untuk bergeser duduk di sebelahnya.


"Aku mengenal Erlan sudah bertahun-tahun lamanya. Ya, dia memanglah seperti yang Pak Fahri gambarkan. Tapi dia tak seburuk itu. Dia bukan lelaki cupu. Dia sengaja berpenampilan buruk karena ia ingin membuat penilaian sendiri tentang orang-orang Di sekelilingnya," cetus Melia.


Kedua alis tebal Fahri saling bertautan. Terlihat berusaha keras mencerna kalimat yang telah diucapkan istrinya.


Tergambar jelas ia terkejut sekaligus bingung.


"Sekarang giliran saya. Ini sebagai seorang istri, bukan berdasarkan bawahan. Saya bertanya dengan kapasitas saya sebagai istri." Melia memiringkan posisi duduknya.


"Tanya saja," sahut Fahri.


"Hutang budi seperti apa, yang bikin Bapak nekat menikahi perempuan seperti saya?" Melia menatap tajam tanpa kedip.


Sepertinya, pertanyaan itu memang sudahmengganggu pikirannya selama ini. Rasa penasaran tentang bagaimana perasaan Fahri yang sebenarnya padanya?


Entah sejak kapan, Melia begitu peduli tentang rasa itu. Rasa yang seolah menggebu namun membisu. Netra yang selalu menatapnya penuh arti tanpa bisa bicara. Debaran aneh setiap kali kedua pasang


saling bertemu pandang. Banyak hal yang membuat gadis itu bingung dengan perasaannya usai menikah.


"Aku tidak bisa menjelaskan. Intinya pak Haris adalah orang yang baik. Dia mencintai kamu sepenuh hati. Mungkin, suatu saat ... pak Haris sendiri yang akan cerita. Tapi percayalah, aku akan melakukan yang pak Haris harapkan sebaik mungkin. Jangan cemas." Fahri mengacak-acak rambut Melia dengan sebelah tangannya sambil menambah laju kecepatannya.


Tak lama kemudian, ia melihat mobil Erlan mendahuluinya. Membuat Fahri semakin mengejar ketertinggalan.

__ADS_1


"Untuk apa bersaing dengan Erlan? Kurangi kecepatan, abaikan dia. Kita bisa bahaya!" teriak Melia berusaha memperingati.


Namun, Fahri tetaplah pemuda yang keras kepala, bukannya mengurangi kecepatan ia justru menginjak gas membuat Melia memejamkan matanya sambil berpegangan menahan rasa takutnya.


__ADS_2