Cinta Tabu

Cinta Tabu
Bab 10. Sok Berkuasa


__ADS_3

šŸ RATE


šŸ LIKE


šŸ LOVE


Melia masih tercengang di samping mobil, membuat Fahri yang sedang terburu-buru menjadi gemas.


"Melia, masuk!" perintah Fahri mengulang kalimatnya.


"Saya gak disuruh masuk ke rumah dulu? Yakin, mau langsung pergi? Kita mau ke mana?"


"Masuk, atau aku tinggal?" Fahri memasang wajah serius seperti biasa.


"Oke, oke Pak Bos. Aku masuk, huuuh ... menyebalkan." Melia langsung duduk di sebelah kursi kemudi.


Tak ada yang ia keluhkan selama ini kecuali saat ia menyadari Fahri tidak pernah absen datang ke kantor. Baginya, bertemu Fahri saja sudah cukup membuatnya selalu senam jantung.


Apa lagi, fahr adalah sosok bos yang bukan hanya sekedar dingin. Tapi, ia juga merupakan ancaman terbesar bagi seluruh karyawannya.


Bagaimana tidak, setiap pagi pemuda itu selalu meninjau seberapa jauh project yang sudah dikerjakan oleh anak buahnya. Mengingat seluruh kejadian di kantor saja Melia sudah merasa mual karena stres. Apa lagi harus tinggal satu atap dengan pemuda itu?


Di dalam mobil. Untuk menghindari berinteraksi dengan Fahri, ia memilih diam. Bahkan pandangan matanya hanya tertuju di sepanjang jalanan.


Saat sampai di lampu merah, sesekali gadis itu membuka kaca untuk sekedar memberikan uang kepada pengamen jalanan.


Sialnya, Fahri justru langsung menyodorkan antiseptik yang justru membuat mata Melia membulat sempurna.


"Pakai! Saya gak mau kamu bawa pulang kuman!" perintah Fahri terdengar menjengkelkan di telinga pendengarnya.


Melia memang meraihnya, tapi seketika bibirnya mengerucut ke depan pertanda kesal.


"Bapak, tuh kuman dalam hidup saya! Ganggu mulu!" teriak Melia sambil merengut.


"Kuman, ganggu? Kecanduan, jadi rindu baru tahu rasa kamu," seloroh Fahri.


Kemudian ia menambah kecepatan laju kendaraannya. Sesekali ia berhenti di sebuah restoran pinggir jalan, tak lupa juga ia berhenti untuk sekedar membeli barang kebutuhan sehari-hari.

__ADS_1


Sama seperti sebelumnya, ia memang pria yang membosankan. Alih-alih mengajak Melia turun untuk makan, dan juga berbelanja, Fahri justru meminta istrinya menunggu di dalam mobil.


Kesal. Tentu saja gadis itu kesal disuruh menunggu dalam kondisi perutnya yang masih kerongncongan.


*****


Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih lamanya. Mereka sampai juga di tempat tujuan.


"Turun, kita sampai. Selamat datang di rumah kita," pungkas Fahri.


Mendengar ucapan itu, mata Melia semakin mencelos dari tempatnya. Bagaimana tidak? Bukannya membawa Melia ke rumahnya yang nyaris semuanya tergolong mewah, Fahri justru mengajak gadis itu tinggal ke rumah yang selama ini Melia tinggali.


Ya. Rumah lumayan besar pemberian pak Haris yang selama ini ditinggali oleh Melia seorang diri itulah yang dijadikan tempat tinggal sementara oleh Fahri.


"Pak Fahri, jangan ngaco deh! Ini nih rumah saya, Pak!" teriak Melia sambil mendelik.


"Loh, lupa? Bukannya saat di rumah orangtua kamu sendiri yang merekomendasikan tempat ini untuk kita? Kalau saya sih tadinya mau ajak kamu ke rumah saya yang tadi," cetus Fahri menjelaskan.


"Ya tapi gak secepat ini juga, harusnya tuh Bapak kasi saya waktu. Kalau temen-temen kantor datang ke sini bagaimana? Kalau ...."


"Kalau pacar kamu maksudnya? Ya, bagus! Saya jadi tahu siapa pacar kamu. Keberadaan saya ini untuk menjaga kamu, Melia. Jadi kamu gak perlu lagi alasan ini dan itu. Ayo, bantu saya bawa masuk koper-kopernya!"


Melia yang kesal langsung menghentakkan kakinya berulang kali. Tapi sikapnya tidak lantas mengubah keputusan Fahri.


Sesampainya di depan pintu, Melia memainkan dramanya lagi. Ia berusaha mengulur waktu, seolah-olah mencari kunci pintu yang tak kunjung ketemu di dalam clutch bag miliknya.


CEKLEK!


Pintu pun terbuka tanpa mengeluarkan suara berderit usai kenopnya diputar. Ekspresi wajah Melia semakin tegang dan frustasi dibuatnya.


"Aduh, Pak Fahri kok bisa sih punya pintu rumah saya? Atau Bapak selama ini sering menyelinap dan ngintip saya mandi, ya," tuduh Melia sambil menunjuk ke arah dada bidang pemuda itu.


Fahri tersenyum getir.


"Enggak. Saya dikasi kunci sama ibu mertua tadi pagi. Kamu saja yang gak nanya, kenapa mesti keberatan? Saya 'kan suami kamu. Sah lagi secara hukum dan agama." Fahri langsung memasukkan kopernya satu demi satu.


Huh, Melia semakin frustasi dibuatnya. Bisa-bisa ia terkena tekanan darah tinggi jika harus menghadapi Fahri setiap waktu seperti ini.

__ADS_1


Pemuda itu melenggang, sambil matanya membiak sekitar. Ruangan yang pertama ia cari adalah kamar. Saat itu, ia bahkan tidak peduli jika Melia harus terus menggerutu dan mengekor di belakangnya.


"Hei, hei ... hei. Stop! Ini kamar saya, dilarang masuk! Banyak barang-barang cewek yang tidak boleh dipertontonkan," sergah Melia sambil membentangkan kedua lengannya.


Fahri tersenyum miring yang disertai gelengan kepala.


"Tidak ada batasan ketika seorang laki-laki dan perempuan telah menikah! Saya sudah bilang, kalau saya adalah suami kamu, itu kalau kaku lupa. Jangan panggil bapak terus dong! Kesal saya dengernya. Minggir!" desis Fahri yang langsung menerobos masuk ke dalam kamar.


Melia semakin terdesak. Ia bukan lagi merengut menahan kesal dan kecewa. Tapi, ia juga tidak menyangka jika takdir mengubah hidupnya secepat ini.


Bayangkan saja, kita harus tinggal serumah dengan seorang bos arogan yang selalu merasa benar bahkan meski ia pernah melakukan kesalahan.


Usai meletakkan koper di dalam kamar utama yang merupakan kamar Melia, Fahri berpindah melenggang menuju ruangan lebih dalam. Ya. Kamar mandi.


Melihat Fahri memasuki kamar mandi pribadinya, Melia langsung berlari gesit hingga ia tanpa sengaja terpeleset dan tubuhnya nyaris terpelanting jika saja Fahri terlambat menggapai tubuh mungilnya.


"Melia, apalagi yang jadi masalah?" Fahri berbicara dengan penuh penekanan.


Membuat Melia mengerjapkan mata berulang kali. Sialnya kini tubuhnya berada dalam pelukan suaminya, yang jarak wajah keduanya hanya sepersekian sentimeter saja. Membuat gadis yang sedang tergemap itu membeku seketika.


Ia hanya bisa menatap wajah Fahri tanpa bicara.


"Masih mau di kamar mandi berdua?"


Mendengar pertanyaan yang bagi Melia menyeramkan membuatnya tersadar dan langsung mengibas beberapa bagian lengan dan anggota tubuh lainnya karena tersentuh Fahri meski tak sengaja.


"Idih, pede banget sih Om. Namanya om-om jablay. Gak pernah punya pacar, mangkanya cari perhatian. Saya tuh cuma mau amankan pakaian yang lupa belum saya beresin. Pokoknya, saya gak mau ya, semua barang-barang saya dipakai!"


"Saya beli sendiri kok, siapa bilang pakai punya kamu, enak saja panggil Om. Mana ada om-om seganteng saya. Sok kesal, padahal mukanya berharap lebih," ketus Fahri menjawab.


Membuat Melia memutar manik matanya jengah.


Usai mereka membuat kegaduhan, keduanya kembali ke kamar mereka. Di sana, Melia kembali dibuat kesal karena Fahri langsung menjatuhkan diri ke ranjang king size milik Melia.


"Tuh, ini kamar saya, kenapa tiba-tiba dikuasai sih!" seru Melia semakin jengkel.


"Suami istri tuh harus tinggal sekamar," gerutu Fahri menimpali.

__ADS_1


"Kemarin kesepakatannya gak begini ...."


Melia merengek menahan kesal. Sementara Fahri justru menikmati dengan senyum penuh kemenangan.


__ADS_2