
š Rate
š Like
š Vote
Mungkin semua tak mudah bagi Melia. Banyak hal yang membuatnya bingung. Terutama segala hal dianggapnya di luar nalar dan serba tiba-tiba.
Masih di hari yang sama. Keduanya menghadapi keluarga Melia di rumah sakit. Akan tetapi, Melia kembali dibuat terkejut oleh ayahnya. Begitu mendengar kalimat setuju dari Fahri. Entah mengapa, pak Haris mendadak sehat.
"Bu, bisa minta tolong untuk urus kepulanganku. Aku gak sabar siapkan pernikahan mereka berdua," ujar pak Haris.
Melia hanya bisa pasrah dengan tatapan sendu. Pikirannya masih memikirkan seorang pemuda bernama Erlan kala itu. Sementara Fahri, terlihat tersenyum penuh kemenangan. Entah apa artinya semua itu. Sayangnya Gadis itu tak bisa menolaknya lagi.
"Kita perlu banyak rencana 'kan Ayah? Jadi tidak mungkin pernikahan ini dilaksanakan dalam waktu dekat. Terlebih, Melia punya pekerjaan yang tidak mungkin ditinggalkan," terang Melia berusaha mengulur waktu.
"Kamu belum mengenal Fahri rupanya, Nduk. Tidak ada yang tidak mungkin bagi pengusaha sekelas dia." Pak Haris menatap penuh percaya diri pada putrinya lalu mengalihkan pandangan kepada Fahri.
Membuat Melia semakin penasaran, seberapa berkuasanya Fahri sebenarnya? Mengapa ayahnya sangat menginginkan pernikahan ini terjadi? Dan keuntungan apa yang Fahri dapat, sehingga ia pun tidak menolak pernikahan ini.
Kening Melia pun berkerut, akibat merasa penasaran atas hubungan ayahnya dan Fahri.
"Ya, Pak. Saya yakin seluruh keluarga saya sudah berembuk dan menentukan tanggal. Saya rasa, minggu ini pun, pernikahan sudah bisa dilaksanakan," terang Fahri. Meyakinkan.
Melia terkejut, matanya membelalak lebar menatap Fahri. Ia merasa semua orang di ruangan itu tidak memikirkan bagaimana perasaannya. Pemaksa.
"Ta-tapi, pekerjaan saya, Pak Fahri...."
"Saya bos kamu, Melia. Keputusan ada di tangan saya. Ikuti saja semua, dari pada kamu menyesal nantinya," sahut Fahri setengah mengancam.
Bukannya memihak putrinya, tapi pak Haris justru manggut-manggut sambil tersenyum takjub melihat sikap Fahri yang terlihat tegas kepada putrinya yang selama ini selalu manja.
*****
Setelah perdebatan panjang, akhirnya ayah Melia pulang juga dari rumah sakit. Sementara itu, Fahri pun turut mempersiapkan pernikahannya dengan Melia.
__ADS_1
Ada banyak keanehan yang gadis itu rasakan. Tidak ada rasa tertekan sedikitpun yang Fahri tampakkan setiap kali pemuda itu membahas pernikahan yang sebelumnya sempat ia katakan juga terpaksa menjalaninya pada Melia.
Hari ini, Fahri mengajak Melia mendatangi banyak tempat. Aneh rasanya, biasanya tidak ada hal yang lebih penting baginya kecuali project yang tidak boleh ditunda.
Bahkan pernah, di suatu kesempatan Melia pulang larut malam hanya karena harus merevisi desain rumah yang dianggap kurang sempurna oleh Fahri.
Itu sebabnya, Melia sangat terkejut dengan keseriusan Fahri ketika sibuk mempersiapkan pernikahan yang tiba-tiba ini.
"Melia, kamu tahu enggak. Sebenarnya aku ngantuk berat, tapi demi pernikahan ini cepet selesai, aku maksa antar kamu ke toko perhiasan. Beli cincin pernikahan kita," ujar Fahri sambil mengemudikan mobilnya, sementara matanya tetap memperhatikan jalanan yang ramai.
Melia menghela napas. Ia seolah benar-benar menyerah dengan keadaan ini. Rasanya, semua terjadi dengan cepat.
"Pak, apa tidak sebaiknya kita kembali bekerja?" tanya Melia dengan raut gelisah.
Fahri menatap lekat sejenak. "Kamu mau ayah kamu sakit parah lagi? Akan saya lakukan jika itu mau kamu."
Tiba-tiba saja Fahri menghentikan mobilnya di bahu jalan, membuat Melia terkejut dengan sikapnya yang selalu menangnya sendiri seperti ini.
"Apa ini, Pak?"
"Turun! Saya tinggal telepon pak Haris, lalu mengatakan, anaknya tidak bersedia menikahi saya. Dan lagi, Melia. Saya juga akan berterus terang jika kamu hanya terpaksa dan berpura-pura menerima saya!" ancam Fahri tiba-tiba dengan rahang wajah mengeras.
Kepalanya menggeleng cepat. "Bapak jangan begitu, Pak. Oke, saya menurut. Lakukan yang Pak Fahri mau!"
Melia menangis, membuat Fahri mengubah ekspresi wajahnya yang semula tegang menjadi datar.
Merasa tak enak hati, ia langsung meraih sebelah lengan Melia, lalu menariknya.
"Ayo, turun!" ajaknya lagi, membuat wajah Melia semakin menegang disertai derai tangisnya yang tak kunjung berhenti.
"Saya 'kan sudah bilang oke, saya lakukan apapun yang pak Fahri inginkan. Kenapa masih dipaksa turun sih?"
"Ya karena kita sudah sampai di tempat tujuan," sahut Fahri sambil menunjuk sebuah toko.
Mendengar ucapan Fahri, Melia langsung mengusap air matanya. Lalu ikut turun. Kesal rasanya.
__ADS_1
"Seka air mata kamu yang bener. Saya gak mau jadi pusat perhatian banyak orang." Fahri menyodorkan sapu tangan miliknya.
Masih saja. Dalam kondisi yang seperti itu pemuda sombong itu mengutamakan bagaimana penilaian orang tentangnya.
Melia menurut ketika Fahri menuntunnya menyeberang jalan, hingga memilih cincin untuk mereka berdua.
Nyaris sepanjang waktu yang mereka lalui, Fahri tidak menemukan senyum di wajah Melia sedikitpun. Padahal, yang ia tahu, meski dalam kondisi tertekan saat bekerja sekalipun gadis itu selalu menampakkan keceriaannya.
Usai membeli cincin pernikahan. Fahri langsung mengajak Melia menemui keluarganya yang ternyata sudah menyiapkan gaun pernikahan dan juga memilih undangan untuk mereka.
Fahri menurut saja. Baginya yang terpenting adalah, pernikahan ini cepat terjadi sesuai keinginan pak Haris. Entah apa yang membuatnya tidak ingin mengecewakan pria tua itu.
Hari itu, di rumah keluarga Fahri yang ternyata jaraknya tak begitu jauh dari rumah keluarga Melia, sangatlah ramai oleh kedatangan keluarga terdekat.
Mereka bahkan mengajak Melia bercanda ketika memilih hadiah pernikahan saat gadis itu baru sampai, mereka juga mengajaknya memilih baju pengantin. Membuat Melia kikuk sekaligus bingung.
Di waktu yang sama, mama Fahri mendekat. "Fahri, kau ingin bicara dengan adikmu? Ajak dia pulang!"
"Tidak perlu, Ma. Katakan saja, aku memberikan perintah agar dia pulang," sahut Fahri.
Ia bahkan menunjukkan sikap dingin meski di tengah keluarganya.
Mendengar percakapan Fahri dengan keluarganya saja, Melia bisa menerka jika pemuda itu juga berkuasa dalam keluarganya. Terbukti, jika ibunya pun bahkan tidak berani membantah ucapan Fahri kala itu.
Namun, Melia bisa menangkap. Dengan penolakan Fahri, itu artinya hubungan kakak beradik itu sedang tidak baik-baik saja.
"Oke, Ma. Aku akan pulang jika ini perintah." Suara seorang pemuda, yang masih tersambung dalam panggilan video call dengan ibu Fahri terdengar familiar di telinga Melia.
Tentu saja gadis itu sangat penasaran, dengan siapa ibu Fahri sedang berbicara saat itu. Akan tetapi, menyadari Fahri terus memperhatikannya, membuat gadis itu tak bisa berkutik. Hanya diam duduk dan menunggu.
"Melia, dalam seminggu ini, aku dan kamu tidak akan bekerja. Tidak akan ada seorang pun anak kantor yang diundang dalam pernikahan kita. Kamu jangan bocor, mengerti? Pernikahan akan dilaksanakan tiga hari dari sekarang. Mengenai surat-surat pernikahan kita, sudah berhasil diurus oleh pamanku. Jadi, siapkan dirimu untuk menjadi Nyonya Fahri mulai sekarang!"
"Bapak, ini terlalu cepat. Berikan saya waktu untuk menghubungi pacar saya lagi, Pak," sergah Melia dengan tatapan mengiba.
"Kamu sudah setuju, Melia. Jangan uji emosi saya lagi. Saya tidak mau lagi dengar penolakan dari kamu. Nyawa pak Haris lebih penting bagi saya, ketimbang harus memikirkan bagaimana perasaanmu sekarang ini," kilah Fahri kemudian.
__ADS_1
Lagi, pemuda itu selalu memasang wajah kakunya setiap kali berbicara dengan Melia.
Gadis itu kini hanya bisa pasrah. Tak tahu apa yang terjadi nanti jika Erlan telah pulang dari perantauannya nanti.