Cinta Tabu

Cinta Tabu
Bab 24. Bukan Erlan yang Dulu


__ADS_3

Jantung Melia mulai berdegup kencang ketika menyadari hari ini adalah akhir pekan. Bukan tanpa alasan ia merasakan takut yang luar biasa. Akan tetapi, sejak Erlan terkesan berubah menjadi ambisi dalam hal pekerjaan, pemuda itu juga berubah menjadi obsesi kepadanya.


"Bagaimana? Mau lembur hari ini?" tanya Erlan dengan tatapan menyeramkan yang diiringi seringai menjijikkan.


Melia tak menatapnya. "Tidak, pekerjaanku sudah selesai."


Melia bergegas merapikan meja kerjanya. Seolah ingin cepat-cepat meninggalkan ruangan kerjanya.


"Ayahku memerintahkan mulai senin besok, agar kau jadi asisten pribadiku!"


Melia tidak menjawab. Ia mempercepat pergerakan saat mulai membersihkan meja kerjanya. Menyeramkan sedikit spirtus, lalu mulai menggosoknya dengan kapas, hingga sisa noda pena yang tertinggal hilang seketika.


Namun, siapa sangka jika sikapnya membuat Erlan semakin kesal. Pemuda itu bahkan tidak melepaskan tatapan matanya sedikitpun dari pergerakan Melia.


"Lia, kau tidak dengar! Aku mengajakmu bicara!" pekik Erlan dengan nada meninggi hingga membuat gadis cantik di hadapannya terhenyak seketika.

__ADS_1


"Erlan, tolong jaga jarak di antara kita. Aku adalah istri kakakmu sendiri. Maaf, aku hanya ingin mengingatkanmu, sebab aku merasa kamu mulai lupa batasan," ucap Melia dengan tatapan tanpa kedip, seolah ingin menahan embun di matanya yang nyaris tumpah.


Erlan tersenyum getir. "Aku hanya ingin mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hakku."


Entah mengapa, mendengar ucapan Erlan, Melia seperti merasakan firasat buruk. Seperti takut terjadi hal yang tak diinginkan saat Fahri sedang berada jauh darinya.


Tiba-tiba saja, banyak hal melintas begitu saja di benaknya.


"Sejak dulu, kita hanya teman dekat meski terkadang kamu sering bersikap manja. Memangnya kapan aku pernah menjadi milikmu? Cinta kita tidak pernah ada, Erlan. Dulu itu, hanya kisah seorang gadis yang mengalami cinta bertepuk sebelah tangan." Melia langsung meraih tas miliknya yang semula bertengger di atas meja dan pergi meninggalkan Erlan.


"Jika rasa yang sama tiba-tiba pernah ada, kenapa aku selalu merasakan sakit ketika tahu kamu dekat dengan pria lainnya? Aku hanya tak pandai mengungkapkan rasa, Melia," kilah Erlan tak mau disalahkan.


Nyaris tak ada orang di kantor itu, kecuali petugas kebersihan dan juga seorang sekuriti yang sedang bertugas.


Entah apa yang dipikirkan Erlan hari itu, tapi dari sorot matanya, tergambar jelas jika ia sangat marah.

__ADS_1


*****


Waktu berlalu begitu cepat, Melia merasa lega setelah sampai di halamannya. Terlebih ia baru saja selesai menghubungi suaminya. Ya. Meski hanya sekedar menanyakan tempat tinggal baru suaminya.


Senyuman manis mulai mengembang saat menatap mobil miliknya di garasi. Entah apa yang terlintas di pikiran perempuan berwajah manis itu.


Dengan langkah lebar, seolah tak sabar ingin memasuki rumah, Melia langsung membuka pintu rumahnya.


Setelah kenop berhasil diputar, pintu pun dengan mudahnya ia dorong dan terbuka. Akan tetapi, betapa terkejutnya ia saat akan menutup pintu rumahnya dan menemukan keberadaan Erlan yang sudah duduk santai entah sejak kapan.


"Erlan, kenapa kamu seenaknya masuk ke dalam rumah orang? Dari mana kamu dapatkan kunci rumah ini?" Melia mulai gusar, dengan napas yang mulai memburu, ia menatap tajam ke arah Erlan.


Pemuda itu, bukannya menjawab tapi ia justru beranjak dari tempat duduknya. Tentu saja Melia merasa terancam, kemudian berlari keluar.


Namun, ketika menoleh ke arah belakang, ia semakin ketakutan ketika menyadari Erlan ternyata mengikutinya.

__ADS_1


Wajahnya terlihat menyeramkan. Begitu dingin tanpa senyum di wajahnya. Sementara kedua tangannya tak terlihat, karena telah dimasukkan ke dalam kantong saku jaketnya.


Tentu saja, hal buruk terlintas begitu saja di benak perempuan berparas cantik itu. Seketika ia langsung masuk ke dalam mobilnya, karena merasa takut akan perilaku aneh yang ditunjukkan oleh adik iparnya.


__ADS_2